<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Be A Greener Person</title>
	<atom:link href="http://henryaja.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://henryaja.wordpress.com</link>
	<description>&#34;Save Our Environment&#34; (Reduce &#124; Reuse &#124; Recycle &#124; Replace)</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Dec 2011 14:11:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='henryaja.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/5ca8173411b0564f00d8d134dd80399a?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Be A Greener Person</title>
		<link>http://henryaja.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://henryaja.wordpress.com/osd.xml" title="Be A Greener Person" />
	<atom:link rel='hub' href='http://henryaja.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Proses Pendataan e-KTP di Jakarta Kacau</title>
		<link>http://henryaja.wordpress.com/2011/12/05/proses-pendataan-e-ktp-di-jakarta-kacau/</link>
		<comments>http://henryaja.wordpress.com/2011/12/05/proses-pendataan-e-ktp-di-jakarta-kacau/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 15:36:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>henryaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[EDITORIAL]]></category>
		<category><![CDATA[SOSIAL]]></category>
		<category><![CDATA[URBAN]]></category>
		<category><![CDATA[antrian warga]]></category>
		<category><![CDATA[catatan sipil]]></category>
		<category><![CDATA[chip digital]]></category>
		<category><![CDATA[dinas kependudukan]]></category>
		<category><![CDATA[e-ktp]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kelurahan]]></category>
		<category><![CDATA[kementrian dalam negeri]]></category>
		<category><![CDATA[ktp elektronik]]></category>
		<category><![CDATA[ktp nasional]]></category>
		<category><![CDATA[pendataan warga]]></category>
		<category><![CDATA[sidik jari]]></category>
		<category><![CDATA[sistem online]]></category>
		<category><![CDATA[tanda tangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henryaja.wordpress.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang matahari terbit, orang-orang sudah terlihat berkumpul di halaman kelurahan, mulai dari Ibu-ibu, bapak-bapak, kakek-nenek, anak muda tampak menunggu dengan ketidakpastian atas proses pendataan e-ktp. Sementara petugas di kelurahan itu belum juga tampak batang hidungnya. Di Kelurahan Batavia, 5 Desember 2011 Oleh :   Henry Program e-KTP telah digulirkan oleh pemerintah pusat melalui kementrian dalam negeri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=henryaja.wordpress.com&amp;blog=2422545&amp;post=459&amp;subd=henryaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><em>Menjelang matahari terbit, orang-orang sudah terlihat berkumpul di halaman kelurahan, mulai dari Ibu-ibu, bapak-bapak, kakek-nenek, anak muda tampak menunggu dengan ketidakpastian atas proses pendataan e-ktp. Sementara petugas di kelurahan itu belum juga tampak batang hidungnya.</em></p>
<p align="center"><strong><em>Di Kelurahan Batavia, 5 Desember 2011</em></strong></p>
<p align="center"><strong>Oleh :   Henry</strong></p>
<div id="attachment_460" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://henryaja.files.wordpress.com/2011/12/img00100-20111205-0826.jpg"><img class="size-medium wp-image-460" title="Antrian warga di Kelurahan" src="http://henryaja.files.wordpress.com/2011/12/img00100-20111205-0826.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Antrian warga di Kelurahan &quot;Tugu Batu&quot; menunggu nomor urut proses pendataan e-ktp (5 des 2011)</p></div>
<p>Program e-KTP telah digulirkan oleh pemerintah pusat melalui kementrian dalam negeri dan dinas kependudukan dan pencatatan sipil. Hal ini merupakan suatu program yang baik, karena setelah sekian lama tidak ada perubahan dalam hal system kependudukan yang carut-marut. Namun kini Indonesia sedang berusaha mewujudkan mimpinya, meskipun kita telah tertinggal oleh beberapa negara di antaranya China, India, Malaysia, Jerman. Sebelum melangkah lebih jauh ada baiknya kita ketahui dahulu apa sebenarnya fungsi e-KTP ini? apa bedanya dengan KTP konvensional? Dikutip dari situs <a href="http://www.e-ktp.com/">www.e-ktp.com</a>,  fungsi e-ktp antara lain: sebagai identitas diri, berlaku nasional, sehingga tidak perlu lagi membuat KTP lokal untuk penggunaan ijin, pembukaan rekening bank dll, mencegah KTP ganda dan pemalsuan KTP, terciptanya keakuratan data penduduk untuk mendukung program pembangunan.</p>
<p>Seiring berjalannya waktu e-KTP pun telah digelar di beberapa kota dan wilayah termasuk Jakarta. Di Jakarta proses pendataan e-KTP masih berjalan dan belumlah selesai. Walaupun pemerintah menargetkan bahwa proses pendataan selesai pada akhir tahun 2011. Sepertinya target ini akan meleset jauh. Kita lihat saja, proses pendataan kependudukan di beberapa kelurahan di Jakarta. Banyak warga yang antri tanpa kepastian menunggu giliran untuk di ambil datanya seperti : foto, sidik jari tangan,tanda tangan, dan scan mata. Di tempat itu, dengan peralatan computer yang hanya 2 buah dan sumber daya orang kelurahan yang ala kadarnya menjadi penghambat proses ini. Padahal warga yang jumlahnya ratusan telah menunggu di luar , di bawah tenda dan kursi yang telah termakan usia.<span id="more-459"></span></p>
<p>Warga itu rela berdatangan dari jam 5 pagi setelah subuhan, sebelum pintu kelurahan itu dibuka. Mereka adalah para ibu yang datang sembari menggendong anaknya, ditemani bapaknya, para orang tua dan anak muda. Alangkah semangatnya warga ini, mereka rela meninggalkan aktifitas sehari-hari demi mengikuti proses pendataan E-KTP. Namun usaha dan semangat warga itu tidak mendapat perhatian dari pihak kelurahan Tugu Batu (bukan nama sebenarnya). Sementara mereka yang berkepentingan (aparat kelurahan) baru datang ke kantornya jam 8.30 pagi. Dan tanpa rasa bersalah, mereka memulai aktifitasnya tanpa meminta maaf atas perilaku santainya yang telah menelantarkan warganya. Pada saat itu pun warga mengumpulkan berkas undangan di meja yang telah disipakan pihak kelurahan. Tumpukan berkas itu yang kemudian menjadi sebuah antrian untuk mendapatkan nomor urut. Artinya warga yang datang ke kelurahan itu sesungguhnya belum langsung bisa didata, melainkan hanya untuk mendapatkan nomor urut antrian saja. Dari nomor urut itulah kemudian warga bisa langsung mengikuti tahap pengambilan foto, sidik jari, tanda tangan, dan scan mata. Tentunya ini adalah proses yang lambat yang aplikasikan oleh pihak kelurahan. Mereka secara tidak langsung telah membuang-buang waktu warganya untuk mendapatkan antrian. Bukankah ada cara yang lebih tersistematis untuk memperoleh antrian dan jadwal yang akurat????????.</p>
<p><strong>Jalankan system online</strong></p>
<p>Kekesalan dan kekecewaan warga Jakarta terhadap proses e-ktp seharusnya menjadi evaluasi terhadap pelaksanaan di lapangan yang tidak beraturan. Terutama para petugas kelurahan yang menjadi garis depan proses pendataan ini. Merekalah yang seharusnya di bina terlebih dahulu dan diberikan pelatihan sebelum e-ktp digelar. Sehingga para petugas di kelurahan itu dapat memberikan pelayanan yang baik untuk warganya. Bukan malah sebaliknya. Banyak warga yang hilang waktunya sia-sia karena mengikuti antrian yang tidak jelas di kelurahan. Seperti halnya ibu-ibu yang rela datang ke kantor kelurahan sembari menimang-nimang anaknya, ada juga warga yang rela harus mengambil cuti/ijin kerja demi mengikuti pendataan e-ktp ini. Ada juga anak muda, pelajar dan mahasiswa yang harus meliburkan dirinya untuk turut di data.</p>
<p>Permasalahan proses pendataan ini harus segera diatasi dengan cara yang cepat bukan malah dibiarkan begitu saja (selalu saja begini). Terutama oleh pihak yang berkepentingan harus segera mengambil langkah cepat dan membuat prosedur yang terencana. Seharusnya dalam hal ini pihak yang berkepentingan tersebut membuat system pendataan system online terlebih dahulu. Artinya warga yang telah menerima berkas undangan pendataan kemudian mendaftarkan dirinya melalui system online (berbasis internet) yang selanjutnya mereka memperoleh nomor antrian dan jadwal (hari/tgl/bulan/tahun/jam/menit/detik) yang jelas. Sehingga warga mengetahui nomor antrian berikut jadwalnya secara akurat. Dengan cara ini warga menjadi lebih mudah dalam mengatur waktunya dan untuk selanjutnya datang ke kelurahan setempat. Cara ini menjadi lebih manusiawi dari pada mereka harus datang pagi-pagi tetapi aparat kelurahannya belum pada datang, datang seenaknya. Dan cara pendaftaran online sesesungguhnya sejalan dengan logika e-ktp dan sebuah pembelajaran kepada semuanya untuk bersama-sama menggunakan teknologi informasi/internet untuk kemudahan. Tidak hanya untuk chating dan facebook-an saja.</p>
<br />Filed under: <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/editorial/'>EDITORIAL</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/sosial/'>SOSIAL</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/urban/'>URBAN</a> Tagged: <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/antrian-warga/'>antrian warga</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/catatan-sipil/'>catatan sipil</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/chip-digital/'>chip digital</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/dinas-kependudukan/'>dinas kependudukan</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/e-ktp/'>e-ktp</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/jakarta/'>jakarta</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/kelurahan/'>kelurahan</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/kementrian-dalam-negeri/'>kementrian dalam negeri</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/ktp-elektronik/'>ktp elektronik</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/ktp-nasional/'>ktp nasional</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/pendataan-warga/'>pendataan warga</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/sidik-jari/'>sidik jari</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/sistem-online/'>sistem online</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/tanda-tangan/'>tanda tangan</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/henryaja.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/henryaja.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/henryaja.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/henryaja.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/henryaja.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/henryaja.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/henryaja.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/henryaja.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/henryaja.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/henryaja.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/henryaja.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/henryaja.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/henryaja.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/henryaja.wordpress.com/459/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=henryaja.wordpress.com&amp;blog=2422545&amp;post=459&amp;subd=henryaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henryaja.wordpress.com/2011/12/05/proses-pendataan-e-ktp-di-jakarta-kacau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.562162 110.819238</georss:point>
		<geo:lat>-7.562162</geo:lat>
		<geo:long>110.819238</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3e96ddffd2fcd846500a67fc7510c2f5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">henryaja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://henryaja.files.wordpress.com/2011/12/img00100-20111205-0826.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Antrian warga di Kelurahan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Car Free Day di Jakarta Belum Merata</title>
		<link>http://henryaja.wordpress.com/2011/11/23/car-free-day-di-jakarta-belum-merata/</link>
		<comments>http://henryaja.wordpress.com/2011/11/23/car-free-day-di-jakarta-belum-merata/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 17:33:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>henryaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[REKOMENDASI]]></category>
		<category><![CDATA[SOSIAL]]></category>
		<category><![CDATA[URBAN]]></category>
		<category><![CDATA[bebas kendaraan bermotor]]></category>
		<category><![CDATA[bundaran hotel indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[car free day]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta utara]]></category>
		<category><![CDATA[jalur sepeda]]></category>
		<category><![CDATA[kelapa gading]]></category>
		<category><![CDATA[kemayoran]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas sepeda]]></category>
		<category><![CDATA[macet]]></category>
		<category><![CDATA[monas]]></category>
		<category><![CDATA[Polusi]]></category>
		<category><![CDATA[sehat]]></category>
		<category><![CDATA[senayan]]></category>
		<category><![CDATA[sepeda]]></category>
		<category><![CDATA[sunter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henryaja.wordpress.com/?p=453</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Udara pagi di Jakarta waktu itu, kami nikmati bersama dengan menggowes sepeda, tanpa polusi, sehat secara alami&#8221;. Batavia, 24 November 2011 _Henry_ Pagi itu di Jakarta (13/11) sekitar jam 6 pagi bertepatan dengan pemberlakuan hari bebas kendaraan bermotor (car free day). Sepeda ini pun telah siap untuk berjalan menelusuri jalan-jalan Jakarta yang masih cukup sepi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=henryaja.wordpress.com&amp;blog=2422545&amp;post=453&amp;subd=henryaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="alignleft" title="Car Free Day" src="http://www.worldcarfree.net/wcfd/img/carfree_day_logo.jpg" alt="" width="375" height="213" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8220;Udara pagi di Jakarta waktu itu, kami nikmati bersama dengan menggowes sepeda, tanpa polusi, sehat secara alami&#8221;.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">Batavia, 24 November 2011<br />
_Henry_</p>
<p>Pagi itu di Jakarta (13/11) sekitar jam 6 pagi bertepatan dengan pemberlakuan hari bebas kendaraan bermotor (car free day). Sepeda ini pun telah siap untuk berjalan menelusuri jalan-jalan Jakarta yang masih cukup sepi dari kendaraan bermotor. Tak ada suara bising yang terdengar dari cerobong asap kendaraan dan polusi yang terus mengotori kota ini. Meskipun di hari bebas kendaraan ini tidak sepenuhnya bebas dari kendaraan bermotor, karena masih saja ada kendaraan yang secara konsisten mengotori udara Jakarta yang masih bersih. Padahal jika <em>car  free</em> <em>day</em> ini diberlakukan tiap  hari minggu (bukan hanya 2x dalam sebulan) maka udara Jakarta benar-benar bisa lebih baik. Dan tentunya ini berdampak positif bagi kesehatan warga yang ada di dalamnya. Namun sayang, hal itu belum terjadi. Kini yang masih berjalan hanyalah <em>car free day </em>2 kali dalam sebulan.</p>
<p>Monas yang menjadi symbol kota Jakarta ini pun pada hari itu sangat ramai. Berbagai acara dan kreatifitas warga Jakarta terkonsentrasi di sini. Ada yang berlari mengitari tugu monas, bersepeda, senam, berfoto, berdiskusi, menggelar aksi dan banyak lagi aktifitas positif disana. Mereka terlihat bersemangat, tampak ceria dan menikmati lingkungannya. Pada hari-hari biasanya, tentunya kita jarang sekali melihat warga Jakarta yang menikmati lingkungan dan ceria. Yang sering kali kita lihat emosi yang mudah meledak-ledak, frustasi, dan sedikit senyum. Hal itu terjadi karena kondisi kota yang tak terlepas dari permasalahan kemacetan, polusi, banjir, kriminalisasi dan sebagainya. Maka dari itu, taman publik, taman kota, dan ruang publik (car free day) secara tidak langsung telah menjadi sebuah solusi untuk membuat warga kembali pada proses yang alami dan menikmati kotanya dengan senyumannya.<span id="more-453"></span></p>
<p><strong>CFD di Jakarta Utara</strong></p>
<p>Sebagian wilayah di Jakarta telah menerapkan <em>car free day</em> (CFD) pada akhir pekannya. Meski hanya diadakan di sebagian daerah saja, namun kebijakan pemberlakuan CFD cukup membawa perubahan bagi masyarakatnya. Masyarakat mulai sadar bahwa kota adalah tempat hidup manusia bukan sepenuhnya robot ataupun mesin. Maka jangan sampai kota manusia ini tiap harinya selalu di kepung dengan deru-deru mesin dan polusi saja. Tentunya ini bukanlah keinginan semua pihak, termasuk para pengambil kebijakan. Untuk itu, pemberlakuan hal yang positif ini (CFD) perlu merata di semua wilayah Jakarta, termasuk Jakarta Utara. Jangan sampai kota ini selalu konsisten dalam hal mencemari Ibukota dengan polusinya. Bukankah Jakarta Utara telah mendesain kota sebagai destinasi wisata pesisir?lalu bagaimana semua desain ini dapat berjalan apabila tidak ada kebijakan postif yang turut serta mendampinginya?.</p>
<p>Pemukiman memang sudah padat merayap dan merapat. Sedikit ruang untuk bergerak bebas. Tapi kota ini masih punya ruang yang dapat diberdayakan. Beberapa sudut kota Jakarta Utara, sebut saja Kemayoran, Sunter, Kelapa gading dan Pelabuhan bisa menjadi tempat diberlakukannya CFD. Sayang sekali jika potensi ini hanya dibiarkan begitu saja. Padahal tiap akhir pekan banyak warganya bersepeda menuju Monas bahkan hingga Bundaran Hotel Indonesia. Hal itu mereka lakukan karena di tempatnya/di rumahnya sendiri tidak ada pemberlakuan CFD?. Untungnya tipe masyarakat kota ini sudah berpikiran maju daripada para pihak yang berkepentingan itu. Sehingga mereka tidak perlu terus menunggu turunnya kebijakan yang berdampak positif ini. Kami yakin bahwa Jakarta bisa terus berubah. Seperti visi Jakarta yang dideklarasikan pada saat hari jadinya yang ke 484 yaitu “Jakarta Kian Tertata, Kian di Cinta”. Maka dari itu mulailah menata kota ini mulai dari yang kecil seperti memberlakukan CFD secara merata. Dan berdayakan masyarakatnya sebagai subyek pembangunan. Maka tujuan Jakarta yang kian di cinta (oleh masyarakatnya sendiri bahkan masyarakat dunia) bisa terwujud, bukan sekedar di atas kertas.</p>
<br />Filed under: <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/rekomendasi/'>REKOMENDASI</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/sosial/'>SOSIAL</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/urban/'>URBAN</a> Tagged: <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/bebas-kendaraan-bermotor/'>bebas kendaraan bermotor</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/bundaran-hotel-indonesia/'>bundaran hotel indonesia</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/car-free-day/'>car free day</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/diskusi/'>diskusi</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/jakarta-utara/'>jakarta utara</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/jalur-sepeda/'>jalur sepeda</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/kelapa-gading/'>kelapa gading</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/kemayoran/'>kemayoran</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/komunitas-sepeda/'>komunitas sepeda</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/macet/'>macet</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/monas/'>monas</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/polusi/'>Polusi</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/sehat/'>sehat</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/senayan/'>senayan</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/sepeda/'>sepeda</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/sunter/'>sunter</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/henryaja.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/henryaja.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/henryaja.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/henryaja.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/henryaja.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/henryaja.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/henryaja.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/henryaja.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/henryaja.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/henryaja.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/henryaja.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/henryaja.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/henryaja.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/henryaja.wordpress.com/453/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=henryaja.wordpress.com&amp;blog=2422545&amp;post=453&amp;subd=henryaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henryaja.wordpress.com/2011/11/23/car-free-day-di-jakarta-belum-merata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-7.562162 110.819238</georss:point>
		<geo:lat>-7.562162</geo:lat>
		<geo:long>110.819238</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3e96ddffd2fcd846500a67fc7510c2f5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">henryaja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.worldcarfree.net/wcfd/img/carfree_day_logo.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Car Free Day</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jakarta Menjadi Kota Ramah Anak, Kapan Ya?</title>
		<link>http://henryaja.wordpress.com/2011/08/17/jakarta-menjadi-kota-ramah-anak-kapan-ya/</link>
		<comments>http://henryaja.wordpress.com/2011/08/17/jakarta-menjadi-kota-ramah-anak-kapan-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 08:55:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>henryaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[LINGKUNGAN]]></category>
		<category><![CDATA[SOSIAL]]></category>
		<category><![CDATA[URBAN]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[bermain]]></category>
		<category><![CDATA[hari anak]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[odong-odong]]></category>
		<category><![CDATA[ramah anak]]></category>
		<category><![CDATA[rtrw]]></category>
		<category><![CDATA[sosialisasi]]></category>
		<category><![CDATA[taman bermain anak]]></category>
		<category><![CDATA[tata ruang kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henryaja.wordpress.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[“keprihatinan ini muncul karena di negara yang sudah merdeka 66th tetapi tetap terjajah oleh ketidakteraturan tata ruang kota. Mereka itu adalah anak-anak yang kehilangan ruang untuk bermain di kotanya, di tempat tinggalnya, sebagaimana mestinya”. Atas nama anak Indonesia, Hari 17 Bulan Agustus Tahun 2011 &#160; Anak-anak kecil itu tersenyum, tertawa dan bercanda dengan temannya. Mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=henryaja.wordpress.com&amp;blog=2422545&amp;post=443&amp;subd=henryaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">“keprihatinan ini muncul karena di negara yang sudah merdeka 66th tetapi tetap terjajah oleh ketidakteraturan tata ruang kota. Mereka itu adalah anak-anak yang kehilangan ruang untuk bermain di kotanya, di tempat tinggalnya, sebagaimana mestinya”.</p>
<p align="center">Atas nama anak Indonesia<strong>,</strong></p>
<p align="center">Hari 17 Bulan Agustus Tahun 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_445" class="wp-caption alignleft" style="width: 182px"><a href="http://henryaja.files.wordpress.com/2011/08/dsci3126.jpg"><img class="size-medium wp-image-445" title="odong-odong" src="http://henryaja.files.wordpress.com/2011/08/dsci3126.jpg?w=172&#038;h=300" alt="" width="172" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Keceriaan anak dalam ruang terbatas</p></div>
<p>Anak-anak kecil itu tersenyum, tertawa dan bercanda dengan temannya. Mereka bercanda di atas sebuah permainan anak yang disebut “odong-odong”. Entah kenapa itu disebut Odong-odong?. Yang pastinya sebutan odong-odong itu sudah melekat di benak semua orang, termasuk anak-anak. Permainan komersial ini menjadi tempat permainan anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Permainan yang ditawarkannya pun beraneka macam; ada mandi bola, mobil ayun, kincir angin mini, kuda-kudaan. Permainan ini pun dilengkapi dengan musik anak-anak. Tentu hal yang sulit ditemui lagu anak-anak di jaman sekarang, tapi di odong-odong inilah kita masih bisa mendengarkan lagu-lagu anak yang pas untuk anak-anak. Sehingga anak-anak pun bisa bernyanyi dengan lirik lagu anak yang syarat pendidikan. Yang pasti bukanlah lagu dewasa.</p>
<p>Pernah suatu ketika ada orang tua  memprotes kepada pemilik permainan ini (odong-odong) karena lagu yang diputar bukanlah lagu anak-anak. Orang tua anak itupun langsung meminta mengganti lagu itu dengan lagu anak-anak. Dan pemilik permainan ini pun langsung menggantikan musiknya dengan lagu anak yang sesungguhnya. Pemilik permainan ini pun melanjutkan mengayuh pedalnya agar permainan ini bisa terus bergerak. Maklum, segala jenis permainan ini digerakkan dengan pedal seperti menggowes sepeda. Sementara untuk musiknya menggunakan sumber energy dari air accu.<span id="more-443"></span></p>
<p>Permainan di atas adalah secuil gambaran bahwa di kota besar seperti Jakarta ini sudah tidak ada lagi ruang terbuka untuk bermain anak-anak. Adanya permainan komersial itu seolah menjadi pelarian atas permasalahan yang sebenarnya sedang terjadi di lingkungan Ibukota ini. Sehingga anak-anak pun sudah menjadi korban sebuah system kota tidak tertata. Semestinya anak-anak itu bermain di taman bermain yang tersedia di lingkungan tempat tinggalnya. Taman bermain inilah yang seharusnya menyediakan segala permainan untuk anak-anak mulai dari ayunan, seluncuran, dan lainnya. Namun taman bermain anak itu kini sudah tidak ada, yang ada hanyalah taman beton yang terus menyesakki ruang bermain anak. Hanya sedikit sekali kita temui taman itu, jika masih ada, kondisinya pun sangat memprihatinkan. Tak terawat dan mangkrak.Sangat naas.</p>
<p><strong>Kota ramah anak</strong></p>
<p>Keberadaan taman bermain anak di Ibukota ini mungkin bisa di hitung dengan jari. Padahal taman bermain anak sungguh penting bagi pertumbuhan anak di usianya. Dengan  adanya taman bermain membuat mereka bisa belajar bersosialisasi, beraktualisasi, berpikir, berimajinasi, dan menikmati masa-masa kanaknya. Lalu apa jadinya jika ruang itu sudah tidak ada lagi?. Yang mungkin terjadi yaitu anak-anak itu kehilangan kesempatan  untuk belajar dan bermain. Belajar bagaimana mengenal lingkungan, menyentuh peralatan (motorik), mengamati benda-benda, merasakan dan berpikir kreatif. Sementara itu, jika keadaan ini terus dibiarkan dan tidak ada perubahan yang lebih baik berupa taman anak. Maka sama saja kota ini telah menghilangkan anak-anak dari masa kekanaknya yang penuh dengan kecerian.</p>
<p>Beberapa kota/Kabupaten telah berhasil mengukuhkan dirinya sebagai kota layak anak di antaranya : Bandung, Solo, Malang, Makassar dan lainnya. Kota ini telah membuat perubahan di lingkungannya terutama perhatiannya untuk perkembangan anak. Salah satu wujud nyatanya yaitu berupa membuat taman bermain anak di setiap lingkungan RT/RW. Taman bermain ini biasanya telah dilengkapi dengan berbagai permainan anak seperti ayunan, sliding (perosotan), uji ketangkasan dan juga tempat duduk yang proporsional. Peran kota yang menginisiasi adanya permainan/taman bermain untuk anak secara tidak langsung telah membantu membentuk sebuah karakter anak yang ceria dan mandiri. Mereka bebas untuk bermain dengan anak seusianya dan mendekat dengan lingkungan fisiknya.</p>
<p>Sebenarnya program kota layak anak bukan berhenti sampai disini saja, namun paling tidak dengan langkah kongkrit seperti mewujudkan taman bermain anak sudah cukup membantu bagi hadirnya keceriaan anak. Daripada mereka harus bermain di jalanan, pusat perbelanjaan dan mengurung diri di dalam rumah tanpa sosialisasi dengan teman sebayanya. Dan jika anak-anak tersebut kurang sarana untuk bermain di lingkungannya mereka bisa menjadi autis, manja dan tidak peka terhadap teman dan lingkungan hidupnya. Tentunya tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya kehilangan keceriannya. Untuk itu, kota-kota yang telah berhasil menghadirkan sarana dan prasarana bermain anak patut kita apresiasi. Sebuah keberhasilan yang sangat manusiawi.Dan keberhasilan ini layak untuk di contoh oleh semua kota termasuk Ibukotanya Indonesia. Karena dengan menciptakan ruang bermain untuk anak-anak sama saja telah membantu tumbuh kembang generasi masa depan bangsa.  Salah satu caranya yaitu kemauan orang-orang tua yang kini ada di birokrat untuk secepatnya merealisasikan kota dengan cara yang benar dan kota yang benar-benar layak untuk anak.</p>
<br />Filed under: <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/lingkungan/'>LINGKUNGAN</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/sosial/'>SOSIAL</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/urban/'>URBAN</a> Tagged: <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/anak/'>anak</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/belajar/'>belajar</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/bermain/'>bermain</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/hari-anak/'>hari anak</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/jakarta/'>jakarta</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/kemerdekaan-indonesia/'>kemerdekaan indonesia</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/odong-odong/'>odong-odong</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/ramah-anak/'>ramah anak</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/rtrw/'>rtrw</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/sosialisasi/'>sosialisasi</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/taman-bermain-anak/'>taman bermain anak</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/tata-ruang-kota/'>tata ruang kota</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/henryaja.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/henryaja.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/henryaja.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/henryaja.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/henryaja.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/henryaja.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/henryaja.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/henryaja.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/henryaja.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/henryaja.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/henryaja.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/henryaja.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/henryaja.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/henryaja.wordpress.com/443/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=henryaja.wordpress.com&amp;blog=2422545&amp;post=443&amp;subd=henryaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henryaja.wordpress.com/2011/08/17/jakarta-menjadi-kota-ramah-anak-kapan-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<georss:point>-7.562162 110.819238</georss:point>
		<geo:lat>-7.562162</geo:lat>
		<geo:long>110.819238</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3e96ddffd2fcd846500a67fc7510c2f5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">henryaja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://henryaja.files.wordpress.com/2011/08/dsci3126.jpg?w=172" medium="image">
			<media:title type="html">odong-odong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tidak ada Kepalsuan di Taman Nasional Gunung Halimun</title>
		<link>http://henryaja.wordpress.com/2011/06/16/tidak-ada-kepalsuan-di-taman-nasional-gunung-halimun/</link>
		<comments>http://henryaja.wordpress.com/2011/06/16/tidak-ada-kepalsuan-di-taman-nasional-gunung-halimun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jun 2011 21:11:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>henryaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[LINGKUNGAN]]></category>
		<category><![CDATA[REKOMENDASI]]></category>
		<category><![CDATA[SOSIAL]]></category>
		<category><![CDATA[URBAN]]></category>
		<category><![CDATA[curug cihurang]]></category>
		<category><![CDATA[gunung halimun]]></category>
		<category><![CDATA[gunung salak. bogor]]></category>
		<category><![CDATA[hari lingkungan sedunia]]></category>
		<category><![CDATA[kota hujan.budaya lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[taman nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henryaja.wordpress.com/?p=429</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Henry menjelang pagi, karawaci (17/6) “Dingin dan kesejukannya masih terbawa hingga kini, membuat kami selalu rindu untuk berkunjung kesana,di sebuah tempat keanekaragaman hayati yang masih terjaga. Dan Hutan itulah sebagai Penyangga Kehidupan ini” Perjalanan sore itu (11/6) di kota hujan masih terekam dalam ingatan. Kota bogor ini memang sulit untuk dilupakan, sama seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=henryaja.wordpress.com&amp;blog=2422545&amp;post=429&amp;subd=henryaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh : Henry</strong></p>
<p align="center"><strong>menjelang pagi, karawaci (17/6)</strong></p>
<p align="center">“Dingin dan kesejukannya masih terbawa hingga kini, membuat kami selalu rindu untuk berkunjung kesana,di sebuah tempat keanekaragaman hayati yang masih terjaga. Dan Hutan itulah sebagai Penyangga Kehidupan ini”</p>
<p><a href="http://henryaja.files.wordpress.com/2011/06/halimun.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-430" title="" src="http://henryaja.files.wordpress.com/2011/06/halimun.jpg?w=267&#038;h=300" alt="" width="267" height="300" /></a>Perjalanan sore itu (11/6) di kota hujan masih terekam dalam ingatan. Kota bogor ini memang sulit untuk dilupakan, sama seperti dengan kota-kota lainya yang penuh dengan keunikannya. Meskipun transportasinya di beberapa titik jalan sudah tertular oleh kota tetangga (metropolitan) yang penuh dengan kemacetan. Namun kepenatan ini lantas hilang dalam hitungan sekian detik ketika pandangan ini tertuju pada puncak gunung-gunung yang selalu berselimut kabut (Halimun). Udara dinginya pun sudah terasa mengenai indera peraba ini. Maka tidak perlu lagi menggunakan pendingin udara saat disana, lupakanlah pendingin udara buatan (AC). Jalan yang menanjak pun terus ditelusuri untuk mencapai taman nasional gunung halimun-salak. Sementara di kanan kiri jalan terdapat pemukiman penduduk yang cukup padat. Bentuk rumah pun beradaptasi dengan topografi alam. Dengan sedikit adanya kemiringan saja. Beberapa penjual makanan pun terlihat di sepanjang jalan. Tentunya mereka lakukan sebagai  penopang  perekonomian masyarakat sekitar taman nasional gunung halimun.</p>
<p>Hujan yang turun sore itu, membasahi jalan-jalan dan membuat udara menjadi semakin dingin. Tapi aktifitas masyarakat masih terlihat menggeliat seakan tak pernah padam. Lalu lalang kendaraan untuk menuju taman nasional gunung halimun pun tak pernah surut. Malah semakin ramai. Beberapa rombongan para biker juga terlihat sedang menelusuri jalan meskipun hujan tak kunjung mereda. Sore pun lantas berganti malam. Butuh waktu tempuh kurang lebih 30 menit dengan jarak +/- 13 km dari daerah Ciampea Bogor untuk sampai ke taman nasional gunung halimun. Dalam waktu tempuh itu,akhirnya sampai pada gerbang penyambutan yang tertulis selamat datang di taman nasional gunung halimun Bogor. Memasuki wilayah taman nasional ini kita di sajikan pemandangan alam yang istimewa. Di seberang sebelah kanan jalan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun masih berjajar rapi. Dan dari deretan pohon-pohon sedang diselimuti kabut tebal yang turun sore itu. Pohon itu juga menjadi teman setia berbagai fauna yang hidup disana. Dan tentunya pohon-pohon itulah yang berkontribusi sebagai penyangga kehidupan<span id="more-429"></span>.</p>
<p>Di Ketinggian antara 500-2000 an mdpl inilah keberadaan taman nasional gunung halimun. selain pohon-pohon hutan hujan tropis yang tumbuh disana, terdapat pula air terjun/curug yang memberikan kesegaran. Curug cihurang, jaraknya cukup dekat, dengan hanya +/- 100 meter saja kita sudah dapat menemui curug tersebut. Berbeda dengan curug lainnya yang butuh beratus meter untuk dapat mencapainya. Suara gemericik air yang beradu dengan batuan alami terus membuat suasana yang sudah malam menjadi damai. Terlebih lagi saat kita menyentuh airnya yang dingin dan bersih, tidak tercemar apapun. Pastinya sangat menyehatkan. Namun terasa miris sekali ketika melihat adanya sampah di sekitar air terjun. Padahal disana sudah di sediakan tempat sampah namun masih saja ada sampah yang dibuang sembarangan. Jika ini tidak segera di atasi dengan teguran atau sanksi maka lingkungan air terjun bisa menjadi kotor dan rusak. Tentunya  perlu kesadaran pengunjung agar benar-benar menggunakan pikirannya untuk selalu menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah asal-asalan.</p>
<p><strong>Bukan Kepalsuan</strong></p>
<p>Di Taman Nasional gunung halimun kita disajikan keindahan alam yang luar biasa. Mulai dari pohon hutan hujan tropis yang berderet rapi, kabut yang menebal, curug, fauna, udara dingin dan keramahan penduduk sekitar. Tidak heran jika tempat ini kini menjadi kawasan konservasi alam. Banyak peneliti yang terus menerus menggali informasi yang masih tersembunyi di balik kompleksitas alam. Semenjak kawasan gunung dikukuhkan menjadi taman nasional adalah sebuah kemajuan dalam menjaga kawasan hijau ini agar tetap terlindungi. Dan tentunya menjadi sarana pembelajar untuk menguak rahasia alam.</p>
<p>Kita mungkin sudah bosan dengan kepalsuan. Seperti yang di ungkapkan oleh Ketua Ikatan Ahli lingkungan Indonesia, Tasdiyanto yang berkata bahwa banyak kepalsuan di Ibukota. Lihat saja di banyak pohon yang terbuat dari plastik, Itu kan palsu. “ujarnya disaat seminar nasional  <strong>Budaya Lingkungan; Akar Masalah dan Solusi Krisis Lingkungan</strong> di acara Pekan Lingkungan Indonesia, di Parkit Senayan (2/6). Tadiyanto juga memaparkan bahwa Ibokota ini kota masker,dimana-dimana orang yang berpergian keluar harus menggunakan masker. Disamping itu sungainya pun sudah berwarna hijau kehitaman. Tasdiyanto yang juga penulis buku <em>Eco Culture </em>mengatakan bahwa budaya lingkungan adalah hasil cipta manusia yang secara ajeg di dalam lingkungan tempat tinggal manusia. Menurutnya ada 4 indikator budaya lingkungan yaitu memperbaiki, melestarikan, merusak dan mengabaikan. Dari penelitiannya di Jogjakarta dengan menggunakan variable tersebut ia memperoleh hipotesis bahwa masyarakat urban dengan pendidikan tinggi cenderung memperbaiki/pro lingkungan . Dan untuk masyarakat tradisi cenderung untuk melestarikan lingkungan. Sementara masyarakat pendidikan yang rendah mengabaikan/membiarkan bahkan merusak lingkungan.</p>
<p>Pembicara seminar lainnya, Prabang (IALHI) dari dosen ilmu lingkungan UNS juga memaparkan tentang environmental insight question (EIQ), menurutnya EIQ artinya bahwa semua orang harus memiliki kecerdasan mendalam (tilikan) terhadap lingkungannya. Ini dimaksudkan agar segala pekerjaan di lingkungan apapun dapat tuntas tanpa meninggalkan “limbah”. Oleh karenanya seorang pemimpin negeri ini selain harus memiliki IQ , EQ, SQ yang tinggi juga harus punya EIQ. Dengan dimilikinya 4 kecerdasan tersebut maka seorang pemimpin  mampu berbuat yang terbaik atas tanggungjawabnya dan kepedulian terhadap lingkungan yang berkelanjutan.</p>
<p>Yang menarik lagi adalah pembicara Dharhamsyah dari kementerian lingkungan hidup yang memaparkan tentang Eco Smart. Menurutnya banyak kesalahan dalam mengelola tata kota ibukota Indonesia ini. Lebih lanjut ia mengatakan Jalan tol terus menerus dibangun dengan menghabiskan ruang dan lahan-lahan dalam istilah lain jalan makan lahan. Padahal konsep ini seharusnya di balik, lahan makan jalan seperti yang terjadi di korea selatan, bahwa lahan/sungai yang telah berubah menjadi jalan tol kemudian dikembalikan seperti semula. Sungai itu di hadirkan kembali di tengah-tengah kota. Terkait tentang jalan Tol ternyata memiliki arti TOL (tetep ora lancer) dan JORR (Jalane Ora rampung-rampung) ujar prabang. Oleh karena itu, sesungguhnya kita harus keluar dari kepalsuan dan kelalaian menuju kehidupan yang berkelanjutan untuk anak dan cucu kita. Hutan sebenar-benarnya adalah penyanggah kehidupan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/lingkungan/'>LINGKUNGAN</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/rekomendasi/'>REKOMENDASI</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/sosial/'>SOSIAL</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/urban/'>URBAN</a> Tagged: <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/curug-cihurang/'>curug cihurang</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/gunung-halimun/'>gunung halimun</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/gunung-salak-bogor/'>gunung salak. bogor</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/hari-lingkungan-sedunia/'>hari lingkungan sedunia</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/kota-hujan-budaya-lingkungan/'>kota hujan.budaya lingkungan</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/taman-nasional/'>taman nasional</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/henryaja.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/henryaja.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/henryaja.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/henryaja.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/henryaja.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/henryaja.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/henryaja.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/henryaja.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/henryaja.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/henryaja.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/henryaja.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/henryaja.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/henryaja.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/henryaja.wordpress.com/429/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=henryaja.wordpress.com&amp;blog=2422545&amp;post=429&amp;subd=henryaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henryaja.wordpress.com/2011/06/16/tidak-ada-kepalsuan-di-taman-nasional-gunung-halimun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.562162 110.819238</georss:point>
		<geo:lat>-7.562162</geo:lat>
		<geo:long>110.819238</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3e96ddffd2fcd846500a67fc7510c2f5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">henryaja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://henryaja.files.wordpress.com/2011/06/halimun.jpg?w=267" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Angkringan Sego Kucing di Jabotabek</title>
		<link>http://henryaja.wordpress.com/2011/05/17/angkringan-sego-kucing-di-jabotabek/</link>
		<comments>http://henryaja.wordpress.com/2011/05/17/angkringan-sego-kucing-di-jabotabek/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 May 2011 09:15:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>henryaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[REKOMENDASI]]></category>
		<category><![CDATA[TRANSPORTASI]]></category>
		<category><![CDATA[URBAN]]></category>
		<category><![CDATA[angkringan]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kongkow]]></category>
		<category><![CDATA[sego kucing]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>
		<category><![CDATA[wedang jahe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henryaja.wordpress.com/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[Batavia, 18 Mei 2011 Tempat yang tidak hanya menyajikan kehangatan semu tapi benar-benar membekas dalam memori yang panjang. Dan dari kesederhanaan, keakraban, keistimewaan ini yang terus melahirkan komunitas-komunitas yang berkualitas dan bernas. Oleh:  Henry Mendengar kata angkringan/Hik membuat memori kita langsung tertuju pada kota Gudeg (Jogja) dan kota Budaya (Solo). Di kota itulah awal mula [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=henryaja.wordpress.com&amp;blog=2422545&amp;post=419&amp;subd=henryaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Batavia, 18 Mei 2011</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:center;"><strong> Tempat yang tidak hanya menyajikan kehangatan semu tapi benar-benar membekas dalam memori yang panjang. Dan dari kesederhanaan, keakraban, keistimewaan ini yang terus melahirkan komunitas-komunitas yang berkualitas dan bernas.<br />
</strong></p>
</blockquote>
<p align="center"><strong>Oleh:  Henry</strong></p>
<p>Mendengar kata angkringan/Hik membuat memori kita langsung tertuju pada kota Gudeg (Jogja) dan kota Budaya (Solo). Di kota itulah awal mula keberadaan Angkringan/Hik yang sangat dikagumi oleh seluruh kalangan mulai bawah, menengah  hingga atas. Benar-benar egaliter menyatu tanpa ada pembedaan strata/golongan. Mereka berkumpul, beracengkrama, berdiskusi sambil menikmati berbagai macam olahan pangan hingga larut malam. Ini yang membuat angkringan tidak saja menjadi tempat pengisi perut tetapi juga pengisi ide-ide. Sehingga tak jarang, dari angkringan/Hik ini seringkali bermunculan ide-ide segar. Seperti halnya bermunculan komunitas blogger (<em>www.angkringan.co.id</em>) yang bernama angkringan dan radio komunitas Jogja (<em>www.angkringan.web.id</em>) yang juga mengambil nama angkringan. Mereka para komunitas ini telah kepincut dengan angkringan yang memiliki filosofi humanis.  Dan pastinya komunitas itu terbentuk akibat seringnya mereka kongkow bersama di Angkringan. Telebih lagi, masih banyak lagi komunitas yang muncul dari sering kongkow di angkringan. Di Jogja warung ini di sebut angkringan yang berarti duduk santai sembari menikmati sego kucing beserta lauknya yang beraneka ragam (sate usus, tempe bacem, tahu bacem, bakwan, sate koyor, sate telur puyuh, sate ceker dll. Di Solo lebih di kenal dengan sebutan Hik yang berarti hidangan istimewa ala kampung ada juga yang menyebutnya hidangan istimewa ala kota (versi saya dan kawan2). Dari namanya memang berbeda, namun tidak ada perbedaan dari sisi panganannya dan suasananya. Benar-benar istimewa.</p>
<p>Angkringan/Hik bukan warung biasa, karena mampu memunculkan suasana dan keakrabannya yang tak tergantikan dengan jajanan apapun. Ciri khas angkringan terletak pada tenda yang dibuka menutup bagian belakang gerobaknya beserta tikar yang di gelar terbentang untuk duduk lesehan. Begitu juga dengan tungku air yang dimasak dengan arang, terkadang tercium aroma jahe gepuk yang keluar dari tungku tersebut. Itulah sebagian ciri-ciri angkringan yang sederhana. Paling enak makan dan minum sembari duduk lesehan dengan meja kecil (kadang tidak ada). Lebih enak lagi jika makan berada di alun-alun kota atau di tengah kota Solo-Jl. Slamet Riyadi, di Boulevard  UNS bahkan di Malioboro-nya Jogjakarta. Mantab.<span id="more-419"></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Di Jabotabek</strong></p>
<p>Lagu bengawan Solo, riwayatmu kini…….malam itu (Sabtu, 14/5/2011) terdengar di angkringan daerah Pramuka, Jakarta. Lagu itu dinyanyikan secara bersama-sama oleh pembeli yang sedang kongkow di angkringan itu. Mereka tampak menikmati suasana di sana, seperti rindu dengan kampung halamannya. Namun kerinduan itu sedikit terobati dengan keberadaan angkringan di Jakarta. Mereka itu adalah komunitas motor FBI Jakarta. Terlihat deretan motornya yang di parkir berjajar di pinggiran jalan. Sementara mereka duduk merapat dengan gerobak angkringan sembari menikmati makanan dan minuman. Wedang jahe dan sego kucing menjadi menu khas yang pasti ada di antara menu lainnya. Hujan sempat turun membasahi Jakarta malam itu,tapi  menjadi hangat ketika menikmati wedang jahe plus susu di tambah sego kucingnya. Dan lebih hangat lagi karena sembari duduk lesehan dan bercengkrama dari yang obrolan ringan hingga serius. Terangnya lampu jalan di sebrang sana pun memberi kehangatan suasana malam. Hilir mudik kendaraan malam itu lebih tenang, tidak seperti di siang hari.</p>
<p>Keberadaan angkringan/Hik tidak hanya bermunculan di Jakarta, tetapi juga sudah bertebaran di Bekasi, Tangerang dan Bogor. Di tangerang angkringan ini berada di daerah karawaci. Hampir di setiap jalan di kawasan itu ada angkringan. Seperti di kota asalnya, angkringan di sini pun selalu buka sore hari hingga dini hari. Menunya pun selalu sama ada sego kucing dan wedang jahe. Musisi jalanan pun sering kali datang memberikan hiburan. Sementara  itu angkringan yang lain berada di kota hujan ada di daerah gunung putri dan bekasi ada di daerah tambun. Tentunya keberadaan angkringan/Hik ini telah banyak sekali mengisi ruang rindu bagi yang pernah merasakan angkringan/hik di kota asalnya (seperti saya). Kami rindu untuk kembali ber-kongkow-kongkow di angkringan/hik bersama kawan-kawan. Bercerita, tertawa dan berkonsep bersama di sebuah tempat sederhana tapi istimewa. Tempat bersenda gurau hingga tempat brandstorming. Tempat yang tidak hanya menyajikan kehangatan semu tapi benar-benar membekas dalam memori yang panjang. Dan dari kesederhanaan, keakraban, keistimewaan ini yang terus melahirkan komunitas-komunitas yang berkualitas dan bernas.</p>
<br />Filed under: <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/rekomendasi/'>REKOMENDASI</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/transportasi/'>TRANSPORTASI</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/category/urban/'>URBAN</a> Tagged: <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/angkringan/'>angkringan</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/jogja/'>jogja</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/kongkow/'>kongkow</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/sego-kucing/'>sego kucing</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/solo/'>solo</a>, <a href='http://henryaja.wordpress.com/tag/wedang-jahe/'>wedang jahe</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/henryaja.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/henryaja.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/henryaja.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/henryaja.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/henryaja.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/henryaja.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/henryaja.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/henryaja.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/henryaja.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/henryaja.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/henryaja.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/henryaja.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/henryaja.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/henryaja.wordpress.com/419/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=henryaja.wordpress.com&amp;blog=2422545&amp;post=419&amp;subd=henryaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henryaja.wordpress.com/2011/05/17/angkringan-sego-kucing-di-jabotabek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.562162 110.819238</georss:point>
		<geo:lat>-7.562162</geo:lat>
		<geo:long>110.819238</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3e96ddffd2fcd846500a67fc7510c2f5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">henryaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
