MANAJEMEN AIR HUJAN TERPADU

Oleh : henry (green)

Saat itu hujan terus mengguyur kota soloraya, sepanjang hari ke hari. sungai bengawan solo menjadi terisi penuh, dan di ujung sana air mencoba keluar dari batasannya, menerobos ke jalanan dan permukiman penduduk.

Tulisan dimuat di harian Solopos (korannya wong solo)

Edisi, Selasa 18 Mei 2010

Tingginya intensitas air hujan di kota Solo dan sekitarnya, belakangan ini membuat debit sungai bengawan Solo terus meningkat. Status pintu air siaga I hingga meningkat ke status tiga menjadi kekhawatiran banyak orang,  terutama bagi mereka yang bertempat tinggal berdekatan dengan sungai. Pemulihan kondisi psikologis ini butuh waktu yang lama.Demikian halnya dengan alam. Pohon yang berfungsi sebagai penyerap air hujan mengalami kegonjangan. Penebangan liar dan alih fungsi lahan hutan menciptakan trauma. Terlebih. Penyembuhan trauma itu dilakukan dengan reboisasi.  Namun perlu di ingat, bahwa pemulihan trauma itu butuh waktu yang lama. Ini dikarenakan karakteristik pohon keras membutuhkan pertumbuhan yang lama. Belasan hingga puluhan tahun lamanya.

Yang perlu di waspadai dalam rentang waktu yang singkat ini adalah tingginya curah hujan harian. Curah hujan inilah yang membuat debit-debit air sungai itu tetep terus meningkat. Bahkan air  menggerus tanah tanggul-tanggul tepi sungai. Air hujan pada dasarnya memiliki kegunaan bagi kehidupan manusia dan lingkungan alam. Air hujan menyuplai air irigasi untuk pertanian dan air tanah untuk keperluan harian. Ini bisa berjalan mulus jika air hujan yang melimpah itu bisa kita kelola. Fenomena yang sering kita alami mulai dari hulu dan hilir belum ada yang memperdulikan air hujan tersebut. Air hujan dibiarkan mengalir sampai jauh di permukaan (surface run-off) tanpa meresap ke dalam tanah. Lantas kita heran, mengapa debit air sungai itu cepat sekali naik-meninggi. Ketinggian air di sungai meluber dan meneruskan perjalanan di permukaan (banjir). Hal ini sesungguhnya tidak akan terjadi jika kita menyadari arti penting air hujan. Kita baru menyadari fungsi air saat kita krisis air

Menabung air

Ketersediaan air hujan yang melimpah dengan intensitas hujan yang tinggi bisa menjadi kesempatan untuk menabung air. Fungsi menabung air sebenarnya bisa dilakukan pohon berbatang keras. Pohon ini menyimpan air di saat air melimpah dan digunakan saat krisis melanda. Fungsi-fungsi pohon sesungguhnya telah membuka pemikiran kita tentang sebuah manajemen krisis. yaitu pengelolaan air yang terpadu (integrated water management). Namun sayang sekali, untuk saat ini kita sedang kekurangan jumlah pohon untuk menabung air hujan. Walau masih kekurangan jumlah pohon kita bisa membuat sebuah rekayasa yang fungsinya mirip dengan pohon.

Beberapa cara dapat dilakukan dalam rekayasa ini. Cara pertama yaitu dengan membuat kantong air, kantong ini berguna untuk menampung volume air hujan agar tidak mengalir seluruhnya di permukaan tanah. Pembuatan kantong air bisa dibuat di halaman rumah, industri dan di ladang-ladang. Dengan adanya kantong/wadah air ini maka secara tidak langsung masing-masing individu sudah memiliki dan menjaga sumber air.

Cara kedua yang perlu dilakukan baik di daerah hulu dan hiir yaitu dengan membuat lubang resapan biopori. Lubang biopori berfungsi untuk menyerap air hujan dan juga untuk penyediaan air tanah. Caranya membuat lubang sedalam  kurang lebih 1 meter dengan diameter 30 cm. Lubang ini kemudian diberi sampah-sampah organik dan ditutup hingga beberapa waktu.

Ketiga, yaitu manajemen daerah aliran sungai (DAS) dengan pendekatan partisipatif. Ini merupakan gagasan oleh Vijay paranpye dan Daniel (2006). Mereka memecahkan permasalahan pengelolaan aliran sungai dengan mengikut sertakan (memberdayakan) berbagai kalangan seperti birokrat, industrial, penduduk sekitar DAS, petani dan stakeholders. Pengelolaan dengan pendekatan ini diyakini bisa menyelesaikan permasalahan terkait banjir. Pendekatan ini bertujuan untuk mendekatkan fungsi-fungsi sungai di hati seluruh kalangan tersebut. Sehingga mereka merasa memiliki sungai dan airnya dan bertanggungjawab untuk mengelola dengan sebaik-baiknya.

Ketiga cara tersebut adalah sedikit upaya untuk mengatasi permasalahan yang sedang melanda kota ini. Berbagai kalangan dari hulu dan hilir dituntut untuk berperan menyukseskannya. Tanpa semua itu, yang dilakukan  hanya sia-sia. Dengan demikian kita yang tinggal di hulu dan hilir tidak lagi saling menyalahkan satu sama lain. Oleh karena itu. mari kita tinggalkan pendekatan sektoral dan beralih ke pendekatan partisipatif, negosiatif.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: