GOLPUT, SEBUAH PILIHAN YANG TEPAT

cerita dari pilkada jateng, memilih untuk tidak memilih sama sekali.

aku yang sedang mengasingkan jauh ke suatu daerah untuk menjauh dari suasana pilkada’, oleh : henry’green’

Di Indonesia yang menganut system demokrasi sedang berupaya untuk konsisten melaksanakannya. Diawali dengan pemilihan presiden langsung tahun 2004 yang kemudian diikuti dengan pemiihan langsung kepala tingkat daerah dan mungkin pada tataran kecil lembaga yaitu RT. Agaknya bukan merupakan suatu hal yang baru di mata segenap masyarakat Indonesia. Masyarakat telah merasakan pemilihan langsung dalam tataran kecil di kelompoknya dan komunitasnya. Hanya saja bangsa ini baru saja mendeklarasikan system pemilihan langsung untuk memilih pemimpin negeri. Dalam perjalanannya, pemilihan langsung kepada daerah hanya terkesan suatu pesta orang-orang yang punya kepentingan. Sang calon yang di usung dari berbagai kepentingan hanya sebagai alat saja. Dibalik semua itu, banyak sekali kepentingan yang akan dijalankan oleh sang pemilik kepentingan. Maklumlah, kepentingan ada untuk mencapai kekuasaan. Ketika kekuasaan sudah diraih, seakan mereka sudah menang dan tidak ada lagi yang perlu diperhatikan.

Visi dan misi dari sang calon pemimpin daerah tidak lain adalah rekayasa politik yang gelap dan pekat dari partai. Sangat sulit untuk menemukan sebuah pemimpin yang revolusioner di negeri ini. Yang ada hanya pemimpin ‘boneka‘ dari kepentingan partai. Boneka adalah sebuah permainan. Dan yang dijadikan obyek untuk permainan adalah rakyat yang tidak tau apa-apa. Rakyat hanya ditawarkan sebuah boneka yang hanya bisa membuat hiburan saja. Tidak heran jika, pada masa kampanye para calon pemimpin selalu dimeriahkan dengan hiburan, seperti konser dangdutan (lagu katro) dan lawakan/dagelan yang pada intinya hanya menghibur para pemuji boneka. Hiburan yang seperti itu adalah tindakan pembodohan masyarakat yang didesain untuk menghilangkan taraf kesadaran berpikir secara sadar atau rasional. Hiburan atau apapun namanya sangat merajalela ditengah kondisi bangsa yang rawan dan parah. Seharusnya pada masa kampanye bukan hiburan dan sejenisnya yang ditonjolkan melainkan adalah menunjukkan sebarapa pantas, kapabilitas, cerdaskah sang boneka tersebut untuk memimpin rakyatnya. Sang boneka harus bisa mengerti tentang kondisi rakyatnya dan memberikan solusi dan bukti. Bukan dengan hiburan dan nyanyian yang diikuti dengan joget-joget (fuck off). Parahnya lagi, sang boneka itupun ikut bernyayi dan joget dihadapan penggemarnya. Yah, begitulah boneka. Shit sekali.

“Rakyat hanya ditawarkan sebuah ‘boneka’ yang hanya bisa membuat hiburan saja”

Pemilih dan yang dipilih

Dalam suatu pemilihan calon atau bakal calon pemimpin, ada yang namanya pemilih dan yang dipilih. Sang pemilih adalah orang yang memiliki hak untuk menentukan pilihannya. Apakah dia memilih atau tidak, itu terserah sang pemilih. Jangan sampai ada paksaan dan godaan dari orang2 katro. Pemilih memiliki kekuasaan penuh terhadap haknya, dan tidak boleh ada yang mengganggu gugat. Kedaulatan ada ditangan sang pemilih. Dia merupakan sang penentu dari setiap keputusannya (decision maker). Sang pemilih berhak untuk memilih dan tidak memilih suara, ketika keputusannya tidak memilih suatu calon pemimpin berarti dia telah menggunakan haknya. Dan sebaliknya apabila dia mengambil keputusan untuk memilih sang boneka berarti dia juga menggunakan haknya. Jadi, ada 2 pilihan yang dipegang oleh pemilih. Namun, hanya 1 pilihan (vote) yang harus diputuskan. Memilih atau tidak sama sekali.

Yang dipilih (boneka) juga memiliki hak yang serupa dengan pemilih, Hanya saja ada sedikit penekanan pada konteksnya. Bagi sang kodok ‘eh’ boneka dia memiliki hak untuk dipilih dan untuk memilih. Sang boneka lebih senang bila dipilih oleh banyak pemilih, sedangkan dia hanya akan memilih dirinya sendiri yang notabene adalah yang dipilih eit sang boneka. Ketika banyak pemilih yang memilih boneka maka dia akan maju sebagai boneka sesungguhnya, tapi jika hanya sedikit yang memilih boneka maka dia akan jadi boneka-bonekaan alias terpuruk pada kebonekaannya. Hahahahahaha.

Paradoks sebuah pemilihan

Ada sebuah cerita pada suatu pemilihan gubernur central java. Sebut saja si ‘bull’ dan si ‘shit’. Pada minggu 22 juni 2008 waktu setempat, diadakan pemungutan suara untuk memilih calon gubernur central java. terjadi diskusi diantara keduanya: si bull sempat bertanya pada si shit, eh shit kamu pilih siapa dari 5 calon yang ditawarkan KPU?tanya si bull penasaran. Kemudian si shit menjawab, oh aku mah pilih yang no 6 donk. Lalu si bull, mikir sejenak, karena kebingungan, akhirnya dia bertanya lagi ke si shit, loh kok kamu pilih no 6, kan Cuma ada 5 pilihan. yaiya donk masa yaiya deh, ujar si shit. Lalu dia serius menjawab, sebenarnya aku sudah memilih untuk tidak memilih satu pun dari mereka. Oleh karena itulah aku memilih no 6 alias untuk tidak memilih alias golput, jawab si shit. Si bull semakin kebingungan atas apa yang dikatakan oleh si shit, lalu ia berpegangan pada tiang agar tidak jatuh. Lalu akhirnya, si bull sadar dan mengerti bahwa memilih untuk tidak memilih adalah hak seorang pemilih. Pada akhirnya, si bull dan si shit sepakat untuk tidak memilih calon gubernur alias golput. Golput atau tidak sama sekali.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • uniq  On June 23, 2008 at 7:07 am

    artikel anda menarik dan berguna untuk pembaca…

    http://politik.infogue.com/
    http://politik.infogue.com/golput_sebuah_pilihan_yang_tepat

    promosikan artikel anda di http://www.infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler menurut pembaca di seluruh nusantara.salam blogger!!!!

  • blackswan  On June 24, 2008 at 8:30 am

    golput…?

    bole juggaaaa…..

  • taUbat  On July 18, 2008 at 5:20 pm

    Tidak memilih adalah pilihan juga.
    yang tidak memilih artinya mendukung sebagai pemenangnya.
    berarti pilihan belum tepat.

  • Landy  On August 6, 2008 at 2:49 pm

    Golput ehmmmmmmmmmm sama donk🙂

  • L.B.P  On August 10, 2008 at 3:49 pm

    bos…artikel lo kog skeptis bgt sih, biasa bgt,kaya org2 yg pesimis…kesalahan ada pada sistemnya bos bkn pada orang2nya, lo blg cm dijejelin dangdutan,emg dari dulu org indonesia sukanya yg gt2, gini bos, gw saran ya,ada pepatah klo org mau ngerubah sistem, harus masuk n eksis kedalam sistem tersebut,nah mampu gak lo merubahnya,udah byk org yg ngemeng ky gini..butuh tindakan bos…makanya mending kita2 ni ya, lulus dulu, kerja, br deh ngrasain dunia yg sebenarnya,jgn bisanya cm komentar aja…emg mau jd bangsa komentator,wakakakakaka,piss

  • ZEE  On December 13, 2008 at 1:37 am

    GOLPUT = GOBLOK , HIDUP INI PILIHAN , MEMILIH DIANTARA BERBAGAI RESIKO . JIKA MAUNYA CUMAN MILIH ENAK MENDINGAN GAK USA HIDUP AJA . YA GK MAS ENRY . ETT FS KU YA LORENZO_DFAUZI@YAHOO.CO.ID , AKU TEMENE MBAK ROSTY LOH , EHEM EHEM . . .

  • HENRY RYU  On March 15, 2009 at 8:56 am

    apapun tanggpan anda sya maklumi…tp pendapat yg cerdas dan berpikir terlebih dahulu sblum menulis itulah yg aq maklumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: