PERTANIAN MEMANUSIAKAN PETANI

Oleh : henry (green)

Satu hal yang mungkin terlupa, ketika kita makan makanan, sayur-mayur, dan berbagai aneka lauk pauk, lupa, sementara di luar sana banyak orang yang bekerja keras tiap harinya untuk memproduksi bahan-bahan makanan itu. Mereka juga manusia seperti kita. Seperti yang lainnya. Seperti pahlawan tanpa tanda jasa.

Tulisan dimuat di harian Solopos (korannya wong solo)

Edisi, Selasa , 11 Mei 2010

Petani kini terjepit oleh kegagalan panen akibat anomali musim dan  naiknya harga pupuk. Seharusnya negeri ini bercermin pada masa lalu ketika berhasil menerapkan revolusi hijau. Revolusi hijau ini bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian yang lebih cepat  di seluruh wilayah Indonesia. Peningkatan produksi itu dilakukan dengan menambah dosis pupuk kimia yang berlebihan dan jenis tanaman yang sudah ditentukan dari pihak yang berkepentingan.

Program ini berhasil mencapai produksi beras yang melimpah. Pada saat itu pun Indonesia mencapai swasembada beras. Namun usaha yang instan itu berdampak pada keberlanjutan pertanian. Lahan pertanian yang semula subur kemudian berubah menjadi tandus. Ini dikarenakan adanya tindakan diluar aturan alam. Tindakan itu berupa penggunaan pupuk kimia yang overdosis.

Alam memiliki proses alami dan punya batas ukuran yang akurat. Penggunaan obat yang berlebihan sama saja dengan melukai alam. Usaha tani merupakan jenis usaha yang penuh dengan ketidakpastian. Ada beberapa faktor yang berperan dalam keberhasilan usaha tani, yaitu faktor internal (sumber daya manusia) dan faktor eksternal (lingkungan). Faktor internal berkaitan dengan tersedianya sumber daya manusia pertanian.

Minimnya orang yang ingin terjun ke dunia pertanian menjadi masalah klasik yang hingga saat ini belum ada jalan keluar. Sebagian besar memilih untuk mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan dan resiko yang minim. Resiko yang sering kali di hadapi dalam pertanian berasal dari faktor eksternal. Faktor ekternal misalnya iklim, tanah, kebijakan pemerintah (peraturan), hama dan penyakit, produk yang mudah rusak dan segi pemasaran.

Untuk saat ini faktor eksternal yang sedang membuat petani ketar-ketir terutama berkaitan dengan iklim  yang tidak lagi bisa di prediksi. Musim kemarau dan hujan datang tanpa perkiraan. Hal ini yang membawa dampak pada kegagalan usahatani. Cepat atau lambat petani dan pertanian diambang batas toleransi.

Di satu pihak menginginkan tersedianya pangan untuk keberlanjutan kehidupan. Namun di pihak lain, sedang kerja keras untuk memproduksi pangan demi terwujudnya ketersediaan pangan. Dalam istilah lain antara permintaan dengan penawaran sudah tidak seimbang. Permintaan akan tersediannya pangan makin meningkat dan cukup mendesak. Sementara penawaran sedang di belenggu oleh  peraturan yang kurang realistis. Peraturan ini seakan dipaksakan demi terwujudnya tersedianya pangan yang memadai.

Tanpa paksaan

Menurut Mosher (1991) pengertian petani dibedakan menjadi 3 yaitu adalah petani sebagai manusia, petani sebagai  juru tani dan petani sebagai manager usaha tani. Ketiga pengertian petani dalam pandangan mosher berarti bahwa petani juga manusia yang berpikir dan bekerja untuk mendapatkan tujuan hidupnya yang merdeka tanpa adanya tekanan dari pihak manapun.

Mereka berhak menentukan hidupnya sendiri dalam kebebasan yang bertanggungjawab untuk mengolah tanah pertaniannya. Begitu pula bebas dalam menentukan jenis tanaman apa saja yang ingin mereka tanam. Tentunya sesuai dengan pengalaman (pengetahuan) dan daya dukung lahan pertaniannya.

Cita-cita untuk mewujudkan tersedianya pangan (ketahanan pangan) untuk kepentingan seluruh rakyat adalah cukup realistis. Bukan hanya di Indonesia, di seluruh negara dunia juga sedang mengantisipasi kekurangan pangan. Indonesia masih mampu untuk mencapai cita-cita terwujudnya ketahanan pangan tersebut. Apalagi Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang berlimpah

Namun, untuk mencapai tujuan yang realistis itu bukan berarti pemaksaan terhadap manusia pertanian. Cara yang lebih mengedepankan prinsip manusiawi untuk mencapai ketahanan pangan yang perlu diutamakan. Jangan sampai lagi terulang kasus di masa lalu. Petani perlu diajak bicara dan dibina dengan pendekatan yang humanis. Dengan pendekatan ini, cita-cita petani untuk kesejahteraan keluarganya dapat terwujud. Dan tentunya berdampak pula pada ketahanan pangan yang sebenar-benarnya.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • tric06  On June 9, 2010 at 7:12 pm

    ayoo..galakkan program go green..
    (http://tric06.student.ipb.ac.id/)

    • henryaja  On June 11, 2010 at 5:41 pm

      thks dah mampir ke blog ini slm knal…klo ad info dr IPB mengenai program2 lingkungan tolong kbr2 ya…(diskusi, sminar, training ato apa saja yg berkaitan dgn lingkungan)..oke2..save our environment

  • ebhay  On June 9, 2010 at 11:03 pm

    maju terus petani indonesia

    • henryaja  On June 11, 2010 at 5:39 pm

      yups..yuk kita bntu dan perjuangkan kerja keras merka…

  • yuyun  On July 20, 2010 at 3:23 pm

    petani indonesia perlu pencerahaan dg konsep pertanian berkelanjutan dan ecolabeling stlh sekian lama terdogma revolusi hijau

  • febryn  On May 10, 2011 at 10:57 am

    memang petani tu susah bang. ayahaku petani bang. tpi udah agak maju gtu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: