BUNGA-BUNGA MUDA KREATIF DI GEDUNG KESENIAN SOLO

“Bunga-bunga muda yang bertaburan itu kian mewangi mengisi sisa-sisa sudut ruang gedung bersejarah kota Solo”

Oleh : Henry (ryu)

Solo, 2 Agustus 2010


Malam yang gelap, bahkan pekat, hanya suara kodok yang terdengar di danau itu. Air di danau itupun terlihat tenang yang di sekelilingnya di teduhi oleh pohon yang berusia puluhan tahun. Bangunan di sekitarnya pun usianya tidak jauh dari pohon-pohon itu. Suasananya sungguh sepi, gedung, pohon dan kodok lintas generasi masih tetap eksis di jaman ini. Udara dinginnya malam pun mencoba menggugurkan daun dari pohon yang masih berusaha untuk memberi keteduhan. Terlihat jalan-jalan yang aspalnya telah terkelupas, seperti terluka. Pagar-pagar dan gapura dengan tulisan yang telah termakan usia masih melekat cukup kuat.

Namun tidak bagi mereka anak-anak muda yang kreatif dan penuh dengan semangat cinta budaya. Mereka yang sebagian besar anak muda sedang berusaha untuk menghidupkan kembali pekatnya malam dengan karya. Mungkin bagi usia yang lainnya, malam itu menjadi penghantar tidur hingga terlelap dalam buaian mimpi saja. Akan tetapi bagi anak-anak muda kreatif, malam itu menjadi inspirasi untuk berkarya. Mereka kini berada di sebuah bangunan tua yang lama telah mati suri. Bangunan itu adalah gedung Solo Theater yang kini sebagai Gedung Kesenian Solo (GKS). Mereka perlahan tapi pasti sedang berusaha mengembalikan geliat kehidupan masa lalu Solo di gedung ini. Karena mereka tahu bahwa dulunya gedung ini memiliki sejarah yang bernilai bagi kota dan warga Solo. Oleh karena itu, anak2 muda itu ingin sejarah itu terulang di masa kini. Mereka tidak ingin terlelap dalam jaman kelupaan.

Malam itu, Sabtu (31/7) anak-anak muda itu menggelar pameran lukisan dengan tema Langkah awal di Gedung Kesenian Solo. Pameran lukisan itu karya seniman muda Chomsa yahya. Menurut Chomsa pameran tunggal lukisan ini merupakan pameran tunggal pertamanya di Solo. Lukisan Chomsa termasuk karya lukis realis berupa landscape dan kondisi sosial. Dari seluruh karya lukisannya terlihat tasbih, Ia mengakui karyanya terinspirasi dari tempat kelahirannya di Ponorogo, tempat yang kuat dengan islam dan tradisi di masyarakatnya. Ada lukisannya yang berjudul “hanya tinggal doa dan taburan bunga” dengan gambar kuburan dan bunga-bunga yang bertaburan diatasnya. “lukisan ini terinspirasi dari dea saya, dimana disana ada tradisi nyekar (jiarah kubur), dengan taburan bunga dan doa yang bisa di panjatkan untuk yang meninggal, bunga itu memberi aroma wangi, seperti di jaman Rasulullah SAW, ketika ada yang meninggal dan dari kuburannya mengeluarkan aroma wangi, untuk di jaman sekarang maksud taburan bunga itu untuk mengingatkan bahwa wangi2an itu untuk menggambarkan kondisi masa lalu, ujar Chomsa yang pernah aktif di mapala (Garba Wirabuana) UNS Solo.

“Bangunan itu adalah Gedung Solo Theater yang kini sebagai Gedung Kesenian Solo. Mereka perlahan tapi pasti sedang berusaha mengembalikan geliat kehidupan masa lalu solo di gedung ini. Karena mereka tahu bahwa dulunya gedung ini memiliki sejarah yang bernilai bagi kota dan warga Solo”

Taburan bunga itu tidak hanya di lukisan karya Chomsa, di sepanjang jalan menuju lukisan itu, tergelar karpet merah yang di taburi bunga-bunga yang mewangi beserta dupa. Pengunjung yang ingin melihat lukisan itu mencoba mendekat dengan melintasi karpet merah. Pengunjung yang datang pada malam itu pun sebagian besar kalangan muda. Pameran lukisan ini sudah sekian kali diadakan di Gedung kesenian Solo. Menurut Joko selaku panitia acara  mengatakan bahwa selain pameran lukisan juga ada pemutaran film, fotografi dan sebagainya. “Kami membuka ruang bagi anak muda untuk mengadakan pameran di Gedung Kesenian ini, apapun jenisnya, film, fotografi, senirupa, tato dll, kami persilakan untuk pameran di sini”, kata joko yang juga aktif di Matakaca Solo. Ia menginginkan anak muda untuk berpartisipasi untuk bersama-sama membangun komunitas visual di Solo seperti seni rupa, fotografi, film dan lain-lain

Bioskop Solo

Gedung bioskop di Solo pertama kali bermunculan tahun 1980. Pada tahun itu kurang lebih ada belasan bioskop yang bermunculan di Solo. Menurut Heri priyatmoko dalam blog kabut institute (2009) menyebutkan  bioskop yang pernah ada di kota solo yaitu Bioskop Star di Widuran, Dhady Theatre dan Ura Patria Theatre di Pasar Pon, Galaxy Theatre di jalan Perintis Kemerdekaan (Purwosari), Solo Theatre di Sriwedari, Nusukan Theatre di Nusukan, Regent Theatre di Jalan Veteran, Golden Theatre di Wingko, Bioskop Trisakti, President Theatre, Rama Theatre (Barat Panggung Jebres), serta Bioskop Kartika di Beteng. Kini bioskop-bioskop itu sudah menghilang di tengah-tengah jaman yang terus berganti. Bangunan bioskop itu sudah beralih fungsi menjadi bangunan lain.

