Jakarta Menjadi Kota Ramah Anak, Kapan Ya?

“keprihatinan ini muncul karena di negara yang sudah merdeka 66th tetapi tetap terjajah oleh ketidakteraturan tata ruang kota. Mereka itu adalah anak-anak yang kehilangan ruang untuk bermain di kotanya, di tempat tinggalnya, sebagaimana mestinya”.

Atas nama anak Indonesia,

Hari 17 Bulan Agustus Tahun 2011

 

Keceriaan anak dalam ruang terbatas

Anak-anak kecil itu tersenyum, tertawa dan bercanda dengan temannya. Mereka bercanda di atas sebuah permainan anak yang disebut “odong-odong”. Entah kenapa itu disebut Odong-odong?. Yang pastinya sebutan odong-odong itu sudah melekat di benak semua orang, termasuk anak-anak. Permainan komersial ini menjadi tempat permainan anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Permainan yang ditawarkannya pun beraneka macam; ada mandi bola, mobil ayun, kincir angin mini, kuda-kudaan. Permainan ini pun dilengkapi dengan musik anak-anak. Tentu hal yang sulit ditemui lagu anak-anak di jaman sekarang, tapi di odong-odong inilah kita masih bisa mendengarkan lagu-lagu anak yang pas untuk anak-anak. Sehingga anak-anak pun bisa bernyanyi dengan lirik lagu anak yang syarat pendidikan. Yang pasti bukanlah lagu dewasa.

Pernah suatu ketika ada orang tua  memprotes kepada pemilik permainan ini (odong-odong) karena lagu yang diputar bukanlah lagu anak-anak. Orang tua anak itupun langsung meminta mengganti lagu itu dengan lagu anak-anak. Dan pemilik permainan ini pun langsung menggantikan musiknya dengan lagu anak yang sesungguhnya. Pemilik permainan ini pun melanjutkan mengayuh pedalnya agar permainan ini bisa terus bergerak. Maklum, segala jenis permainan ini digerakkan dengan pedal seperti menggowes sepeda. Sementara untuk musiknya menggunakan sumber energy dari air accu.

Permainan di atas adalah secuil gambaran bahwa di kota besar seperti Jakarta ini sudah tidak ada lagi ruang terbuka untuk bermain anak-anak. Adanya permainan komersial itu seolah menjadi pelarian atas permasalahan yang sebenarnya sedang terjadi di lingkungan Ibukota ini. Sehingga anak-anak pun sudah menjadi korban sebuah system kota tidak tertata. Semestinya anak-anak itu bermain di taman bermain yang tersedia di lingkungan tempat tinggalnya. Taman bermain inilah yang seharusnya menyediakan segala permainan untuk anak-anak mulai dari ayunan, seluncuran, dan lainnya. Namun taman bermain anak itu kini sudah tidak ada, yang ada hanyalah taman beton yang terus menyesakki ruang bermain anak. Hanya sedikit sekali kita temui taman itu, jika masih ada, kondisinya pun sangat memprihatinkan. Tak terawat dan mangkrak.Sangat naas.

Kota ramah anak

Keberadaan taman bermain anak di Ibukota ini mungkin bisa di hitung dengan jari. Padahal taman bermain anak sungguh penting bagi pertumbuhan anak di usianya. Dengan  adanya taman bermain membuat mereka bisa belajar bersosialisasi, beraktualisasi, berpikir, berimajinasi, dan menikmati masa-masa kanaknya. Lalu apa jadinya jika ruang itu sudah tidak ada lagi?. Yang mungkin terjadi yaitu anak-anak itu kehilangan kesempatan  untuk belajar dan bermain. Belajar bagaimana mengenal lingkungan, menyentuh peralatan (motorik), mengamati benda-benda, merasakan dan berpikir kreatif. Sementara itu, jika keadaan ini terus dibiarkan dan tidak ada perubahan yang lebih baik berupa taman anak. Maka sama saja kota ini telah menghilangkan anak-anak dari masa kekanaknya yang penuh dengan kecerian.

Beberapa kota/Kabupaten telah berhasil mengukuhkan dirinya sebagai kota layak anak di antaranya : Bandung, Solo, Malang, Makassar dan lainnya. Kota ini telah membuat perubahan di lingkungannya terutama perhatiannya untuk perkembangan anak. Salah satu wujud nyatanya yaitu berupa membuat taman bermain anak di setiap lingkungan RT/RW. Taman bermain ini biasanya telah dilengkapi dengan berbagai permainan anak seperti ayunan, sliding (perosotan), uji ketangkasan dan juga tempat duduk yang proporsional. Peran kota yang menginisiasi adanya permainan/taman bermain untuk anak secara tidak langsung telah membantu membentuk sebuah karakter anak yang ceria dan mandiri. Mereka bebas untuk bermain dengan anak seusianya dan mendekat dengan lingkungan fisiknya.

Sebenarnya program kota layak anak bukan berhenti sampai disini saja, namun paling tidak dengan langkah kongkrit seperti mewujudkan taman bermain anak sudah cukup membantu bagi hadirnya keceriaan anak. Daripada mereka harus bermain di jalanan, pusat perbelanjaan dan mengurung diri di dalam rumah tanpa sosialisasi dengan teman sebayanya. Dan jika anak-anak tersebut kurang sarana untuk bermain di lingkungannya mereka bisa menjadi autis, manja dan tidak peka terhadap teman dan lingkungan hidupnya. Tentunya tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya kehilangan keceriannya. Untuk itu, kota-kota yang telah berhasil menghadirkan sarana dan prasarana bermain anak patut kita apresiasi. Sebuah keberhasilan yang sangat manusiawi.Dan keberhasilan ini layak untuk di contoh oleh semua kota termasuk Ibukotanya Indonesia. Karena dengan menciptakan ruang bermain untuk anak-anak sama saja telah membantu tumbuh kembang generasi masa depan bangsa.  Salah satu caranya yaitu kemauan orang-orang tua yang kini ada di birokrat untuk secepatnya merealisasikan kota dengan cara yang benar dan kota yang benar-benar layak untuk anak.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • Mario FL  On October 19, 2011 at 9:08 am

    sebenarnya ada ruang bermain untuk anak, tetapi hanya untuk kalangan tertentu saja seperti contohnya kidzania atau trans studio, dan ini semakin memperbesar jarak kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin…..

    • henryaja  On October 19, 2011 at 4:35 pm

      nah itu dia bro,kasian anak2 di kota ini,ruang yg mnjdi haknya untuk bemain dan belajar mengenal lingkungannya telah terenggut oleh kepentingan bisnis semata..

  • Abed Saragih  On October 22, 2011 at 2:58 pm

    kunjungan dan komentar balik ya gan

    salam perkenalan dari

    http://diketik.wordpress.com

    sekalian tukaran link ya…

    semoga semuanya sahabat blogger semakin eksis dan berjaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: