Kirab Budaya Politik di Solo, yang belum damai

Oleh henry[green]

“Di sela kedamaian kirab, masih saja terdengar kebisingan yang bersumber dari suara arak-arakan kendaraan bermotor”

Di awal bergulirnya pelaksanaan kampanye terbuka untuk seluruh partai di tandai dengan kampaye damai. Di bukanya kampanye damai ini di mulai dengan adanya kirab budaya. Khusus di solo kirab budaya yang di sajikan yaitu kirab budaya politik dengan nuansa jawa. Kirab budaya ini berlangsung hari senin 16 Maret 2009. Rute kirab di mulai dari lapangan kota barat-jlan slamet riyadi dan berakhir di balaikota solo. Suasana yang di usung kali ini mencoba untuk menampilkan kampanye politik yang damai. Semoga aja untuk hari seterusnya bisa benar-benar berlangsung damai. Selama melihat kirab budaya politik di sepanjang jalan slamet riyadi terlihat berbagai atribut yang bertebaran, kereta kuda, becak, motor dan berbagai aksi dari tokoh pewayangan. Peserta kirab tersusun mulai dari urutan partai yang mendapat nomor urut pertama dan seterusnya. Masing-masing partai politik saling mencoba menarik simpati dari para penonton yang kebetulan menyaksikan kirab itu. Sebagian orang yang menonton kirab menjadi sebuah hiburan di siang hari menjelang sore kala itu. Kebetulan saat itu pula suasana cuaca di kota solo cerah dan panas. Tapi semua itu seakan lenyap, karena ada hiburan yang jarang terjadi. Penonton melihat tontonan yang ‘lucu-lucu’. Menyaksikan ramainya orang-orang yang sedang asik berpesta dalam kebebasan demokrasi. Peserta kirab mencoba menawarkan sebuah resep yang manis-manis. Ibarat sebuah kecap.

Derab roda dan ketukan sepatu kuda pun turut menyampaikan makna kemeriahan kirab. Dentuman drum band yang dimainkan oleh sekelompok orang itu pun membuat suasana semakin marak lagi. Di ikuti oleh petugas bendera yang tampak asik memainkan benderanya. Di tambah lagi para petugas pemadam kebakaran yang sedang asik menyemprotkan airnya ke jalan yang akan di lalui peserta kirab. Suasana panas itupun di sulap menjadi teduh. Tampak beberapa actor pewayangan sedang asik berjalan berada di barisan depan dari partai yang di usungnya. Ada yang beda dari kirab ini. Dari sekian yang di lihat, ternyata ada juga peserta kampanye yang menjadikan waria menjadi sebuah icon. Waria-waria itu berada di barisan depan dengan membawa atribut dan bendera serta ada pula yang sedang asik duduk di dalam kereta kuda. Wow?Ada apa dengan kirab kali ini?mengapa ada waria disana?apakah ini yang namanya sebuah budaya politik dimana terdapat penipuan daya rasional sehingga waria di jadikan icon sebuah kampanye. Sungguh aneh!.padahal banyak penonton yang berharap bisa menyaksikan tontonan kirab yang berkualitas dan terdapat unsur pendidikan politik di dalamnya. Namun yang terjadi adalah sebuah tontonan yang menyajikan waria-waria sebagai icon dari partai. Bagaimana jika ada anak-anak yang menyaksikan kirab itu. Mereka melihat waria-waria. Anak-anak itu bisa jadi terhipnotis ketika melihat waria-waria, yang lebih jauhnya lagi, anak-anak tadi akan mengikuti perilaku waria-waria yang ditontonnya. Semoga saja tidak.

“apakah ini yang namanya sebuah budaya politik dimana terdapat penipuan daya rasional sehingga waria di jadikan icon sebuah kampanye. Sungguh aneh!.padahal banyak penonton yang berharap bisa menyaksikan tontonan kirab yang berkualitas dan terdapat unsur pendidikan politik di dalamnya”.

Damai di persimpangan jalan

Semua orang menginginkan suasana kampanye yang damai. Suatu keadaan yang tidak menimbulkan keresahan dan kekhawatir dalam lingkungan masyarakat. Kampanye yang damai bukan hanya damai dari sudut pandang yang aman dan tanpa adanya konflik. Akan tetapi maknai kata damai dengan lebih mendalam. Damai itu berarti untuk semua (holistic). Semua yang ada di lingkungan, termasuk me-manusiakan manusia (humanis) dan lingkungan alam. Damai inilah yang sebenar-benarnya damai. Tapi yang untuk detik inipun kita masih saja melihat dan mendengar aktifitas kampanye yang menggunakan metode konvensional. Aktifitas kampanye yang konvensional itu diantaranya, menggunakan kendaraan bermotor (arak-arakan) yang membuat suasana menjadi bising. Kebisingan itu membuat pencemaran suara. Orang yang mendengarnya pasti akan merasa terganngu. Begitu pula berbagai pengguna jalan umum mereka pasti juga terganggu oleh arak-arakan kendaraan. Macet dan merasahkan semua pengguna jalan itulah akibat dari arak-arakan. Aktifitas kampanye semacam inilah yang sama sekali tidak membuat keadaan damai.Oleh karena itu, kampanye konvensional itu harus segera di tindak sebagai perilaku pelanggaran kampaye.

Kampanye yang damai bukan hanya damai dari sudut pandang yang aman dan tanpa adanya konflik. Akan tetapi maknai kata damai dengan lebih mendalam. Damai itu berarti untuk semua (holistic). Semua yang ada di lingkungan, termasuk me-manusiakan manusia (humanis) dan lingkungan alam.

Ketika melihat kirab budaya politik di kota solo kita pun masih menyaksikan perilaku kampanye yang belum damai secara totalitas. Secara konsepnya, kirab budaya politik itu sudah cukup apik. Dan mendekati makna damai totalitas. Kita bisa melihat delman, sepeda dan becak, dan longmarch (jalan kaki). Semua itu terasa damai tanpa kendaraan bermotor. Akan tetapi sayang sekali, kita masih saja menyaksikan arak-arakan kendaraan bermotor yang menggeber-geberkan knalpotnya di sekeliling perpaduan budaya itu. Ternyata apa yang di tonton tidaklah memberikan suasana damai seperti apa yang di usung oleh KPU yaitu Kampanye damai.

Ikut ataupun tidak ikut kampanye adalah Pilihan

Untuk kampanye di kota solo yang harus ditekankan adalah suatu kampanye yang berbudaya. Budaya yang sopan dan santun. Dan bukan budaya yang merusak ataupun arak-arakan. Karena bukan jamannya lagi arak-arakan dalam berkendaraan. Tapi kini saatnya menunjukkan ada cara yang lebih santun dalam berkampanye tanpa mengganggu ketenangan dan kedamaian. Jika masih menggunakan kendaraan bermotor, gunakanlah kendaraan itu secara normal. Dan selalu mentaati peraturan lalu lintas. Karena sering kali dalam kampanye banyak pengendara bermotor yang seenaknya menerobos rambu-rambu lalu lintas. Seolah mereka adalah penguasa jalanan saat itu. Padahal tindakan mereka itu telah menodai budaya kota solo. Dan menodai budaya yang damai. Kita ingin kampanye terbuka menjadi suatu momentum untuk bersosialisasi dan mengenal permasalahan di masyarakat. Jangan lagi ada kebisingan dan konflik horizontal antar partai.

Masyarakat memiliki hak untuk ikut kampanye ataupun tidak. Mereka yang ikut untuk kampanye tentu saja menginginkan kondisi yang kondusif. Mereka juga ingin melihat calon-calon pemimpin berdasarkan dengan kecerdasannya dan kharismatiknya. Serta pemimpin yang mengenal masyarakatnya. Bukan calon pemimpin yang cuma bisa mengumbar janji kemudian omong kosong Sedangkan, ada masyarakat yang memutuskan untuk tidak ikut kampanye adalah pilihannya. Yang jelas mereka adalah orang yang telah menggunakan haknya dengan baik. Mungkin saja mereka telah mengerti bahwa kampanye itu hanyalah kiasan. Mereka telah mencermati dengan seksama dari masa ke masa, dari sejarah dan yang bersejarah. Sehingga menurutnya, tidak ikut kampanye adalah lebih baik dan paling baik.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: