Tontonan Vs Tuntunan

Masa depan bukan suatu tempat yang kita tuju melainkan sesuatu tempat yang kita ciptakan. Lintasan-lintasan menuju ke sana bukan ditemukan melainkan dibuat dan kegiatan membuat jalan-jalan itu membuahkan perubahan bagi si pembuat dan bagi yang dituju

(John schaar, pakar sosiologi AS)

Orang yang hidup di negeri ini rasanya lebih cenderung senang menjadi tontonan. Menunjukkan berbagai gaya dan aksinya demi memikat perhatian insan lain. Tidak peduli orang bilang apa saja. Kalau kata maya n friend tenarnya disebut egp (emang gue pikirin) Sepertinya wabah orang yang senang jadi tontonan semakin marak. Adanya aneka acara di televisi ajang bergensi yang mengumbar diri untuk ditonton banyak orang semakin memperparah keadaan. Acara – acara lain yang serupa sudah menghiasi seluruh stasiun TV di negeri ini. Demi keberlangsungan hidup stasiun tv dan hiburan bagi penonton agaknya esensi – esensi dan fungsi media telah berubah. Media tidak lagi mengajak masyarakat untuk lebih dewasa dalam berpikir dan menganalisis realitas. Masyarakat atau penonton dijadikan obyek permainan oleh media tersebut. Tinggal kini saatnya massa atau penonton mampu selektif terhadap terpaan hal yang mubajir atau tidak berguna.

Kebanggaan terhadap keberhasilan dan ingin segera ditonton oleh banyak orang adalah ciri orang yang senang jadi tontonan. Padahal tontonan sering dikonotasikan pada hewan atau sejenisnya. Hewan yang memilki keahlian yang luar biasa sehingga banyak orang yang menontonnya. Telebih lagi, anak kecil yang senang sekali menonton pertunjukan hewan lincah itu. Tertawa hingga terbahak-bahak menjadi pelengkap jika tontonan yang dilihat menggelitik dan lucu. Ironisnya menertawakan tontonan yang menggelitik itu dikonotasikan sebagai ungkapan puas atas penampilan yang ditonton. Contoh Kongkret lain dari tontonan yaitu korupsi yang dilakukan oleh jaksa. Kasus tersebut sangatlah memprihatinkan dan memalukan. Seorang jaksa yang seharusnya memberikan contoh dan menjalankan hukum dengan baik tapi malah membuat perkara. Jelas-jelas kasus tersebut menandakan bahwa hukum di negeri ini telah dipermainkan oleh pelaku hokum sendiri. Maka pantaslah jika tidak ada lagi rakyat yang percaya pada keberadaan hukum di negeri ini.

Apabila kita menyadari terhadap apa yang terjadi selama ini, maka banyak sekali tontonan yang dapat kita tonton atau lihat. Namun kita jarang sekali mendapatkan tuntunan yang mengajak kita kepada kedewasaan berpikir dan berperilaku. Krisis tuntunan adalah sebuah masalah yang besar. Terlebih lagi negeri ini adalah negeri yang besar. Negeri yang banyak sekali memimpikan perubahan besar namun jarang yang berhasil. Ketidakberhasilan ini bisa jadi karena tidak adanya tuntunan. Pemimpin adalah tuntunan bagi yang dipimpinnya. Jika negeri ini memiiki pemimpin yang memiliki karakter tuntunan yang kuat maka keadilan dan kemakmuran bagi rakyat akan tercapai. Akan tetapi, semua impian itu belum terwujud. Impian selamanya hanyalah impian. Masa silam pernah kita dengar bahkan kita ucapkan bahwa seorang pemimpin hendaknya ‘ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani’. Paling tidak dari ketiga sifat tersebut harus dimiliki seorang pemimpin. Kita pasti mengetahui bahwa kemajuan suatu organisasi besar /bangsa ditentukan oleh pemimpin yang dapat dijadikan tuntunan oleh bawahan atau rakyat.

Asalkan komitmen pemimpin untuk mampu menjadi tuntunan dapat dipenuhi maka akan terwujud kepemimpinan yang berwibawa dan menjadi panutan masyarakat. Tapi jangan sekali – sekali muncul keinginan pemimpin untuk jadi tontonan yang tebar pesona dan bangga dilihat orang (penonton). Tontonan hanya bersifat sementara dan tidak mampu membekas lama kepada penonton. Sebaliknya, tuntunan akan sanggup bertahan lama sampai kapanpun dalam periode waktu yang lama.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • fauzansigma  On April 5, 2008 at 10:46 am

    hi.. henry, to yg pnya ini?siip siiip.. link back yak.. kliatanya kita harus bahu membahu budayakan aktivitas ngeblog ke mhswa UNS deh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: