Tidak ada Kepalsuan di Taman Nasional Gunung Halimun

Oleh : Henry

menjelang pagi, karawaci (17/6)

“Dingin dan kesejukannya masih terbawa hingga kini, membuat kami selalu rindu untuk berkunjung kesana,di sebuah tempat keanekaragaman hayati yang masih terjaga. Dan Hutan itulah sebagai Penyangga Kehidupan ini”

Perjalanan sore itu (11/6) di kota hujan masih terekam dalam ingatan. Kota bogor ini memang sulit untuk dilupakan, sama seperti dengan kota-kota lainya yang penuh dengan keunikannya. Meskipun transportasinya di beberapa titik jalan sudah tertular oleh kota tetangga (metropolitan) yang penuh dengan kemacetan. Namun kepenatan ini lantas hilang dalam hitungan sekian detik ketika pandangan ini tertuju pada puncak gunung-gunung yang selalu berselimut kabut (Halimun). Udara dinginya pun sudah terasa mengenai indera peraba ini. Maka tidak perlu lagi menggunakan pendingin udara saat disana, lupakanlah pendingin udara buatan (AC). Jalan yang menanjak pun terus ditelusuri untuk mencapai taman nasional gunung halimun-salak. Sementara di kanan kiri jalan terdapat pemukiman penduduk yang cukup padat. Bentuk rumah pun beradaptasi dengan topografi alam. Dengan sedikit adanya kemiringan saja. Beberapa penjual makanan pun terlihat di sepanjang jalan. Tentunya mereka lakukan sebagai  penopang  perekonomian masyarakat sekitar taman nasional gunung halimun.

Hujan yang turun sore itu, membasahi jalan-jalan dan membuat udara menjadi semakin dingin. Tapi aktifitas masyarakat masih terlihat menggeliat seakan tak pernah padam. Lalu lalang kendaraan untuk menuju taman nasional gunung halimun pun tak pernah surut. Malah semakin ramai. Beberapa rombongan para biker juga terlihat sedang menelusuri jalan meskipun hujan tak kunjung mereda. Sore pun lantas berganti malam. Butuh waktu tempuh kurang lebih 30 menit dengan jarak +/- 13 km dari daerah Ciampea Bogor untuk sampai ke taman nasional gunung halimun. Dalam waktu tempuh itu,akhirnya sampai pada gerbang penyambutan yang tertulis selamat datang di taman nasional gunung halimun Bogor. Memasuki wilayah taman nasional ini kita di sajikan pemandangan alam yang istimewa. Di seberang sebelah kanan jalan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun masih berjajar rapi. Dan dari deretan pohon-pohon sedang diselimuti kabut tebal yang turun sore itu. Pohon itu juga menjadi teman setia berbagai fauna yang hidup disana. Dan tentunya pohon-pohon itulah yang berkontribusi sebagai penyangga kehidupan.

Di Ketinggian antara 500-2000 an mdpl inilah keberadaan taman nasional gunung halimun. selain pohon-pohon hutan hujan tropis yang tumbuh disana, terdapat pula air terjun/curug yang memberikan kesegaran. Curug cihurang, jaraknya cukup dekat, dengan hanya +/- 100 meter saja kita sudah dapat menemui curug tersebut. Berbeda dengan curug lainnya yang butuh beratus meter untuk dapat mencapainya. Suara gemericik air yang beradu dengan batuan alami terus membuat suasana yang sudah malam menjadi damai. Terlebih lagi saat kita menyentuh airnya yang dingin dan bersih, tidak tercemar apapun. Pastinya sangat menyehatkan. Namun terasa miris sekali ketika melihat adanya sampah di sekitar air terjun. Padahal disana sudah di sediakan tempat sampah namun masih saja ada sampah yang dibuang sembarangan. Jika ini tidak segera di atasi dengan teguran atau sanksi maka lingkungan air terjun bisa menjadi kotor dan rusak. Tentunya  perlu kesadaran pengunjung agar benar-benar menggunakan pikirannya untuk selalu menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah asal-asalan.

Bukan Kepalsuan

Di Taman Nasional gunung halimun kita disajikan keindahan alam yang luar biasa. Mulai dari pohon hutan hujan tropis yang berderet rapi, kabut yang menebal, curug, fauna, udara dingin dan keramahan penduduk sekitar. Tidak heran jika tempat ini kini menjadi kawasan konservasi alam. Banyak peneliti yang terus menerus menggali informasi yang masih tersembunyi di balik kompleksitas alam. Semenjak kawasan gunung dikukuhkan menjadi taman nasional adalah sebuah kemajuan dalam menjaga kawasan hijau ini agar tetap terlindungi. Dan tentunya menjadi sarana pembelajar untuk menguak rahasia alam.

Kita mungkin sudah bosan dengan kepalsuan. Seperti yang di ungkapkan oleh Ketua Ikatan Ahli lingkungan Indonesia, Tasdiyanto yang berkata bahwa banyak kepalsuan di Ibukota. Lihat saja di banyak pohon yang terbuat dari plastik, Itu kan palsu. “ujarnya disaat seminar nasional  Budaya Lingkungan; Akar Masalah dan Solusi Krisis Lingkungan di acara Pekan Lingkungan Indonesia, di Parkit Senayan (2/6). Tadiyanto juga memaparkan bahwa Ibokota ini kota masker,dimana-dimana orang yang berpergian keluar harus menggunakan masker. Disamping itu sungainya pun sudah berwarna hijau kehitaman. Tasdiyanto yang juga penulis buku Eco Culture mengatakan bahwa budaya lingkungan adalah hasil cipta manusia yang secara ajeg di dalam lingkungan tempat tinggal manusia. Menurutnya ada 4 indikator budaya lingkungan yaitu memperbaiki, melestarikan, merusak dan mengabaikan. Dari penelitiannya di Jogjakarta dengan menggunakan variable tersebut ia memperoleh hipotesis bahwa masyarakat urban dengan pendidikan tinggi cenderung memperbaiki/pro lingkungan . Dan untuk masyarakat tradisi cenderung untuk melestarikan lingkungan. Sementara masyarakat pendidikan yang rendah mengabaikan/membiarkan bahkan merusak lingkungan.

Pembicara seminar lainnya, Prabang (IALHI) dari dosen ilmu lingkungan UNS juga memaparkan tentang environmental insight question (EIQ), menurutnya EIQ artinya bahwa semua orang harus memiliki kecerdasan mendalam (tilikan) terhadap lingkungannya. Ini dimaksudkan agar segala pekerjaan di lingkungan apapun dapat tuntas tanpa meninggalkan “limbah”. Oleh karenanya seorang pemimpin negeri ini selain harus memiliki IQ , EQ, SQ yang tinggi juga harus punya EIQ. Dengan dimilikinya 4 kecerdasan tersebut maka seorang pemimpin  mampu berbuat yang terbaik atas tanggungjawabnya dan kepedulian terhadap lingkungan yang berkelanjutan.

Yang menarik lagi adalah pembicara Dharhamsyah dari kementerian lingkungan hidup yang memaparkan tentang Eco Smart. Menurutnya banyak kesalahan dalam mengelola tata kota ibukota Indonesia ini. Lebih lanjut ia mengatakan Jalan tol terus menerus dibangun dengan menghabiskan ruang dan lahan-lahan dalam istilah lain jalan makan lahan. Padahal konsep ini seharusnya di balik, lahan makan jalan seperti yang terjadi di korea selatan, bahwa lahan/sungai yang telah berubah menjadi jalan tol kemudian dikembalikan seperti semula. Sungai itu di hadirkan kembali di tengah-tengah kota. Terkait tentang jalan Tol ternyata memiliki arti TOL (tetep ora lancer) dan JORR (Jalane Ora rampung-rampung) ujar prabang. Oleh karena itu, sesungguhnya kita harus keluar dari kepalsuan dan kelalaian menuju kehidupan yang berkelanjutan untuk anak dan cucu kita. Hutan sebenar-benarnya adalah penyanggah kehidupan.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: