SIEM 2010, SEBUAH KARYA MERAJUT MULTIKULTUR

SIEM  2010, SEBUAH KARYA MERAJUT MULTIKULTUR

Oleh : Henry (ryu)

Solo, 13 Juli 2010

Tanah Airku

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Guyuran hujan minggu malam itu (11/7 di kota Solo terjadi satu jam menjelang acara Solo Internasional Contemporary ethnic music (SIcEM) 2010 hari kelima di Stadion R. Maladi Solo. Namun, guyuran hujan tidak berlangsung lama, malam itu jam pukul 8.00 hujan pun mereda. Acara SIEM yang seharusnya di mulai pukul 8.00 malam harus di tertunda kurang lebih setengah jam. Pihak panitia terlihat sibuk untuk mencek ulang alat-alat musik dan sound system yang terkena hujan. Satu persatu alat yang ditutupi oleh terpal pun dibuka kembali. Sorot lampu dari berbagai sudut panggung membuat suasana malam itu menjadi sejuk dan cukup meriah serta berwarna. Warna-warni lampu tidak hanya menyoroti panggung, tapi juga menyoroti latar belakang (background) panggung yang berupa setinng artistik bambu dan pohon-pohon. Tak lama pun, terlihat penonton mulai memasuki stadion R. Maladi Solo (atau biasa dikenal dengan Stadion Sriwedari).  Penonton langsung menempati kursi yang disediakan oleh panitia dan sebagian berada di Tribu dan di depan panggung membentuk setengah lingkaran (tapal kuda).

Jam menunjukkan pukul 8.30 malam, Lagu Tanah Airku menjadi pembuka acara sekaligus sebagai penutup acara SIEM 2010 di Solo yang telah berlangsung selama 5 hari (7-11/7). Lagu Tanah airku dinyanyikan bersama-sama oleh penonton  dan walikota Solo, Joko widodo (Jokowi) serta dewan kurator yang berpengaruh yaitu Prof. Rahayu supanggah dan Dwiki darmawan. Acara dilanjutkan oleh penampilan Sahuni dan Gandrung dari banyuwanyi, Jawa timur  yang berjudul “udan angin” (hujan angin). Judul ini menggambarkan tentang kegelisahan manusia terhadap kondisi lingkungan alam yang sudah banyak perubahan berupa gejala hujan angin. Suara alam (sound of nature) berupa kicauan burung yang seolah berada di alam bebas pun keluar dari alat musik yang dimainkan oleh Sahuni dan Gandrung. Kicauannya semakin kencang, tapi lama-kelamaan menjauh dan menghilang. Tak lama berselang, terdengar hentakan suara musik yang cukup ramai seolah menggambarkan mengenai gejala bencana alam berupa hujan angin. Pemain musik terlihat melakukan teatrikal dengan baju yang compang-camping. Mereka ibarat terkena bencana dan memperagakan sikap saling menolong satu sama lain.

Usai Penampilan Sahuni dan Gandrung, dilanjutkan dengan penampilan dari kelompok Orkestar berasal dari Singapore. Orkestar kolaborasi dengan Ramu thiruyaman. Mereka tampil berempat membawakan musik techno melayu yang cukup membius penonton.  Kelompok ini mengakui dirinya sebagai petualangan dalam mengexplorasi musik. Mereka berhasil membawakan musik tradisional dari sunda, jawa barat dengan alunan serulingnya yang cukup apik. Di tambah hentakan pedal drum dan melodi yang dihasilkan dari biola menjadikan irama musik lebih atraktif. Mereka tampil cukup memukau sehingga penonton yang menyaksikan pun berkali-kali bersorak dan bertepuk tangan. “usai main musik, Ridho, pemain drum Orkestar menyapa penonton dengan logat melayu, selamat malam Solo, apa kabar? Maturnuwun. Dan penonton pun yang mendengar sapaan itu ada yang tertawa dan salut kepadanya. Ada sebagian penonton yang teringat ucapan itu seperti logat di film ipin dan upin. Kurang lebih 5 karya yang mereka bawakan di acara SIEM 2010 malam itu. Menurut salah satu penonton, Sigma, penampilan musik yang dibawakan tristar  kali ini sangat bagus, dibandingkan dengan penampilan dari negeri yang sama (Singapore) oleh Sonofa. Ia menilai musik Orkestar kental etnik  kontemporenya, sementara grup Sonofa lebih banyak membawakan musik remix (dugem).

“Judul hudan angin menggambarkan tentang kegelisahan manusia terhadap kondisi lingkungan alam yang sudah banyak perubahan berupa gejala hujan angin. Suara alam (sound of nature) berupa kicauan burung yang seolah berada di alam bebas pun keluar dari alat musik yang dimainkan oleh Sahuni dan Gandrung. Kicauannya semakin kencang, tapi lama-kelamaan menjauh dan menghilang”

Sementara itu, Grup duo Bandanaira tampil sesudah kelompok Orkestar. Bandanaira merupakan 2 grup wanita yang mengusung musik beraliran jass. Mereka membawakan beberapa lagu kebangsaan Indonesia, lagu daerah dan lagu masa dulu.. Menurut Lea simanjuntak, penyanyi Bandanaira, ia mengaku surprise setelah mengetahui bahwa acara SIEM 2010 ini di gelar di Stadion R. Maladi Solo. Lalu, Bandanaira memainkan lagu karya Komponis Indonesia R. Maladi. “saya sangat senang dengan kota Solo dan keramahan warga Solo sehingga saya sering datang kembali kesini, ujarnya lea kepada penonton. Kemudian, ia menyanyikan lagu “di bawah sinar bulan purnama” , sembari menatap langit Solo malam itu. Penampilan selanjutnya oleh Darno Banyumas, Jawa tengah dengan menghadirkan musik klasik yang terbuat dari bamboo yaitu gandalia, along dan kentongan. Menurut pembawa acara, alat musik gandalia itu awalnya dibuat dan dimainkan oleh seorang petani sekitar tahun 1925 M. Dan kelompok Darno Banyumas yang personilnya 40an orang ini akan memainkan musik rakyat, atau sering dihadirkan saat pesta rakyat. Ada satu personil yang berusia 80 tahun ikut di kelompok ini, ujar pembawa acara. Suara kentongan, gandalia dan calung sontak terdengar saat itu juga. Disamping itu, terlihat juga penari dengan selendang kuning mengikuti iringan musik tradisi.

Acara SIEM 2010 malam ini ditutup oleh grup band Krakatau yang merupakan grup kawakan di belantika musik Indonesia. Band yang beraliran rock dan jazz yang terbentuk di Bandung ini pada malam itu berkolaborasi dengan Kamal Musallam dari Dubai. Mereka langsung memainkan musik ethnic dengan sentuhan jazz dan musik ala timur  tengah. Tepukan penonton pun telihat cukup antusias. Ini karena penonton telah lama menantikan penampilan dari Krakatau. Ketika mereka tampil di atas panggung, tepuk tangan dari penonton pun saling bersahutan. Masing-masing personil musik Krakatau dan Jamal bergantian menunjukkan skillnya. Menjelang di akhir penampilannya. Ada kendala teknis yang terjadi selama grup ini tampil, yaitu Dwiki darmawan sempat tersetrum ketika memainkan organnya. “maaf kepada penonton, jika tadi musiknya agak kurang terdengar sempurna, ada kesalahan teknis, tadi saya sempet kesetrum ketika memainkan organ, mungkin ini karena air hujan tadi, ujar Dwiki darmawan.

Spirit Of Multikultur

Solo International Contemporary Ethnic Music (SIEMc) yang terselenggara untuk ketiga kalinya di Solo ini menjadi acara rutin 2 tahunan. Untuk tahun ini acara SIEM terdapat perbedaan dari yang sebelumnya, dalam pers rilis di www.siemfestival.com menyebutkan kalau acara SIEM tahun ini merupakan pematangan konsep dari acara SIEM sebelumnya salah satunya yaitu ada unsur kontemporernya. Disamping itu, ada dewan kurator yang berfungsi untuk melakukan penjaringan calon peserta yang akan tampil di acara SIEM 2010. Jadi, peserta yang terpilih merupakan peserta yang berkualitas dalam karyanya. Perubahan SIEM kali ini juga karena adanya peran Prof. Rahayu Supanggah yang memang merupakan pelopor musik kontemporer di Indonesia. “Musik etnik yang selama ini dipandang sebelah mata dan kuno,serta underistimate, pada perkembangannya di jalur kontemporer justru mengejutkan”, ujar Rahayu Supanggah. Lalu ada juga Dwiki Darmawan seorang musisi handal dengan benyak pengalaman berupa kolaborasi dengan sutradara film, penata tari, orkestra dan banyak musisi mancanegara. Kedua dewan kurator hebat inilah yang sangat berpengaruh dalam gelara SIEM 2010 di Solo.

Sebelum acara SIEM 2010, ada acara pre event yang berlangsung kurang lebih 5 kali di berbagai titik penyelenggaraan. Pre event kali ini bertujuan untuk sosialiasi acara SIEM 2010 kepada masyarakat. Salah satu acara pre-event yang sempat saya saksikan yaitu acara Jak art@ jumat (14/5) di ballroom The Sunan Hotel Solo. Ini juga merupakan rangkaian dari acara ASAH TUR Indonesia III 2010. Acara pre event ini berupa pertunjukan musik klasik Piano, Oboe & Happening arts. Ari sutdja (pianis) dari Indonesia yang membuka acara musik klasik. Ia mengawali pertunjukan ini dengan memainkan piano pada abad ke 17 silam. Tidak lama kemudian, Ari sutedja memanggil rekannya, Soun yoon, pemain Obois dari korea. Alat musik obois merupakan alat musik tiup. Suara yang dihasilkan dari alat musik ini sangat manis. Lalu, mereka berkolaborasi dengan membawakan lagu pada abab ke 18 hingga 20. Ari memulainya dengan pianonya dan Soun yoon lantas meniupkan Obois. Selama musik dimainkan oleh arid an Soun yoon, terlihat pertunjukan seni visual yang dimainkan oleh Mikhail David dengan guratan-guratan cat air berwarna-warni di layar berwarna putih selaku medianya.

“acara SIEM adalah suguhan semangat multikuturalisme di tanah air yang sangat kaya. Tanah air ini memiliki beragam kebudayaan yang lama tak tergali dan tak tersentuh di permukaan. Banyak kebudayaan yang bernilai itu yang mungkin kini telah di tinggal dan terlupakan oleh generasi penerusnya. Arus globalisasi yang terbuka lebar dan kian menganga itu tidak dapat terbendung dengan segera. Globalisasi terus menggerus budaya beserta kearifan lokal masyarakat”

Suguhan acara SIcEM kali dan sebelumnya memiliki nilai tersendiri bagi kebanyakan orang. Bagi penonton, acara ini merupakan hiburan yang tiada tara. Tentunya karena mereka bisa menyaksikan musik berkualitas sekelas dunia. Bagi musisi, acara ini menjadi ruang untuk berkreasi dan berkarya sesuai dengan hati. Mereka semakin kreatif dalam bereksperimen musik ethnic dan musik2 kontemporer. Dan ini menjadi hal positif bagi kemajuan musik dan budaya di tanah air. Namun, dari semua itu, acara ini adalah suguhan semangat multikuturalisme di tanah air yang sangat kaya. Tanah air ini memiliki beragam kebudayaan yang lama tak tergali dan tak tersentuh di permukaan. Banyak kebudayaan yang bernilai itu yang mungkin kini telah di tinggal dan terlupakan oleh generasi penerusnya. Arus globalisasi yang terbuka lebar dan kian menganga itu tidak dapat terbendung dengan segera. Globalisasi terus menggerus budaya beserta kearifan lokal masyarakat. Hanya dengan pemikiran yang kritis dan memiliki semangat kebudayaan  maka jalan keluar akan ditemui. Maka harapan kita adalah, dengan digelarnya acara Solo International Contemporary Ethnic Music ini bisa menjadi semangat tumbuhnya multikultur yang harmonis. Dan yang pasti beragam budaya tanah air istimewa ini bisa diberi ruang untuk menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia benar-benar punya budaya yang kaya dan bernilai, juga mendunia. “Think global, act local with spirit of multiculture”

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: