Angkringan Sego Kucing di Jabotabek

Batavia, 18 Mei 2011

Tempat yang tidak hanya menyajikan kehangatan semu tapi benar-benar membekas dalam memori yang panjang. Dan dari kesederhanaan, keakraban, keistimewaan ini yang terus melahirkan komunitas-komunitas yang berkualitas dan bernas.

Oleh:  Henry

Mendengar kata angkringan/Hik membuat memori kita langsung tertuju pada kota Gudeg (Jogja) dan kota Budaya (Solo). Di kota itulah awal mula keberadaan Angkringan/Hik yang sangat dikagumi oleh seluruh kalangan mulai bawah, menengah  hingga atas. Benar-benar egaliter menyatu tanpa ada pembedaan strata/golongan. Mereka berkumpul, beracengkrama, berdiskusi sambil menikmati berbagai macam olahan pangan hingga larut malam. Ini yang membuat angkringan tidak saja menjadi tempat pengisi perut tetapi juga pengisi ide-ide. Sehingga tak jarang, dari angkringan/Hik ini seringkali bermunculan ide-ide segar. Seperti halnya bermunculan komunitas blogger (http://www.angkringan.co.id) yang bernama angkringan dan radio komunitas Jogja (http://www.angkringan.web.id) yang juga mengambil nama angkringan. Mereka para komunitas ini telah kepincut dengan angkringan yang memiliki filosofi humanis.  Dan pastinya komunitas itu terbentuk akibat seringnya mereka kongkow bersama di Angkringan. Telebih lagi, masih banyak lagi komunitas yang muncul dari sering kongkow di angkringan. Di Jogja warung ini di sebut angkringan yang berarti duduk santai sembari menikmati sego kucing beserta lauknya yang beraneka ragam (sate usus, tempe bacem, tahu bacem, bakwan, sate koyor, sate telur puyuh, sate ceker dll. Di Solo lebih di kenal dengan sebutan Hik yang berarti hidangan istimewa ala kampung ada juga yang menyebutnya hidangan istimewa ala kota (versi saya dan kawan2). Dari namanya memang berbeda, namun tidak ada perbedaan dari sisi panganannya dan suasananya. Benar-benar istimewa.

Angkringan/Hik bukan warung biasa, karena mampu memunculkan suasana dan keakrabannya yang tak tergantikan dengan jajanan apapun. Ciri khas angkringan terletak pada tenda yang dibuka menutup bagian belakang gerobaknya beserta tikar yang di gelar terbentang untuk duduk lesehan. Begitu juga dengan tungku air yang dimasak dengan arang, terkadang tercium aroma jahe gepuk yang keluar dari tungku tersebut. Itulah sebagian ciri-ciri angkringan yang sederhana. Paling enak makan dan minum sembari duduk lesehan dengan meja kecil (kadang tidak ada). Lebih enak lagi jika makan berada di alun-alun kota atau di tengah kota Solo-Jl. Slamet Riyadi, di Boulevard  UNS bahkan di Malioboro-nya Jogjakarta. Mantab.

 

Di Jabotabek

Lagu bengawan Solo, riwayatmu kini…….malam itu (Sabtu, 14/5/2011) terdengar di angkringan daerah Pramuka, Jakarta. Lagu itu dinyanyikan secara bersama-sama oleh pembeli yang sedang kongkow di angkringan itu. Mereka tampak menikmati suasana di sana, seperti rindu dengan kampung halamannya. Namun kerinduan itu sedikit terobati dengan keberadaan angkringan di Jakarta. Mereka itu adalah komunitas motor FBI Jakarta. Terlihat deretan motornya yang di parkir berjajar di pinggiran jalan. Sementara mereka duduk merapat dengan gerobak angkringan sembari menikmati makanan dan minuman. Wedang jahe dan sego kucing menjadi menu khas yang pasti ada di antara menu lainnya. Hujan sempat turun membasahi Jakarta malam itu,tapi  menjadi hangat ketika menikmati wedang jahe plus susu di tambah sego kucingnya. Dan lebih hangat lagi karena sembari duduk lesehan dan bercengkrama dari yang obrolan ringan hingga serius. Terangnya lampu jalan di sebrang sana pun memberi kehangatan suasana malam. Hilir mudik kendaraan malam itu lebih tenang, tidak seperti di siang hari.

Keberadaan angkringan/Hik tidak hanya bermunculan di Jakarta, tetapi juga sudah bertebaran di Bekasi, Tangerang dan Bogor. Di tangerang angkringan ini berada di daerah karawaci. Hampir di setiap jalan di kawasan itu ada angkringan. Seperti di kota asalnya, angkringan di sini pun selalu buka sore hari hingga dini hari. Menunya pun selalu sama ada sego kucing dan wedang jahe. Musisi jalanan pun sering kali datang memberikan hiburan. Sementara  itu angkringan yang lain berada di kota hujan ada di daerah gunung putri dan bekasi ada di daerah tambun. Tentunya keberadaan angkringan/Hik ini telah banyak sekali mengisi ruang rindu bagi yang pernah merasakan angkringan/hik di kota asalnya (seperti saya). Kami rindu untuk kembali ber-kongkow-kongkow di angkringan/hik bersama kawan-kawan. Bercerita, tertawa dan berkonsep bersama di sebuah tempat sederhana tapi istimewa. Tempat bersenda gurau hingga tempat brandstorming. Tempat yang tidak hanya menyajikan kehangatan semu tapi benar-benar membekas dalam memori yang panjang. Dan dari kesederhanaan, keakraban, keistimewaan ini yang terus melahirkan komunitas-komunitas yang berkualitas dan bernas.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: