Jalur Sepeda di Jakarta, kapan?

Jalur Khusus Sepeda di Karawaci, Tangerang (foto: Antara/ Lucky R)

Mereka sudah membuat jejak-jejak sepeda di jalan-jalan ibukota, demi terwujudnya sebuah mimpi akan terealisasinya jalur khusus sepeda di Jakarta. Dari sepeda untuk kota yang lebih maju dan terarah.

Oleh : Henry

Karawaci, 28/2/2011

Beberapa kota besar di dunia sudah merealisasikan jalur sepeda di tengah kota bahkan hingga pinggirian kota. Sebut saja Buenos aries, Argentina, salah satu alasan pemerintah setempat yang dengan cepat merealisasikan langkah konkret. Karena mereka peduli dengan kota dan manusia yang ada di dalamnya. Alasan yang sangat cerdas dan sangat manusiawi (bukan mekanis). Dan yang pasti ini semua sudah terealisasi di negara-negara maju.  Hal inilah yang tidak kita temukan di negara Indonesia, lihat dan perhatikanlah jalan-jalan protocol kota besar tak satupun yang menyediakan jalur sepeda. Yang ada hanya jalur untuk kendaraan robot yang memakan ruang publik. Public yang seharusnya memiliki hak akan jalan itu sendiri,ternyata harus mengalah untuk robot. Sungguh kasihan sekali dengan keadaan ini. Toh, sebenarnya jalan raya ataupun jalan lainnya memiliki fungsi umum,yang artinya diperuntukan untuk sebenar-benarnya kebutuhan public, bukan malah sebaliknya.

Jalan-jalan itu ternyata sudah tidak berjalan sesuai arti dan fungsinya. Kita bisa melihat lagi, betapa banyak jalan raya yang kini berubah menjadi tempat parkir kendaraan. Mereka parkir tanpa peduli dengan aturan. Padahal sudah jelas di situ pun ada rambu-rambu lalu lintas yang melarang untuk parkir (P coret). Tapi itulah kenyataan yang terjadi di kota besar. Mungkin benar ada ungkapan bahwa peraturan dibuat hanya untuk dilanggar, dan anehnya yang melanggar aturan itu adalah yang membuatnya. Bila ini yang terus terjadi, maka jangan salahkan kemacetan, polusi dan kekacauan lainnya. Aturan yang nyatanya berlaku tidak pernah dianggap.

Beberapa program pemerintah yang dicanangkan terkait tata kota tidak satupun yang menyentuh mengenai adanya jalur khusus sepeda. Padahal ini merupakan hak setiap warga yang seharusnya diprioritaskan. Tengoklah dan pahamilah,bahwa warga masyarakat sudah lebih peduli akan lingkungan dan kesehatannya. Kini banyak warga yang gemar untuk bersepeda ke sekolah, kantor, kampus bahkan ke tempat hiburan sekalipun. Mereka tentunya sudah paham bahwa kota ini perlu perubahan yang realistis sesuai dengan kondisi jaman. Dan dengan cara inilah yang terbaik yang mereka putuskan. Namun, apakah langkah konkret yang telah dilakukan oleh warga ini diperhatikan oleh pemerintahnya?.jawabannya adalah NIL. Yang ada hanya waktu tertentu yang diberikan untuk warganya dalam menikmati jalan raya untuk bersepeda, dan hari itu yang sering kita dengar dengan hari bebas kendaraan bermotor (car free day).

Jalur sepeda!

Di ruas jalan di Jakarta pada malam hari sering kali terlihat para warga yang bersepeda. Mereka tampak beriringan dengan sepeda yang unik dan beragam. Mereka melintasi jalur bus transjakarta yang pada malam itu sudah tidak beroperasi. Terdapat kedipan lampu yang dipasang disepedanya di bagian depan. Terangnya lampu itu tidak mampu untuk menerangi jalan yang semakin gelap. Tapi inilah cara yang mereka lakukan agar terlihat dari kejauhan sebagai signal keberadaannya di perjalanan. Warna rangka sepeda terlihat mencolok dan rodanya pun demikian. Keberadaan mereka di malam hari dengan melintasi jalan-jalan protocol Jakarta merupakan sebuah protes yang tidak terungkap. Ini terjadi karena mereka tidak bisa melakukan itu di siang hari, dimana tidak ada lagi sisa ruang jalan sedikitpun yang dapat di lewati untuk bersepeda. Semuanya sudah tertutup rapat kendaraan lainnya.

Malam pun terus larut, namun jalan-jalan di Jakarta ini tidak pernah berubah. Masih sama dengan sebelumnya dan sebelumnya. Tapi semangat para pesepeda di malam itu tidak mengaburkan mimpinya untuk terus meninggalkan jejak terciptanya jalur sepeda di kota. Karenanya mereka tidak ingin kotanya hanya menjadi korban kekacauan system yang tak terarah. Mereka adalah para generasi mendatang yang sudah berbuat dengan caranya untuk kota. Generasi yang sudah mengerti akan perlunya perubahan untuk kehidupan kota yang lebih layak huni. Mereka tidak sendiri tapi sudah berkoloni di dalam komunitas para sepeda, sepeda lipat, sepeda onthel, sepeda tinggi, Bike to work.

Sebenarnya bukan hal sulit untuk mewujudkan jalur sepeda di Jakarta. Tidak akan ada yang pernah melarang keberadaannya, malah banyak yang mendukung. Lihat saja, antusias warga Jakarta di car free day dan bermunculannya komunitas sepeda. Mereka tampak menikmati dengan kondisi kota Jakarta yang seperti itu. tak ada raja jalanan disana. Semua sama, berbaur, berkreasi dan sehat. Maka bukan alasan lagi untuk menunda-nunda terciptanya jalur sepeda di Jakarta. Contoh kota mandiri yang sudah memiliki jalur sepeda yaitu Karawaci, Tangerang. Jalur khusus pesepeda dibuat sepanjang kota. Terlebih lagi suasana sepanjang jalur sepeda cukup teduh. Hak untuk bersepeda sudah direalisasikan di kota ini, kini bagaimana dengan kota Jakarta?mampukah?Berbuatlah.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: