Kertas langka, koranpun kian tipis??

Media cetak akhir-akhir ini sedang menghadapi situasi krisis. Krisis itu dikarenakan semakin meledaknya biaya pengeluaran berupa pembelian kertas Koran. Kertas yang menjadi bahan baku utama sekaligus sebagai media tempat tulisan di tercetak kini untuk mendapatkannya harus merogoh kocek yang besar. Seperti yang yang melanda media cetak di amerika serikat (US), media mercury news menyatakan akan mengurangi oplah penerbitan. Tidak hanya itu, perusahaan itu juga memberlakukan pemangkasan terhadap jumlah halaman rubriknya. Hal itu dilakukan untuk efisiensi biaya perusahaan yang kian tidak terjangkau. Sungguh kondisi yang tidak terpikirkan sebelumnya. Di tengah-tengah maraknya media cetak untuk bersaing dalam meraih pasarnya, harus menelan pil pahit dengan mengambil kebijakan untuk mengurangi content dan jumlah rubric.

“Kertas yang menjadi bahan baku utama sekaligus sebagai media tempat tulisan di tercetak kini untuk mendapatkannya harus merogoh kocek yang besar. Seperti yang yang melanda media cetak di amerika serikat (US), media mercury news menyatakan akan mengurangi oplah penerbitan”.

Mahalnya harga kertas dunia memang harus di maklumi. Begitu pula dengan kebijakan yang di ambil oleh perusahaan mercury news. Hal ini perlu ditelusuri, kertas yang kini semakin limited mesti ada pengaruh atau factor-faktor yang menjadi penyebabnya. Kertas di hasilkan dari kayu pohon yang telah diolah menjadi lembaran-lembaran. Lalu bagaimana ,dengan kondisi pohon yang menghasilkan kayu tersebut?. Sepertinya pohon-pohon yang selama ini diambil untuk digunakan menjadi kertas semakin menipis kapasitasnya. Pohon memerlukan waktu yang lama hingga belasan bahkan puluhan tahun untuk dapat diambil manfaatnya. Mungkin saja selama ini, telah terjadi pengeksploitasian besar-besaran terhadap pohon yang di tumbuh di hutan. Nampak jelas, di hutan amazon yang sebelumnya memiliki hutan terluas kini tinggallah semak belukar luas dan padang ialang. Begitu juga, hutan yang ada di Kalimantan, papua dan Sumatra yang semakin mempihatinkan. Banyak pohon alam yang di eksploitasi untuk diambil kayunya dan diolah menjadi lembaran-lembaran kertas. Tanaman bakau juga semakin minim jumlahnya. Tissue yang selama ini ada adalah hasil dari bubur bakau yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan lebaran yang lembut dan halus. Padahal tissue hanya digunakan sesekali saja. Tapi penghasil atau bahan baku tissue tidak cukup sesekali waktu untuk bisa tumbuh. Diperlukan waktu yang panjang. Ironis, dan begitu ironis. Eksploitasi terhadap hutan dan tanaman bakau yang dilakukan oleh orang-orang demi kebutuhan ekonominya tidak sebanding dengan usahanya untuk mengembalikan kembali kondisi hutan seperti awalnya. Lalu bagaimana dengan kertas yang ada saat ini??Apa mungkin kegiatan pengahancuran hutan masih dilakukan untuk mendapatkan kertas yang lebih banyak?. Jika dipikir mungkin saja hal itu masih berlaku.

“Banyak pohon alam yang di eksploitasi untuk diambil kayunya dan diolah menjadi lembaran-lembaran kertas. Tanaman bakau juga semakin minim jumlahnya. Tissue yang selama ini ada adalah hasil dari bubur bakau yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan lebaran yang lembut dan halus”

Surat kabar di AS merugi

Laporan terbaru , analis Deutsche Bank paul ginocchi memprediksi total pendapatan surat kabar di amerika serikat tahun ini (2008) akan merosot 11,2% (tahun lalu sudah turun 9,4%). Pada musim gugur harga kertas Koran (pengeluaran terbesar surat kabar) dapat mencapai $200 per ton lebih tinggi dibanding setahun lalu. Dean singleton (CEO Media news) menyampaikan estimasi bahwa 19 dari 50 surat kabar teratas di AS merugi (business weeks magz, juli 2008). Surat kabar di AS sebelumnya saling bersaing pasar dengan membadrol harga yang cukup murah. Sama dengan harga surat kabar/Koran yang ada di sekitar kita (Indonesia). Harganya cukup murah meriah. Entah, mengapa harga surat kabar/Koran (ambil contoh di solo) sungguh murah. Padahal jika melihat kondisi surat kabar di AS yang mengalami krisis hingga mengurangi jumlah oplah dan rubrik halamannya. Namun, situasi di solo, obral Koran semakin marak. Harga Koran yang murah, malah membuat orang untuk tidak peduli pada isi dan kualitas. Mereka menganggap, dengan harga yang murah mereka bisa dengan seenaknya menghamburkan lembaran-lembaran Koran dan membuangnya ke tong sampah. Dan kembalilah kertas itu menjadi sampah.

“Pada musim gugur harga kertas Koran (pengeluaran terbesar surat kabar) dapat mencapai $200 per ton lebih tinggi dibanding setahun lalu. Dean singleton (CEO Media news) menyampaikan estimasi bahwa 19 dari 50 surat kabar teratas di AS merugi (business weeks magz, juli 2008)”

Kadang promosi yang dilakukan oleh perusahaan dengan memberikan harga koran yang murah membuat orang menjadi tidak peduli pada nilai kertas. Seperti halnya dengan harga bensin/BBM yang diberlakukan dengan harga yang murah. Semua orang berlomba-lomba untuk menggunakan seenaknya dan tidak memperdulikan kelangsungan minyak yang tersisa di bumi. Lalu bagaimana dengan yang terjadi sekarang??ketika minyak semakin langka, harga pun semakin menggila (hukum ekonomi berjalan). Tapi lucunya hukum ekonomi (permintaan dan penawaran) yang terjadi di Indonesia tidak seperti seharusnya. Bila harga naik, permintaan naik dan bila harga ‘tidak pernah’ turun permintaan tetep naik. Bila harga naik (harga kertas) penawaran tetep naik, bila harga ‘tidak pernah’ turun penawaran masih tetap naik.

Kurangi penggunaan kertas atau KAU akan MERUGI!!!!!!!!!!

Siapapun tidak ingin merugi. Entah perusahaan besar maupun kecil selalu menghindari yang namanya rugi. Untunglah (profit) yang selalu dikejar. Hal ini wajar jika tak ada satupun perusahaan yang tidak ingin merugi. Perusahaan akan melakukan efisiensi untuk mengejar untung dan menghindari kerugian. Ketika harga kertas yang semakin membumbung tinggi, bagi perusahaan media cetak (surat kabar) perlu melakukan efisiensi penggunaan kertas. Karena jika tindakan itu tidak dilakukan maka siap-siaplah menderita rugi. Saat kerugian telah mendera perusahaan maka hancurlah semua harapannya. Kecuali jika perusahaan mengambil tindakan untuk bersegera melakukakn efisiensi penggunaan kertas. Atau jika tidak maka akan seperti yang terjadi beberapa surat kabar AS yang di prediksi akan merugi.

Sampai detik ini, harga kertas tidak akan pernah turun. Selama permintaan dan penawaran tidak sinkron, dan antara harapan/ kebutuhan dengan kenyataan (ril) tidak terjadi, antara hutan (kayu) yang ada dengan kertas yang di harapkan. Mungkinkah kita akan tega untuk mendapatkan sejumlah kertas yang melimpah dengan menghabisi hutan (kayu) menjadi tak tersisa sedikitpun?.Wow. Mungkinkah itu yang akan terjadi. Oh no. Shit sekali KAU.

Sedikit dan secuil masukan untuk perbaikan. Kertas memang menjadi satu-satunya media yang baik untuk terbitnya media cetak. Tapi tidak mungkin harus bertahan dan mengandalkan kertas, sedangkan kertas saat ini terbatas dan harganya membumbung tinggi. Perusahaan surat kabar yang tidak ingin merugi perlu memanfaatkan teknologi cyber. Media cetak yang kini beroperasi beralih/diubah menjadi media internet. Seperti yang telah ada sebelumnya, ambil contoh detik.com/okezone.com dan masih banyak lagi. Dari sinilah efisiensi dan kecepatan untuk informasi masih bisa di sebarluaskan ke masyarakat/pasar yang membutuhkan. Tidak perlu lagi bergantung pada lembaran kertas. SAVE OUR PAPER, so SAVE OUR FOREST.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • fauzi  On September 23, 2008 at 4:33 am

    Hen…Ada lomba karya tulis tentang “Membangun Kepedulian Terhadap Kelestarian Hutan” yang diselengagarakan oleh Yayasan Peduli Hutan Lestari(YPHL) yang deadlinenya tanggal 31 Okt. 2008. Aku sudah punya temanya, tapi susah cari data-data tentang kehutanan di Indonesia. Kemaren aku pinjem buku “Ekologi Hutan” di perpus pusat. Nggak tahu kapanm sempat baca, banyak tugas presentasi, setiap hari.

    Kalo kamu punya infonya, aku tolong dikirimin lewat emailku ini: fauzi_sukri@yahoo.co.id

    Hadiahnya lumayan
    Juara 1 : Uang tunai Rp 20.000.000,- + Trophy + Notebook
    Juara 2 : Uang tunai Rp 15.000.000,- + Trophy + Notebook
    Juara 3 : Uang tunai Rp 10.000.000,- + Trophy + Kamera
    Juara Harapan 1, 2 dan 3 masing-masing Rp. 1.000.000,- + Sertifikat
    . kamu baca aja infonya di KOMPAS (lupa, sekitr 2-3 yang lalu. aku tempel di sekre) atau kamu buka pengumumannya di internet.

    aku tunggu kabar dan info (data)nya!

    Let’s go green Indonesia!

  • HENRY RYU  On September 25, 2008 at 4:38 pm

    oke fauzi..thanx infonya…nti aku cari data2nya.. n ntr aQ krim ke email kM….

  • L.B.P  On October 15, 2008 at 5:20 pm

    MANTAPPPPPPPP tulisannya…tp timbang jauh2 ke AS ke mending ke kalimantan bos ngambil contohnya..namung nek kagem wong cilik koyo kulo,nggih mending save our body dulu, baru save our paper n forest, kulo laper den, belum makan tiga hari..hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: