WISATA KOTA TUA DJAKARTA

WISATA KOTA TUA DJAKARTA

Djakarta, 12 juni 2010

Bukan Sebatas Kota Tua Biasa

Oleh : Henry (ryu)

Memasuki kota tua Djakarta sore itu (12/6) dari kejauhan sudah terlihat ramainya orang yang sedang bersenda gurau. Mereka duduk-duduk di perataran lantai berpaving blok. Di dekat gedung-gedung kuno kota Djakarta. Gedung fatahilah menjadi lokasi favorit orang untuk berkumpul. Meskipun di sekitarnya masih ada gedung2 yang cukup unik. Gedung ini sangat khas bergaya arsitektur indis. Konsep Indis (belanda-hindia) yang memadukan unsur lingkungan dengan kebudayaan Indonesia masa lalu. Gedung ini masih menyisakan kemegahan, kekuasaan, dan  kemewahan. Di halaman yang luas dan lebih tinggi dari halaman lainnya, mereka sangat menikmati suasana sore itu. Mendung yang sudah menggelayut di atas kota tua Djakarta pun tidak lantas membuat mereka surut. Alunan musik dari anak-anak muda dengan gaya punk turut meramaikan sore itu. Mereka duduk berkelompok di sisi gedung dan asik memainkan alat musiknya. Mereka terlihat menikmati ruang kota yang memberikan kesempatan mereka untuk berinteraksi dan mengekspresikan kreatifitasnya. Dan tentunya ini juga ruang bagi semua orang. Ruang yang tak terbatas yang ramah manusia. Dan ramah bagi lingkungan sekitarnya.

Beberapa orang yang lain, mendekat dengan sebuah meriam. Mereka berfoto bergantian dekat dengan meriam itu. Dan di bangunan Fatahillah itu, jendela besar yang unik menjadi latar belakang untuk turut di dokumentasikan. Keunikan gaya jendela besar masih meninggalkan kesan kemegahan bangunan itu. Tiang-tiang bangunan itu pun sangat besar dan kokoh untuk menyangga seluruh bangunan itu. Meskipun sudah ratusan tahun, tiang itu terlihat masih mampu berdiri bersama dengan jendela dan atap bangunan yang menyediakan sirkulasi udara. Sementara di ujung sana, agak jauh dari bangunan fatahillah ini, musisi jalanan dengan pakaian khas tempo doeloe sedang bernyanyi. Musisi ini berada di dekat bangunan yang kini di jadikan musem wayang. Museum Wayang ini awalnya bernama gereja lama Belanda (De Oude Hollandsche Kerk) dibangun pada tahun 1640 M (www.situskotatua.com). Gedung ini mengalami beberapa kali perubahan pemilikan mulai dari perusaan, kantor ilmu pengetauan, seni dan budaya. Wisatawan asing yang membawa alat dokumentasi berupa kamera dan handycamp sedang merekam gaya musisi ini. Mereka sangat antusias menikmati alunan musik dari musisi tersebut. Dua tiga kali mereka mengambil gambarnya. Seakan tidak ingin melewatkan momen. Dan juga ini menjadikan kenangan mereka saat kembali ke negara asalnya. Mendung yang mulai meneteskan airnya pun tidak membuat mereka menyusut. Suasana sore itu pun berubah menjadi gelap.

“Kota tua ini bukan kota biasa, namun Kota yang telah terkonsep cerdas dengan sarana dan prasarana yang terintegrasi dan memadai”.

Djakarta kota tua ini pun menghadirkan nuasana tempo doeloe dengan adanya sepeda kumbang (onthel). Sepeda itu di sewakan kepada siapapun yang ingin mencobanya. Untuk membuat tempo doeloe semakin berasa, orang yang bersepeda juga menggunakan topi yang biasa digunakan orang belanda. Bersepeda berkeliling kawasan kota tua Djakarta menyaksikan kekayaan kota dan dinamisasi masa lalu kota. Denyut nadi kota yang pernah ada tempo doeloe dengan berbagai macam aktifitas. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya bangunan yang letaknya tak berjauhan. Lokasi stasiun kereta api kota letaknya berdekatan dengan kawasan kota tua. Kota tua ini bukan kota biasa, namun Kota yang telah terkonsep cerdas dengan sarana dan prasarana yang terintegrasi dan memadai. Deretan pepohonan sepanjang jalan kawasan kota tua ini menunjukkan keramahan kota terhadap lingkungannya.

Sajian Kuliner

Guyuran hujan yang menutup sore hari menjadi malam pun perlahan berhenti. Air hujan yang membasahi lantai paving blok masih tertahan. Kesejukan malam saat itu pun semakin berasa, mungkin karena hujan yang baru saja membasahi kawasan kota tua ini. Kita pun melangkah menyusuri kembali jalan-jalan yang menghubungkan bangunan-bangunan. Di sepanjang jalan aktifitas pedagang makanan (kuliner) mulai bergeliat. Mereka telah membuka tenda2 yang seragam. Hal ini menandakan bahwa wisata kuliner akan dan segera di mulai. Aneka sajian makanan tersedia di tenda-tenda itu. Mulai dari makanan khas kota Jakarta hingga makanan dari berbagai macam kota sekitar Jakarta. Ketoprak, siomay, batagor, gado-gado, nasi goreng, bakso, kwetiaw dan masih banyak lagi. Hal ini memudahkan pengunjung untuk kuliner sesuai dengan seleranya. Dan tentunya kuliner sambil menikmati kota tua di malam hari dengan bermandikan cahaya lampu.

Sorot lampu pun terlihat memecah kegelapan malam. Sinar lampu itu seakan tidak ingin membiarkan kota ini sepi dan gelap. Lampu-lampu yang terpasang di depan bangunan itu pun menyinari sudut-sudut bangunan. sinarnya menjadikan bangunan itu seakan hidup kembali dari tidur panjangnya (hibernate). Mobil kuno pun terlihat terpajang di pingir jalan itu. Tiap orang yang melintas pasti menyaksikan mobil itu. Dan tak ketinggalan, mereka pun berfoto dengan latar mobil kuno. Batu-batu besar yang berada di depan bangunan tua menjadi tempat beristrahat. Mereka duduk-duduk sambil bercengkrama. Suara malam di sekitar kota tua terasa lebih tenang, berbeda dengan siang hari yang cukup ramai. Suara klakson kereta api malam itu, juga masih terdengar sayup-sayup di kejauhan. Hal ini menandakan aktifitas di stasiun kota masih berjalan.

“Lampu-lampu yang terpasang di depan bangunan itu pun menyinari sudut-sudut bangunan. sinarnya menjadikan bangunan itu seakan hidup kembali dari tidur panjangnya (hibernate)”

Kota tua Djakarta mungkin hanya menjadi romantisme masa lalu bagi sebagian orang. Mereka datang untuk memasuki masa lalu kota Jakarta dengan segala keunikannya. Bangunan-bangunan indis yang masih berdiri di atas tanah pesisir kota Jakarta mungkin juga hanya sebagai saksi bisu sejarah. Ataupun mungkin juga bangunan “usang” itu bukan menjadi apa-apa yang tak ternilai. Tentunya hal itu karena bangunan itu sudah kalah dan tergusur oleh bangunan-bangunan yang bergaya “kekinian”. Tapi bagi yang lain, konsep kota tua dan bangunan yang berada di kawasannya menjadi pembuka pikiran bahwa untuk membangun kota perlu dengan perencanaan cerdas. Bangunan-bangunan yang dibuat pun perlu menyesuaikan dengan kondisi budaya dan lingkungan. Semoga kota tua itu masih bisa dirasakan oleh anak cucu kita.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: