SOLO CREATIVE FESTIVAL 2010

Lapangan kota barat Solo, 18 – 20 Juni 2010

“Kreatifitas Wong Solo, Dulu, Kini, Yang Terangkum Dalam Ruang  Multidimensi”

Deretan puluhan stand itu berbaris persis menghadap panggung utama. Berbagai jenis produk kerajinan tangan, seni, kuliner, batik, lukisan, furniture terpajang di tiap-tiap stand. Hampir seluruh peserta stan acara ini manampilkan produk terbaiknya. Dan yang pasti mereka menunjukkan karya yang unik dari tangan-tangan kreatif. Malam itu, jumat (18/6) acara Solo Creative Festival 2010 digelar di Lapangan Kota Barat Solo (awalnya bertempat di Mangkunegaran). Acara ini akan berlangsung mulai jumat – minggu (18-20/6)  di Kota Barat Solo. Guyuran hujan sempat membasahi seluruh arena acara. Namun, hujan tidak berlangsung lama, sorotan lampu-lampu dari panggung musik turut memecah butiran-butiran air hujan. Suasana malam itupun menjadi ceria. Penampilan musik etnik (percusi) dan akustik menjadi awal pembuka acara “Solo Creative Festival 2010”. Pembawa acara yang berdiri di atas panggung pun lantas mengajak penonton untuk bersiap-siap mendengarkan alunan musik. Kelompok percusi mulai memainkan alat-alat musiknya. Tabuhan alat musik jimbe terdengar sangat khas. Di ikuti tabuhan suara gendang jaipong membuat kombinasi suara percusi ini cukup kompak. Suaranya seakan saling beriringan dan suatu waktu bergantian. Irama pas buat suasana malam itu ketika hujan berangsur reda.

Kini giliran penampilan musik akustik beraksi di atas panggung utama. Petikan gitar yang khas beserta alat musik lainnya saling beriringan mencipta sebuah nada teratur. Suara vocal pun lantas terdengar bersama dengan irama musik. Pertunjukan ini juga dilengkapi dengan  lampu warna-warni yang bersinar. Lampu itu seakan membuat suasana gelap menjadi terang. Sinarnya yang terang menyorot seisi ruangan. Kepulan kabut (gas smog) memenuhi ruang panggung yang sudah penuh. Namun, hal ini hanya tampak sekilas, detakan suara gendang itu membantu untuk memecah kepulan asap yang mengepung di antara pemusik. Lagu demi lagu yang dimainkan menjadi semakin meriah. Usai bernyanyi, vokalis terus-menerus mengajak penonton untuk ikut bergabung bernyanyi bersama.”ayo yang masih di luar, masuk ke sini, kita meriahkan acara solo creative festival 2010, acara ini memberikan semua orang untuk kreatif, dan disinilah tempatnya berkreasi”, ujarnya.

Pemutaran Film Indie

Kreatifitas lain yang ikut serta di acara solo creative festival 2010 yaitu pemutaran film indie. Layar putih yang terbentang di atas panggung itu, menjadi media untuk diputarnya film-film indie. Film yang diproduksi oleh ide2 yang kreatif ini diputar setelah acara musik. Bentangan layar putih itu di tempatkan di 3 titik sekitar lapangan kota barat. Ada 2 layar yang di pasang di atas panggung utama, 1 layar di samping kanan lapangann dan yang satunya di tempatkan di kiri lapangan. Pemutaran film pun di mulai. Di ruang yang cukup luas itu, gambar film yang diputar beserta suaranya sangat jelas terlihat dan terdengar. Seorang pemain yang sedang memakai blankon, bertutur kata dalam logat jawa, kemudian ia bercerita, sosok ini sebagai pembuka film indie. Dialogpun terjadi dengan pemain lainnya. Dialog itu berada di perlintasan kereta api. Tak lama pun, muncul kereta api yang melintas dengar mengeluarkan asap dari cerobongnya. Suara klakson kereta api pun di bunyikan.

Film indie ini bercerita tentang kehidupan keseharian di tanah Jawa. Jalan cerita yang pendek namun penuh makna cukup mengena bagi penonton yang menyaksikan. Pemutaran film indie yang lain, tidak dilakukan karena waktu yang tersedia sudah tidak memadai. Akhirnya panitia menutup acara pembukaan Solo Creative Festival di malam itu. Perlahan penonton dan peserta stan pameran meninggalkan lokasi acara. Dan mereka kembali pada hari esoknya dengan acara yang tidak kalah meriahnya. Masing-masing pengunjung terlihat sedang serius membicarakan mengenai acara pembukaan yang baru saja dilaksanakan. Sementara, pengunjung yang lain, masih asik terlihat menyaksikan karya-karya kreatif di stan2 pameran. Dan ruang multidimensi ini menjadi sarana untuk pergaulan sosial, budaya, seni, ekonomi dalam inti kreatifitas wong Solo untuk Solo. (ryu)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: