TIWUL SEBUAH PANGAN ALTERNATIF

(diversifikasi pangan telah dimulai sejak dulu kala)

Oleh    : henry ryu

Solo, 16 September 2010

Belum lama ini produksi pangan di wilayah kita banyak yang mengalami gagal panen. Salah satu faktor penyebabnya yaitu serangan hama wereng secara sporadis pada tanaman padi. Padahal usia tanaman padi yang terserang wereng sudah mendekati masa panen raya. Namun serangan wereng ini telah menghancurkan harapan petani yang setelah sekian lama menunggu memanen hasilnya. Gagal panen (puso) inilah yang membuat ketersediaan pangan kita menjadi berkurang. Wilayah yang gagal panen ini cukup luas yaitu di berbagai daerah jawa tengah, jawa timur dan sebagian jawa barat.

Gagal panen ini sesungguhnya tidak hanya menjadi keprihatinan bagi petani meskipun pihak petani yang paling merasakan langsung efeknya. Mereka merugi, karena ongkos produksi pertaniannya hilang dan tidak tergantikan. Di saat inilah kondisi dimana resiko usahatani yang datang kapanpun tanpa pernah bisa di prediksi sebelumnya. Pranata mongso yang sebelumnya menjadi indikator mereka dalam bertani, kini sudah tidak ampuh lagi. Perubahan kondisi lingkungan telah mempengaruhi perubahan budaya masyarakat dalam bertani (kearifan lokal). Kini yang mereka lakukan hanya bisa menerima resiko gagal panen. Bagi petani lain, mereka tetap mengolah lahan pertaniannya dengan komoditas lain (selain padi) seperti palawija. Hal ini mereka lakukan untuk menutup kerugian akibat gagal panen dan ini juga sesuai dengan rekomendasi dari berbagai pihak agar membudidayakan komoditas selain padi.

Di lain pihak, gagal panen ini merupakan keprihatinan bersama seluruh masyarakat sebab selama ini semua orang bergantung pada beras. Beras menjadi konsumsi pokok seluruh masyarakat kita. Hingga ada yang mengatakan bahwa “tidak berasa makan, sebelum makan nasi”. Faktor ini yang mempengaruhi permintaan beras tidak akan pernah berkurang. Meskipun pada realitasnya ketersediaan beras semakin menepis untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat. Dan seringkali untuk menutup ketersediaan ini dilakukan kebijakan impor beras. Pemerintah membeli beras dari petani negara lain dengan harga yang lebih murah demi memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hasilnya stok beras nasional menjadi tercukupi. Cara ini berhasil untuk membuat kebutuhan permintaan menjadi terpenuhi. Namun bukankah tindakan ini mirip dengan prinsip kejar setoran!. Hal ini keliru karena terburu-buru dalam mengambil keputusan tanpa memikirkan efek sampingannya. Efek samping itu berupa ketergantungan pengan dengan negara lain sehingga terlupa untuk memikirkan nasib produsen pangan dalam negeri sendiri.

Kegagalan panen yang berdampak pada berkurangnya stok pangan nasional harusnya menjadi pembelajaran negeri ini. Jangan lantas, mengambil jalan pintas seperti kejar setoran. Kerawanan pangan tidak akan pernah berakhir sampai kapan pun jika selalu saja menggunakan metode konvensional seperti ini. Cara konvensional (impor beras), boleh dilakukan jika kondisi benar kritis seperti akibat bencana alam berupa banjir, gemap bumi, tanah longsor, badai dan lainnya. Seperti bencana banjir yang terjadi belum lama ini di Cina dan Pakistan dimana fasilitas dan produksi pertanian hancur seketika. Di sinilah kebutuhan untuk import beras diperlukan dan sangat mendesak agar korban bencana tidak kelaparan. Skala prioritas pada kondisi ini benar-benar tepat dan harus cepat.

Tiwul di Meja Makan

Gagal panen menjadi pembelajaran bersama untuk mencari solusi yang terbaik untuk semua. Pangan menjadi kebutuhan mutlak bagi semua orang untuk konsumsi sehari-hari. Hanya saja pangan yang selama ini dikonsumsi oleh masyakarat hanya beras. Tentu saja jika gagal panen padi menjadi berpengaruh pada seluruh lapisan masyarakat. Terkait mengenai konsumsi beras di Indonesia dari data (www.mediaindonesia.com) bahwa Indonesia menduduki peringkat teratas dibandingkan dengan negara asia yang makanan pokoknya beras. Lihat saja jumlah konsumsi beras Indonesia di level 139,15 kg/kapita/tahun. Thailand 70 kg/kapita/tahun, Malaysia 80 kg/kapita/tahun, dan Jepang 60 kg/kapita/tahun.

Tingginya angka konsumsi beras di Indonesia mengakibatkan masyarakat terus-menerus ketergantungan hanya pada jenis tertentu saja. Padahal yang namanya pangan tidak hanya berupa beras saja. Yang dimaksud pangan terdiri dari jenis umbi-umbian seperti jagung, singkong, sagu, ubi jalar, talas, jali, garut, gayong dan jenis kacang-kacangan. Dengan mengenal secara keseluruhan (holistik) jenis pangan yang beragam bisa menjadi alternatif pengganti beras. Konsumsi pangan alternatif ini telah lama di kenalkan oleh nenek moyang kita sejak dahulu yang kita kenal dengan tiwul. Tiwul merupakan makanan yang terbuat dari singkong yang kemudian diolah dengan cara digiling halus, dikeringkan dan dimasak. Mungkin sekarang sudah jarang orang yang membuat tiwul namun tidak bagi sebagian wilayah lain seperti gunung kidul. Mereka masih mengkonsumsi jenis pangan tiwul ini, hal ini bukan karena disana kekurangan beras, akan tetapi inilah yang menjadi jenis makanan pokok masyarakat gunung kidul hinggasekarang. Begitu juga dengan masyarakat papua, mereka tidak mengkonsumsi beras bukan karena tidak ada beras, tapi mereka lebih memilih sagu untuk makanan pokok sehari-hari.

Dalam hal ini keragaman makanan (diversifikasi pangan) oleh Khomsan (2006) bahwa konsumsi pangan yang beragam akan meningkatkan kelengkapan asupan zat gizi karena kekurangan zat gizi dari satu jenis pangan akan dilengkapi dari pangan lainnya. Hal ini tentunya menjadi sebuah solusi jangka panjangdalam  rangka mengurangi ketergantungan dari zat gizi yang berasal dari beras. Tentunya jika seluruh elemen masyarakat telah mengubah pola konsumsi dari  beras menuju pangan alternatif maka tidak perlu lagi ada impor beras. Bukankah pangan altenatif tersebut (tiwul,sagu dll) adalah jenis makanan yang dulunya pernah kita rasakan bersama di meja makan. Mari kita merasakan tiwul hasil kearifan lokal yang masih relevan untuk masa kini dan masa yang akan datang.  Lupakan beras!, begitu juga ganti kebijakan beras miskin (raskin) menjadi pangan alternatif untuk rakyat miskin (paralkin). Dengan demikian kita bisa menepis peringatan yang di cetuskan oleh organisasi pangan dunia (FAO) mengenai pola konsumsi pada makanan serangam (hanya beras) akan mengakibatkan negara mengalami deklinasi dan krisis pangan pun mudah terjadi. Karenanya kita kini sudah makan tiwul bersama di atas meja makan.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: