KEHENINGAN DI AKHIR TAHUN

Sebuah Refleksi :

KEHENINGAN  DI AKHIR TAHUN

Oleh : Henry (ryu)

“Terlihat keheningan dari keindahan yang masih tersisa di antara puing-puing bangunan bersejarah Sunda Kelapa Jakarta (sebuah saksi bisu yang  terabaikan)”

Seperti agenda tahunan sebelumnya, tiap akhir tahun untuk menyambut tahun yang baru, hampir seluruh manusia di belahan bumi merayakannya. Ada yang merayakan dengan cara menyembunyikan terompet, letusan dari mercon (petasan) dan ada kembang api yang di lesatkan ke atas langit. Dan cara itu pula yang melulu di lakukan oleh sebagian yang merayakan tahun baru. Ada pula sebagian yang lain, menambahkan hiburan berupa konser musik dan  pernak-pernik yang lain. Yang tujuannya adalah memeriahkan penyambutan tahun yang baru. Tahun baru menandakan sebuah waktu dan proyeksi.  Dan angka tahun yang kian berubah dari waktu ke waktu. Dan sebenarnya yang di anggap tahun baru itu sebenarnya tahun yang sudah ada. Yang sudah ada disini berarti sudah terangkum dalam sebuah angka dan hari-hari yang telah tertulis. Namun, angka yang telah tertulis memiliki perubahan yang signifikan. Dan yang kita harapkan dari yang sudah ada, adalah peristiwa, suasana dan perubahan yang baru.

Yang menarik dalam perayaan tahun baru ini bukanlah seperti melulu bunyi terompet, petasan,  kembang api dan lainnya. Tapi ada suasana berbagi yang terjadi di sebuah jalan raya. Jalan raya kota yang identik dengan kepadatan lalu lintas ada terlihat suasana yang sedikit mencair. Ada sebuah mobil pick up yang membawa aneka buah-buahan. Orang yang naik di belakang mobil itu memberikan buah kepada pekerja penyapu jalan raya. Sambil menyapa dan mengambil buah di dalam wadah, kemudian orang itu memberikan petugas penyapu jalan. Mungkin sebagian orang melihat ini hal yang biasa, yang tidak perlu di apresiasi. Tapi ini merupakan hal yang langka, sebuah kemanisan dari kesadaran dalam kehidupan. Kita ketahui bahwa petugas kebersihan di jalan raya adalah orang yang kerja keras. Mereka bukanlah pemalas. Mereka pastinya ingin menjaga kotanya terutama jalan raya itu untuk selalu bersih dari sampah-sampah. Mereka telah berjasa untuk keberlanjutan lingkungan hidup, sebuah tempat hidup kebanyakan manusia.

Kemanisan yang tergambar dari dari peristiwa yang terekam di jalanan itu bukanlah manisan buatan. Tapi manisan yang natural dan tidak tercampur oleh racun dan bahan kimia berbahaya. Keseharian yang terjadi, justru malah merusak kemanisan yang sudah ada secara periodik. Kita lebih sering melihat sampahlah yang di lontarkan dari dalam kendaraan roda empat atau lebih ke jalanan.  Aku tidak tahu dan mengerti mengapa sampah yang seharusnya di buang pada tempat yang benar harus di lontarkan ke jalan raya. Miris dan tragis menyaksikan fenomena ini. Ketika, petugas kebersihan yang sedang dan terus berusaha untuk menjaga jalan dan kotanya selalu bersih  tapi harus dinodai dengan kotoran yang tidak jelas asalnya. Ini masalah kemanusiaan dan kelangsungan hidup serta tata kota yang indah bersih dan nyaman.  Dan jika kejadian ini terus-menerus berulang sirna sudah cita – cita yang mengidamkan kemanisan yang sejati.

“Kemanisan yang tergambar dari dari peristiwa yang terekam di jalanan itu bukanlah manisan buatan. Tapi manisan yang natural dan tidak tercampur oleh racun dan bahan kimia berbahaya”.

Sama halnya dengan perayaan tahun baru dengan petasan, kembang api dan bunyi terompet. Setelah perayaan sesaat itu, ada sisa-sisa yang terbuang secara kolektif. Sisa-sisa itu berserakan di tempat yang tadinya sejuk untuk di lihat dan nyaman untuk beristirahat. Nampak, pada beberapa tempat seperti pantai di kota metropolitan yang meninggalkan jejak sampah seusai pelaksanaan perayaan tahun baru. Jejak itu telah mengotori pantai yang semula masih berpasir putih dan ombak yang bersahabat. Tentunya, bagi makhluk hidup laut, sebut saja ikan atau plankton2 perayaan tahun baru menjadi keprihatinan. Sebab habitatnya selalu kotor tiap acara tahun baru. Yang seperti inilah yang jarang sekali kita perhatikan. Bahwa selain kita (manusia) ada makhluk lain yang juga memiliki hak untuk hidup. Kita terlalu terlena pada apa yang nampak di depan mata, tapi melupakan keberadaan yang kecil bahkan abstrak.

Refleksi Hening di tahun baru

Einsten seorang ilmuan dunia, dalam hidupnya tidak pernah memikirkan untuk hidup neko-neko (macem2) yang ada di pikirannya adalah kesederhanaan dan kebahagiaan. Dalam hal harta dan kekayaan Einstein menilai “Harta Milik, sukses lahir, ketenaran, kemewahan semua itu merupakan yang saya pandang rendah”. Einstein juga percaya bahwa cara hidup yang sederhana dan tidak berlagak adalah suatu cara hidup yang terbaik bagi setiap orang, jasmani dan rohani. Contoh lain, Milyader dunia, Waren E. Buffet, yang tidak pernah sama sekali memamerkan kekayaannya. Padahal ia adalah orang terpandang di seluruh dunia. Kehidupannya nyaris dari sikap pamer. Ia tinggal di rumah yang sederhana. Di rumahnya tidak ada computer, alat2 elektronik yang canggih, handphone pun tidak punya. Ia tidak memiliki supir pribadi sehingga hanya mengendari kendaraan sendiri.  Segala harta yang ia miliki sebagian besar di sumbangkan pada orang-orang yang membutuhkan.

“Einstein juga percaya bahwa cara hidup yang sederhana dan tidak berlagak adalah suatu cara hidup yang terbaik bagi setiap orang, jasmani dan rohani”

Lalu apa yang bisa kita petik dari pelajaran orang-orang yang sukses dan berhasil serta memiliki kekayaan yang melimpah ruah itu?. Tidak lain dan tidak bukan adalah kesederhanaan. Dan prinsip ini amat jarang kita temui di bumi Indonesia. Yang terlihat hanya sifat glamour dan memamerkan kekayaannya. Sebenarnya mudah bagi kita untuk segera merubah kebiasaan yang tidak berguna. Alangkah indahnya jika acara akhir tahun dilakukan dengan suasana hening. Seperti suasana di waktu subuh. Suasana hening membawa pada perwujudan jasmani dan rohani. Pada akhirnya kita tidak terlalu berlarut-larut pada euphoria belaka. Dan kita menjadi pembeda dari suasana global yang cuma melulu merayakan tahun baru dengan cara yang sama. Keheningan di malam tahun barulah yang harusnya di lakukan di negeri ini. Apalagi tahun saat pergantian tahun 2010 yang lalu, ada fenomena alam, berupa gerhana bulan. Dari sini sebenarnya kita bisa menangkap bahwa kita harus merubah cara-cara lama untuk merayakan tahun baru dengan yang lebih arif dan bijaksana. Lebih hening dan damai.             (foto di unduh dari : http://www.bluemoon.co.id/images/candle.pdf.jpg)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • Si Ponang  On January 11, 2010 at 7:48 am

    melenung sepelti gunung ya ommm……….

    • henryaja  On January 11, 2010 at 9:26 am

      bukan melenung..tp merenung atuh,,hehehe…lm knal ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: