Menciptakan Jakarta sebagai Kota Ramah Manusia dan Lingkungan

Menciptakan Jakarta sebagai Kota Ramah Manusia dan Lingkungan
Henry Wahyu Trilaksono (Mahasiswa UNS Solo)
Senin, 31 Mei 2010

di tulis dlm rngka lomba tulis  hari lingkungan Hidup 2010

www.mediaindonesia.com

KOTA memiliki daya tarik bagi semua orang yang ingin mengadu nasib atau peruntungan. Daya tarik itu adalah mudahnya untuk mendapatkan kesejahteraan ekonomi yang lebih baik. Kota-kota ini menjadi ibarat sebuah kue yang menarik semua untuk mencobanya. Semua ingin mendapatkan bagian dari rasanya yang mungkin lezat. Namun, serbuan yang tak terhingga dari berbagai penjuru untuk merebut kelezatan kue itu membuat kota itu menjadi kehilangan rasa. Urbanisasi yang tak pernah berhenti dan terus menerus mengalami peningkatan seakan terus menekan keterbatasan ruang kota. Kota ini seakan menjadi hanya sebagai sebuah penikmat rasa yang sesaat. Ketika semua ruang yang dulunya masih memberikan unsur kemanusiaan dan lingkungan yang layak menjadi tercerabut dari akarnya. Kota itu cukup besar, besaran yang kian membesar sehingga kota tak sanggup untuk menampung besaran itu. Besaran berbagai manusia dan aktifitasnya yang menjejali tiap-tiap ruang kota. Namun, kondisi penduduk yang kian membesar ini menjadi tak terkendali. Seakan terus menutup segala ruang-ruang untuk bernafas, ruang untuk berkumpul dan berinteraksi, ruang untuk sekedar melepas lelah, ruang untuk merasakan bahwa kita adalah manusia yang berada di lingkungan yang heterogen, ruang mulitidimensi tempat bergumulnya kehidupan dari berbagai macam yang hidup.

Kota itu kota jakarta. Dan kota-kota yang berada di sekitarnya. Kota ini bisa dibilang terlalu sibuk untuk mengurusi yang lain. Kota yang lupa pada keterbatasannya. Kota yang terlalu melupakan rasa yang lezat itu. Telah lama kealpaan dan kehilafan ini hadir di semua individu. Jakarta sangat memiliki daya tarik yang cukup kuat bagi semua orang. Berbagai aktifitas ekonomi terus berdenyut. Bahkan ibarat jantung yang tak pernah berhenti berdenyut. Transaksi ekonomi di mal-mal itu tak pernah berhenti. Di perempatan jalan juga memiliki transaksi sendiri. Dan di gang-gang sempit juga ada yang bertransaksi. Dengan cara sederhana. Pabrik-pabrik industri yang sudah memunuhi segala ruang jakarta. Perusahaan besar dan kecil juga ikut mengisi ruang jakarta. Prasarana dan sarana transportasi dibuat tanpa terkonsep. Jalan tol dan jalan layang yang dibuat untuk menutup keterbatasan ruang yang memadai menjadi sebuah “solusi” untuk jangka pendek. Jalan yang semula untuk mengatasi masalah kemacetan pun menjadi ruang yang selalu macet. Entah dengan cara apalagi untuk mengatasi ketebatasan ruang kota ini. Apakah mungkin akan menambah jalan di atas jalan tol dan jalan layang di kemudian hari?sangat ironis bila itu benar-benar terjadi.

Jakarta kini kian terkepung serbuan dari berbagai penjuru. Namun, kepungan ini lantas memaksa Jakarta untuk memproklamirkan sebagai kota megapolitan. Lalu bagaimana dengan kota jakarta yang dulunya sebagai ibukotanya Indonesia? kota yang menjadi pusat pemerintahan?. Jakarta akan lebih baik jika tetap memfungsikan identitasnya sebagai ibukota Indonesia dan pemerintahan. Dibandingkan dengan yang kini dibanggakan sebagai kota megapolitan. Dan mungkin juga jika suatu saat nanti kota ini akan berubah menjadi kota gigapolitan, ataupun terapolitan. Karena banyak sekali yang menyesaki kota, bukan hanya perusahaan jasa, pabrik-pabrik/industrial juga ada di jakarta. Kota ini terlalu mudah menerima sesuatu yang bukan pada tempatnya. Sehingga identitas kota menjadi tak jelas. Apakah Jakarta sebagai kota pabrik, kota industi, kota berjuta penduduk, kota banjir, kota macet, kota pemerintahan ataupun ibukotanya Indonesia?.

Ketimpangan
Pengertian kota menurut  Sadyohutomo  (2008) terbagi menjadi 2 yaitu, Pertama, kota merupakan suatu daerah yang di dominasi jenis penggunaan tanah non pertanian dengan jumlah penduduk dan intensitas penggunaan ruang yang cukup tinggi. Kedua, kota merupakan bentuk pemerintah daerah yang mayoritas wilayahnya merupakan wilayah perkotaan. Pengertian kota yang pertama menekankan pada kapasitas kota secara fisik sedangkan pengertian kedua pada kapasitas kota dalam hal administratif. Kota-kota di Indonesia salah satunya Jakarta merupakan kota yang menjadi perebutan ruang (tanah/lahan). Banyak orang yang ingin segera memiliki ruang ini, karena nilai ekonominya sangat tinggi. Perebutan ruang inilah yang dahulu tidak pernah terpikirkan untuk segera di rem. Sehingga di Jakarta saat ini ruang-ruang itu sudah tidak lagi tersisa. Bahkan tanah yang seharusnya menjadi raung terbuka hijau pun turut luput dari perebutan. Masa perebutan itu mestinya bisa di rem bila mekanisme administrasi di lingkup pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya (sesuai aturan), namun akan terjadi sebaliknya, jika administrasi itu terjadi konspirasi untuk melanggengkan pelepasan ruang Jakarta yang sangat berharga.

Hampir di tiap sudut kota Jakarta tak ada lagi ruang terbuka hijau. Terkadang jika masih ada pun jumlahnya sangat jauh dari harapan. Jika kita mengacu pada UU No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang kondisi ruang terbuka hijau di kota idealnya 20% dari pemanfaatan ruang yang ada. Lalu bagaimana dengan ruang terbuka hijau di Jakarta?. Belum lama ini, di beberapa titik wilayah Jakarta telah menonaktifkan SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) yang di alih fungsikan sebagai ruang terbuka hijau. Langkah ini cukup berani, dan perlu di apresiasi setinggi-tinggi. Sebab, jika hal ini tidak dilakukan secepatnya maka jakarta menjadi kota yang tidak humanis. Perampasan tanah-tanah yang tidak digunakan sesuai fungsinya perlu di kembalikan pada fungsi awalnya. Begitu pula dengan keberadaan sungai di Jakarta perlu di perhatikan secepatnya. Kondisi sungai dan airnya kini jauh dari unsur kehidupan. Airnya berwarna hitam dan berbau. Limbah padat dan cair saling berebut untuk menyesaki ruang-ruang sungai.

Ketimpangan lain yang ada di Jakarta sejak lama seperti banyaknya jumlah pemukiman yang tidak mengikuti aturan. Hal ini merupakan  fenomena terkait tentang penggunaan ruang yang tidak terarah. Dan juga diakibatkan karena tingginya pertumbuhan penduduk di Jakarta. Pada dasarnya jumlah pemukiman yang banyak tidak masalah, asalkan keberadaannya tidak asal-asalan dan mematuhi aturan tata ruang kota. Jika memang pembangunan pemukiman ini tidak sesuai dengan aturan tata ruang kota maka perlu tindakan alih fungsi menjadi ruang terbuka hijau. Ruang terbuka hijau yang sudah ada di Jakarta seperti di monas (monumen nasional). Ruang terbuka hijau lainnya berupa hutan kota, taman kota, danau, sungai, waduk dan lainnya. Fungsi keberadaan ruang terbuka hijau adalah untuk menjaga lingkungan agar tetap seimbang dan harmonis. Disamping itu juga, berfungsi sebagai paru-paru kota, resapan air tanah dan mengurangi dampak dari pemanasan global.

Katalisator
Jakarta merupakan pusat kota (notes). Kota ini juga tidak terlepas dari dukungan dari wilayah sekitarnya (hinterland). Sebagai pusat kota tentunya Jakarta menjadi perhatian dari wilayah sekitarnya. Apapun yang terjadi di Jakarta akan berdampak pada wilayah sekitarnya. Namun begitu juga sebaliknya wilayah sekitar juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Jakarta. Sebagai contoh mengenai banjir Jakarta. Banjir yang sering melanda Jakarta merupakan sumbangan dari wilayah sekitar. Hal ini tidak terlepas dari tata ruang kota Jakarta yang memang belum tertata. Terjadinya banjir di Jakarta akibat dari kurangnya ruang terbuka hijau dan kurang koordinasi dengan wilayah sekitar. Kondisi ini telah menjadi rahasia umum. Maka dari itu untuk mencegah terjadinya banjir yang berulang adalah melakukan perubahan secara konsisten. Jakarta harus menjadi katalisator perubahan tersebut. Jangan sampai ada istilah saling menunggu.

Untuk menuju Jakarta sebagai kota yang ramah manusia dan lingkungan diperlukan perencanaan tata ruang kota. Pemerintah harus berupaya untuk membuat perencanaan terkait tentang pembangunan fisik yang berkelanjutan. Pembangunan fisik yang direncanakan disesuaikan dengan kelayakan jangka panjang dan berwawasan lingkungan. Di samping itu diperlukan pengaturan pemanfaatan ruang. Pemerintah perlu mengatur pemanfatan ruang untuk pemukiman dan bangunan yang lainnya. Pengaturan ini berfungsi agar ruang-ruang yang ingin dimanfaatkan untuk keperluan yang lain tidak salah. Seperti beberapa kasus bangunan liar yang menempati ruang/tanah Jakarta. Dan beberapa bangunan bisnis atau industri yang berdiri di atas ruang hijau.

Pemerintah jakarta perlu menyediakan pelayanan publik yang layak. Pelayanan public ini termasuk jalan pedestrian, jalan kereta api, jalan khusus bis dan taman kota. Adanya pelayanan public yang memadai ini akan membuat masyarakat nyaman untuk beraktifitas. Masyarakat tentunya akan ikut mendukung upaya ini sebab mereka juga merasakan manfaatnya. Penyediaan jalan pedestrian dan transportasi yang terintegrasi menjadikan masyarakat terbiasa untuk hidup ramah lingkungan.

Peran pemerintah Jakarta dalam mewujudkan kota Jakarta yang ramah manusia dan lingkungan menjadi sangat signifikan. Intervensi ini sebagai upaya untuk menyukseskan Jakarta yang lebih harmonis antara manusia dan lingkungannya. Keberhasilan jakarta menjadi kota yan ramah manusia dan lingkungan tentu akan di ikuti oleh wilayah sekitarnya. Hal ini seperti yang tertuang dalam UU No 24 tahun 1992 pasal 20 ayat (3) yang  menyebutkan  bahwa rencana tata ruang wilayah nasional menjadi pedoman untuk (d) penataan ruang wilayah provinsi Dati I dan wilayah kabupaten/kotamadya Dati II. Oleh karena itu, lebih baik Jakarta menuju kota yang ramah manusia dan lingkungan dari pada kota macet, kota banjir, kota metropolitan, kota megapolitan, kota gigapolitan, kota terapolitan dan kota sejuta umat.  Dan dengan cara ini berarti mengembalikan kota jakarta sebagai ibukota Indonesia yang harmonis dan kota yang layak untuk di jadikan barometer perubahan di kota sekitarnya. Semoga.(*)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: