analisis gender (Berdasarkan masalah = Proba)

 

MENGANALISIS BERDASARKAN MASALAH  (Problem Base Analysis) Terkait dengan Gender di Idonesia

Oleh : Henry

 

1.      Perdagangan anak, Indonesia tingkat perdagangan anak terutama perempuan menempati urutan ke tiga dunia. Orang tua dengan teganya menjual anaknya demi memperoleh kebutuhan ekonomi. Anak perempuan menjadi korban entah korban atau emang sengaja dikorbankan (seperti idul adha saja, 20 desember 2007) , tetapi sungguh menyedihkan, anak dijadikan alat untuk bekerja (pelacur). Padahal mereka belum waktunya untuk bekerja. Sekolah adalah tempat mereka berada. Menuntut ilmu dan mencari skill untuk bekerja. Ketika kemampuan atau skill tidak ada, lalu apa yang diandalkan oleh anak2 tersebut?jalan pintas melacur sering dianggap legal bagi sebagian orang, yah mungkin orang tersebut adalah orang tua sendiri. Darah dagingnya yang sejak dilahirkan hingga besar, kini hanya dijadikan dagangan dan barang yang bernilai ekonomi.  Apa yang melatarbelakangi masalah tersebut, mengapa hal ini terjadi dan bisa mencetak rekor ketiga tingkat dunia. Kenapa tidak ada tindakan konkrit untuk meredam masalah ini, ataukah ini telah menjadi  batu loncatan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang selalu mendesak?.masalah ini sepertinya terekam dalam Data BPS berdasarkan angkatan kerja atas dasar usia 15-19 tahun 2005 laki-laki  dan perempuan  4.554.518 dan 3.166.239  sedangkan tahun 2006 laki-laki dan perempuan 4.450.060 dan 3.213.997. di samping itu pula, di Indonesia persentase pendidikan tertinggi yang pernah ditamatkan oleh penduduk masih didominasi oleh lulusan SD sebesar 36,58% pada bulan agustus 2006.

Lalu apa sih sesungguhnya pengertian perdangan anak (trafficking). Perdagangan anak atau “Perdagangan manusia berarti pengerahan, pengangkutan, pemindahan, penyembunyian atau penerimaan orang dengan menggunakan berbagai ancaman atau paksaan atau bentuk-bentuk lain dari kekerasan, penculikan, penipuan, muslihat, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan berupa pemberian atau penerimaan pembayaran atau keuntungan untuk mendapatkan izin dari orang yang memiliki kendali atas orang lain untuk tujuan eksploitasi.  

Trafiking, menurut ICMC/ACIL tidak hanya merampas hak asasi tapi juga membuat mereka rentan terhadap pemukulan, penyakit, trauma dan bahkan kematian. Pelaku trafiking menipu, mengancam, mengintimidasi dan melakukan tindak kekerasan untuk menjerumuskan korban ke dalam prostitusi.

Pelaku trafiking menggunakan berbagai teknik untuk menanamkan rasa takut pada korban supaya bisa terus diperbudak oleh mereka. Menurut ICMC/ACIL, beberapa cara yang dilakukan oleh pelaku terhadap korban antara lain (ICMC/ACIL-Mimpi Yang Terkoyak, 2005):

a)      Menahan gaji agar korban tidak memiliki uang untuk melarikan diri;

b)      Menahan paspor, visa dan dokumen penting lainnya agar korban tidak dapat bergerak leluasa karena takut ditangkap polisi;

c)      Memberitahu korban bahwa status mereka ilegal dan akan dipenjara serta dideportasi jika mereka berusaha kabur;

d)     Mengancam akan menyakiti korban dan/atau keluarganya;

e)      Membatasi hubungan dengan pihak luar agar korban terisolasi dari mereka yang dapat menolong;

f)       Membuat korban tergantung pada pelaku trafiking dalam hal makanan, tempat tinggal, komunikasi jika mereka di tempat di mana mereka tidak paham bahasanya, dan dalam “perlindungan” dari yang berwajib; dan

g)      Memutus hubungan antara pekerja dengan keluarga dan teman;

Seberapa pesat dan menjamurkah perkembangan perdagangan anak di Indonesia?. Menurut penelitian ilo-ipec dalam patilima, hamid (2003), tahun 2003 di jawa tengah, di yogyakarta, jawa timur, jakarta, dan jawa barat memperkuat bahwa trafiking di indonesia merupakan masalah yang sangat kompleks karena juga diperluas oleh faktor ekonomi dan sosial budaya. kualitas hidup miskin di daerah pedesaan dan desakan kuat untuk bergaya hidup materialistik membuat anak dan orang tua rentan dieksplotasi oleh trafiker. disamping diskriminasi terhadap anak perempuan, seperti kawin muda, nilai keperawanan, pandangan anak gadis tidak perlu pendidikan tinggi menjadi kunci faktor pendorong. anak-anak yang ditrafiking bekerja dengan jam kerja relatif panjang dan rawan kekerasan fisik, mental, dan seksual. mereka tidak mempunyai dukungan atau perlindungan minimal dari pihak luar. kesehatan mereka juga terancam oleh infeksi seksual, perdagangan alkohol dan obat-obatan terlarang.

2.      Pendidikan wanita dan pria (lebih tinggi pendidikan pada pria), berdasarkan data dari BPS dari tahun 2004 – 2006 tingkat pendidikan pada wanita selama tiga tahun tersebut selalu mengalami penurunan, sedangkan pada pria sebaliknya. Ini merupakan permasalahan yang perlu di cari solusinya. Ada apa dengan kesenjangan tersebut?. Rendahnya tingkat pendidikan pada kaum wanita menyebabkan pula rendahnya tingkat melek huruf. Berdasarkan data BPS tahun 2007 menyebutkan bahwa angka melek huruf penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun,dari tahun 2004-2005 kaum wanita terendah dibandingkan dengan pria. Sebagai contoh di provinsi jawa tengah pada tahun 2004 pria menduduki 91,2% sedangkan wanita 81,5%. Pada tahun berikutnya (2005) 92,5% dan wanita 82,6%. Sungguh ironis,apabila masalah pelik ini tidak ada perubahan pada tahun berikutnya. Wanita harus sanggup sama dengan pria jika ingin diakui kesetaraan gendernya. Masih menurut BPS (2007), terdapat data yang menyebutkan rata-rata lama sekolah antara pria dan wanita dari propinsi yang ada di inonesia, wanita masih rendah dibandingkan dengan pria. Hanya ada di satu propinsi yaitu gorontalo, dalam rata-ratanya wanita lebih tinggi dari pria.

Kenapa banyak anak putus sekolah? Jawabnya sederhana saja, banyak orang tua yang memandang pendidikan tidak penting, atau akibat dari kondisi social  ekonomi mereka yang amat memprihatinkan. Hasil penelitian Prof Mulyono (1993) misalnya menyebutkan, anak yang putus sekolah di Jateng, 93 persen orang tua mereka setinggi-tingginya hanya berpendidikan sekolah dasar.

Karena desakan ekonomi, anak-anak mereka akhirnya tidak disekolahkan, dan justru “dieksplotasir” tenaganya untuk membantu mencari nafkah. Harbison (1981) menyebutkan latar belakang orang tua untuk mempekerjakan anaknya adalah dalam rangka kelangsungan hidup keluarga (household survival strategy).

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • naa  On April 12, 2008 at 10:09 am

    hei…lihat tulisan kamu jadi inget salah satu guruku pernah bilang kalo hal yang bikin bangsa jepang jadi bangsa yang cerdas adalah karena para ibu di jepang memilih profesi yang paling mulia, yaitu menjadi guru (pendidik buat anak2nya), entah mereka ibu rumah tangga, wanita kantoran, guru tk, maupun dosen sekalipun, mereka tetap memberi perhatian yang lebih buat anak2nya, dan satu hal yang pasti, gen kecerdasan katanya sih, sebagian besar menurun dari ibunya, soooo, hopefully, suatu saat nanti Indonesia bisa jadi bangsa yang penuh sama wanita2 cerdas, dan mencerdaskan bangsa y hen,…aminnn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: