PARADOKSAL JEJARING SOSIAL

“Privasi Adalah Harga Mati”

Oleh : Henry [ryu]

Solo, 21 Agustus 2010

Era jejaring sosial pertama kali booming yaitu friendster. Kehadiran friendster cukup menyedot pengguna internet untuk ikut menjadi bagian media jejaring sosial ini. Friendster popular sejak tahun 2000-an. Fungsi yang ditawarkan media jejaring sosial ini sangat membantu sebagai penghubung sosial dengan sesama anggota mulai dari berbagi profil, foto, dan kirim pesan. Namun, kehadiran jejaring sosial ini tidak berlangsung lama dikarenakan muncul pesaing yang lebih familiar dan lebih inovatif. Media jejaring ini yaitu facebook yang di buat oleh pemuda yang bernama Mark Zuckerberg. Awalnya ia hanya membuat situs jejaring ini untuk kalangan komunitas sendiri yang ada di kalangan kampusnya. Melihat animo pengguna facebook yang cukup tinggi, selanjutnya Mark mencoba memperbaiki system ini untuk di publikasikan ke seluruh dunia. Hasilnya adalah pengguna internet sebagian besar bergabung di jejaring ini.

Perangkat lunak yang diciptakan mark dan kawan-kawannya kini telah menjadi bagian dari gaya hidup pengguna oline di seluruh dunia. Ia merancang ini sejak tahun 2004, dan booming di tahun 2008 hingga saat ini. Berdasarkan infromarsi di media-media bahwa pada tahun 2010 pengguna facebook berkisar 500 juta di seluruh dunia. Data ini belum lama di rilis di situs pribadi Mark Zuckerberg yang mengatakan bahwa ia ingin mencapai target hingga 1 miliar pengguna facebook agar bisa setara dengan google. Ambisi ini dimungkinkan akan segera terjadi, terlebih lagi layanan jejaring ini mudah di akses dengan perangkat elektronik berupa handphone dan memiliki layanan multibahasa yang negara di dunia. Kemudahan untuk menjadi anggota jejaring ini pun sangat memungkinkan untuk mencapai ambisi itu.

Kesuksesan faceboook telah membuat munculnya jejaring sosial yang lain, seperti tweeter, linkedlin, ning, dll. Jejaring itu semuanya menawarkan kemudahan dalam menghubungkan sesama pengguna. Pengguna yang telah terdaftar di jejaring sosial ini akan bisa bertemu dengan rekan-rekan lama dan bahkan rekan baru sekalipun. Untuk bertemu dengan rekan yang baru adalah hal yang biasa, namun dengan adanya kemudahan akses untuk berkenalan dengan rekan baru menjadi suatu yang istimewa. Pengguna yang awalnya tidak mengenal profil pengguna lain menjadi bisa kenal hanya hitungan detik saja. Lebih jauh lagi, mereka bisa saling bertukar informasi mengenai data-data pribadi yang telah di tulis di jejaring tersebut.

Kehadiran jejaring sosial ini telah mengubah dunia menjadi tak berbatas. Dunia menjadi datar tanpa batas, begitu kata berbagai pengamat media. Pengguna jejaring sosial yang tinggal di manapun bisa berjumpa dalam jejaring ini. Mereka tidak lagi mengenal batas, bahkan telah menembus batas teritorial negara. Hal ini menjadi sebuah fenomena baru di dunia dengan teknologi yang semakin maju. Informasi apapun yang sudah masuk dalam media jejaring online ini bisa langsung di akses oleh siapapun dan dimanapun. Tidak lagi mengenal batas usia, baik muda, tua dan yang anak-anak pun bisa mengaksesnya. Bahkan saat ini, anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) pun sudah menjadi bagian dari jejaring ini.

Paradoksal

Dunia internet selalu membawa kemudahan dalam segala hal termasuk dalam berbagi informasi yang terbaru (up todate). Orang bisa mendapatkan informasi apapun yang mereka cari. Dalam hal ini situs jejaring sosial mampu memberikan informasi pribadi orang yang telah tergabung di dalamnya. Mereka dapat mengakses informasi tersebut dengan mudah. Informasi itu dapat berupa profil pribadi, entah email, nomor telepon, alamat rumah, bahkan foto-foto. Mungkin bagi pengguna jejaring sosial, informasi pribadi yang di publikasikan tidak akan berdampak negatif. Namun hal itu adalah keliru, pengguna yang memberikan data/informasi pribadinya di internet khususnya di jejaring  sosial perlu hati-hati. Mengapa harus hati-hati?. Sikap hati-hati ini lebih mengarah pada tindakan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan data/informasi. Dengan kata lain, lebih sikap hati-hati adalah awal dari kewaspadaan. Hal ini sebagai tindakan preventif yang efektif dalam menunjang program internet sehat. Orang sering mengatikan internet sehat hanya dalam arti sempit, yaitu tidak mengakses situs-situs yang mengandung unsur porno. Akan tetapi, maksud dari internet sehat bukan hanya itu saja, melainkan juga berarti sikap waspada/hati-hati dalam menggunakan berbagai situs dan jejaring sosial.

Beberapa waktu yang lalu seorang analis keamanan dari skull security, Ron Bowes mengungkapkan bahwa banyak data pribadi user jejaring sosial facebook yang diduga bocor atau tersebar di internet. Ia berhasil mengungkap bahwa kurang lebih 100 juta pengguna facebook telah membuka data pribadinya secara detail, sehingga informasi mengenai pribadi pengguna bisa diketahui oleh semua orang di dunia maya. Lalu apa yang akan terjadi jika data privasi pengguna jejaring tersebut dapat di akses oleh siapa saja?. Ron sesungguhnya telah memberikan kita WARNING dalam berinternet karena telah banyak kejahatan yang terjadi di dunia maya atau cybercrime. Contohnya yaitu banyak account pengguna facebook yang terkena serangan hacker. Dari peristiwa itu seharusnya kita bisa mengambil pelajaran bahwa banyak kemungkinan yang akan terjadi di luar kehendak kita dalam berinternet. Kita harus waspada dan menjaga data privasi kita dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, kita sama-sama menyebut bahwa “Privasi adalah harga mati”.

Sumber gambar: hxxp://edittag.typepad.com dan hxxp://sharkofagus.com

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: