Simpang Lima Semper, diantara Tugu Ban Bekas dan Simpang yang tak bersinyal

Persembahan untuk Bumi, yang diciptakan Tuhan dalam desain yang luar biasa. Hanya manusia tak berakal yang senantiasa mencoba untuk merusak Bumi-Nya. (Selamat Hari Bumi, 22 April 2018)

Matahari mulai tenggelam, diikuti dengan cahaya merahnya yang nampak mulai menghilang. Pada sore menjelang malam itu, di sisi kiri jalan simpang semper, Jakarta Utara, para pedagang sayur kangkung sudah mengelar dagangannya. Sayuran tersebut di jual per ikat. Pembeli mulai mendekat dan terlihat aktifitas komunikasi diantara keduanya. Gerobak sayur bekas mengangkut kangkung pun nampak berdesakan. Terlihat juga mobil pick up yang merapat siap mengangkut barang-barang. Rutinitas harian ini, telah lama menjadi saksi akan dinamisnya warga simpang lima.

Pengendara berputar melintasi Tugu Ban Bekas di Simpang Lima, Semper Jakarta

” Yang perlu menjadi bahan Intropeksi diri adalah filosofi apa yang pantas dikenakan atas kehadiran tugu ban bekas yang kini masih ada di Simpang lima, Semper. Sinyal lampu merah yang dahulu pernah ada, lagu tergantikan oleh pengatur lalu lintas jalanan asal-asalan, itu dasarnya apa?”

Disekitaran lainnya, deru mesin bis kota yang paling fenomenal (metromini_red) sedang berhenti untuk menurunkan penumpang. Bis kemudian berputar, mengelilingi ban bekas besar di pusat simpang lima, untuk melanjutkan rute selanjutnya ke Terminal Senen, Jakarta Pusat. Kepulan asap hitam yang keluar dari bis kota itu semakin membuat simpang lima ini tidak karuan. Truk trailer pun tidak mau ketingggalan, mereka berjejalan memenuhi ruang simpang lima ini. Ekor yang memanjang ditambah muatan kontainer 20 bahkan 40 feets turut serta dalam antrian Maklum, lokasi tempat parkir kendaraan panjang dan lebar tersebut tidak berada jauh dari simpang lima ini.

Jalan dua lajur, kiri dan kanan dari masing-masing penjuru saling bertemu di pusat simpang lima ini. Kapasitas jalan ini pada jam-jam tertentu sudah tidak mampu lagi menampung volume kendaraan. Jalan tersendat, menumpuk dalam antrian kemacetan pun tidak dapat dihindari. Sementara,roda perekonomian cukup menggeliat dalam mengambil alih ruang ini, namun sungguh prihatin hal tersebut tidak diikuti dengan tata kota yang mumpuni. Pembiaran, seperti tidak tersentuh oleh pemikiran dan program dari pimpinan kota ini. Mestinya, mereka yang memiliki wewenang atas mandat dari warga Jakarta bisa melihat dan merasakan langsung bagaimana tidak terurusnya simpang lima itu. Bukahkan ini ada di Jakarta?.Tapi mengapa kondisinya tidak layak disebut sebagai bagian dari Kota.

Simpang lima di beberapa kabupaten dan kota-kota besar Indonesia sudah memiliki konsep yang jelas. Kejelasan konsep itu yang patut menjadi contoh bagi Kota Jakarta khususnya di Simpang Lima Semper. Kota Semarang cukup terkenal dengan Simpang Limanya, itu yang selalu menjadi pusat kegiatan dan perekonomian warga. Keinginan warga yang berpergian ke Semarang pasti akan mencari keberadaan Simpang lima itu. Mereka senantiasa mengabadikannya dalam rekaman lensa dan ingatan.

Tata kota yang baik dan benar, bisa menjadi magnet bagi warganya untuk mengagumi kotanya. Benak warga Jakarta yang sudah sesak dengan teror kemacetan tiap saat, akan semakin kacau bila sudah tidak ada yang tertata lagi di kota ini. Simpang yang merupakan pertemuan dari kelima arah jalan harus segera dibenahi dengan sebenarnya. Ban bekas ex alat berat perlu dibuang jauh-jauh dari pusat simpang lima itu. Kabel-kabel listrik yang berkeliaran bebas kesana kemari yang tidak teratur turut membuat semrawut kondisi Simpang lima. Lampu penerangan yang tidak menyeluruh membuat redup suasana malam.

Filosofi Tugu Ban Bekas

Di Aceh, segenap pemikiran pemerintah kota, warga dan elemen masyarakatnya bersama-sama menggagas konsep simpang lima yang berkualitas. Itu dimulai dari desain tugu yang memiliki filosofi tersendiri seperti ada 5 pilar yang menjulang ke atas. Sebagian berfilosifi bahwa 5 pilar itu merupakan cerminan dari rukun iman. Pada akhirnya akhirnya kehadiran tugu filosofis tersebut telah membuat citra dari Simpang Lima menjadi lebih humanis. Mereka rela untuk hadir, walau hanya sekedar untuk berjalan disekitaran tugu ataupun menikmati nyamannya simpang lima yang telah termodifikasi dengan baik.

Gagasan lain mengenai simpang lima telah dipelajari dengan baik oleh penelitian mahasiswa-mahasiwa untuk case study di Bali, Sulawesi dan Lampung. Ketiganya dari univesitas yang berbeda-beda namun menjadi satu dalam pemikiran. Dalam penelitian tersebut, mereka meneliti mengenai masalah kemacetan yang kerap terjadi di Simpang Lima. Mulai dari, 2 jenis Simpang Lima yang perlu adanya sinyal dan tidak adanya sinyal lampu merah. Masing-masing sinyal, masih dibedakan dalam waktu-waktu jam padat kendaraan dengan yang tidak padat. Hal ini memungkinkan agar tidak terjadi penumpukan pada pusat simpang lima. Di Bali, muncul rekomendasi agar simpang bagian sisinya perlu diperluas guna mempercepat gerak kendaraan saat melintasi pusat simpang lima.

Pelajaran-pelajaran mulai dari desain tugu simpang lima di Aceh dan penelitian dari mahasiwa tentang pengaturan ruang gerak kendaraan semoga bisa menjadikan pedoman bagi pemerintah Jakarta, khususnya dalam membenahi kawasan Simpang Lima, Semper. Yang perlu menjadi bahan Intropeksi diri adalah filosofi apa yang pantas dikenakan atas kehadiran tugu ban bekas yang kini masih ada di Simpang lima, Semper. Sinyal lampu merah yang dahulu pernah ada, lagu tergantikan oleh pengatur lalu lintas jalanan asal-asalan, itu dasarnya apa?. Itulah mengapa, bila kesemrawutan itu masih dan terus berlangsung.

 

Published by

henryaja

aku hanya seorang manusia yang mencoba memaknai arti kehidupan dan memahami tentang bumi dan isinya, dan mencoba mengapresiasikan diri untuk peduli pada lingkungan.go green my earth....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s