Dari sekian gedung bioskop yang ada di Solo, tinggal gedung bioskop Solo theater di Sriwedari yang masih ada hingga kini dan belum beralih fungsi. Namun gedung itu sudah mati suri cukup lama, tapi saat ini ada semangat anak muda Solo yang mencoba menghidupkan kembali Gedung Solo theater itu. Fungsi gedung ini pun tidak banyak berubah, anak muda itu yang tergabung dalam berbagai komunitas film, fotografi, senirupa dan lainnya telah bergeliat. Geliat itu berupa pemutar film indie yang di gelar beberapa waktu lalu di gedung solo theater yang kini menjadi gedung kesenian Solo. Menurut Joko, hampir tiap minggu, mulai bulan maret 2010 hingga sekarang, selalu ada kegiatan di gedung ini, seperti pameran foto, pemutaran film dan  yang sekarang pameran lukisan. Mereka ingin gedung bersejarah ini menjadi barometer anak muda dalam berkreasi mencipta karya bukan hanya sebagai penonton saja.

“Yoyo, selaku penggagas komunitas di gedung kesenia Solo mengatakan bahwa kami ingin Solo memiliki ruang bersama untuk seni anak muda, dari yang pemula hingga yang professional”

Hanya saja, bunga-bunga yang mulai mewangi ini harus menghadapi sebuah kenyataan yang cukup getir. Rumah baru ini rencananya akan di bongkar oleh pihak pemerintah. Entah ingin dibangun apa?. Hal ini masih di tanggapi dingin oleh komunitas seniman muda itu. Mereka merasa pasrah, rumah barunya mau di apakan saja, namun semangat kita untuk berkarya untuk Solo tidak akan pernah menyerah. Disamping itu mereka juga mengucapkan terimakasih atas ruang yang diberikan oleh pemerintah untuknya. Mereka dengan swadaya merapikan rumah ini agar bisa layak digunakan. Gedung Kesenian Solo ini memiliki 4 ruang, untuk saat ini baru 1 ruang yang di pakai untuk pagelaran acara pameran dan nonton film indie. Di dalam ruang terlihat karpet merah yang tergelar dan layar putih yang cukup lebar. Di sisi kanan dan kiri dinding terlihat bekas sound saat bioskop ini aktif, namun kini sudah tidak ada. Lampu memanjang yang digunakan untuk penerang di pasang dekat dengan bekas sound. Menurut Joko, alat-alat yang ada di ruang ini semua milik teman-teman. Ada yang pinjam dan untuk yang screen (layar putih) di kasih dari teman yang memiliki percetakan.

Disamping itu, mereka juga sedang mempersiapkan ruang lainnya agar bisa digunakan untuk berbagai kegiatan, mereka membersihkan ruang itu bersama-sama. Yoyo, selaku penggagas komunitas di gedung kesenia Solo mengatakan bahwa kami ingin Solo memiliki ruang bersama untuk seni anak muda, dari yang pemula hingga yang professional. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa solo memiliki banyak potensi seniman muda yang berbakat dalam hal senirupa, film, fotografi dan lainnya namun selama ini mereka belum punya ruang untuk berkreasi. Cukup banyak harapan dari komunitas di Gedung Kesenian Solo ini untuk membawa Solo sebagai kota yang kreatif. Kota yang berbudaya. Kota yang dinamis. Kota yang tidak pernah tertidur. Namun realitas mengenai rumah mereka yang akan di bongkar ini sudah di depan mata, entah mau di bangun apalagi di gedung bersejarah ini? Haruskah “bunga-bunga muda” yang mewangi itu  terkubur bersama dengan rumahnya. Harapannya adalah, semoga bunga-bunga itu masih memiliki kesempatan untuk memberikan wangi yang semerbak di ruang-ruang gedung dan di hati seluruh warga Solo yang kreatif dan berbudaya.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • hendromasto  On August 25, 2010 at 2:47 am

    ”Gedung bioskop di Solo pertama kali bermunculan tahun 1980. Pada tahun itu kurang lebih ada belasan bioskop yang bermunculan di Solo”.

    sepertinya ini tidak tepat mas. jauh sebelum paruh 80-an, solo sudah marak dengan bioskop. ada tontonan gambar diem di kebon raja (lalu jadi solo thetare), gambar diem di pasar pon di gedung milik MN (sejak 1930-an), ada pula tontonan gambar diem di schouwburg purbayan yg saat merdeka bersalin nama menjadi bioskop indra lantas di jaman saya sekolah namanya jadi fajar theatre.

    kapan tepatnya gedung2 itu mulai memutar gambar diem agak sulit utk memastikannya. namun, buku sejarah sala terbitan toko buku pelajar (tanpa tahun) memberi tanda tontonan macam itu sudah eksis pada tahun-tahun 1900-an seiringan dengan berdirinya kantor listrik di purwosari.

    maturnuwun..

    • henryaja  On August 25, 2010 at 7:31 am

      Maturnuwun, terimkasih mas hendromasto atas koreksi terhadap tulisan ini, saya mnjadi tau bahwa ternyata sejak lama juga ya awal mula bioskop, tp syang y mas, kita sudah tidak bisa mlihat jejak2 sejarah yg tersisa,smua dah punah.mgkin emg sperti inilah konsekuesi perubahan jaman yang merubah tatanan dan kondisi sosial, budaya yg ada di masyarakat.pdahal jika smua itu (bisokop) masih ada (walaupun tidak smua) bisa mnjdi sebuah pembelajaran kita dan generasi setelahnya.bahwa SOLO adalah kota bnr2 kaya akan BUDAYA dan PERETAS PERADABAN INDONESIA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: