Diskursus lingkungan dan pembentukan perilaku manusia

Pandangan mengenai lingkungan dari pemikiran ilmu sosial dan kejiwaan”

oleh : henry[green]

Ketika dinding2 kamar ini makin lama membuat aku berada dalam ruang yang terbatas dan jauh dari keindahan di luar”


Tomdean-gedungAda banyak fenomena alam yang perlu kita kaji di dunia ini. Mulai dari hal yang kecil hingga hal yang lebih besar. Layaknya sebuah fenomena bola salju. Yang jika terus menggelinding akan berubah menjadi besar. Seperti kita ketahui bahwa dunia ini luas, sungguh sayang sekali jika kita harus melewati hidup ini hanya berada dalam sebuah ruang/kotak. Keindahan alam bumi ini perlu kita telusuri, dari sini maka kita akan mengenal siapa sesungguhnya manusia itu?. Untuk apa manusia ada di bumi ini?. Namun untuk mencoba menelusuri semua itu ada baiknya kita mulai dari diri sendiri dan apa yang ada di sekitar kita ataupun lingkungan. Manusia hanya merupakan parsial dari lingkungan hidupnya. Mereka hidup dalam ruang yang sudah tersedia dengan segala sesuatunya. Namun ada juga yang perlu dibuat ataupun di rekayasa. Dari sini kita bisa melihat bahwa manusia berperan sebagai makhluk yang berakal. Dengan adanya pikiran itu maka manusia bisa merekayasa lingkungan. Atas rekayasa itu menjadikan berbagai macam bentuk dan warna dalam kehidupan. Kita bisa melihat lingkungan sekitar kita ada yang masih seperti dahulu dan ada juga yang telah berubah. Seperti halnya dengan lokasi rumah di dalam suatu lingkungan masyarakat.

Rumah menjadi tempat berlindung manusia dari panas dan hujan, tapi dalam pengertian luas rumah memiliki aspek psikologis dalam bermasyarakat. Perbedaan rumah di kota dengan di desa dapat kita lihat dari jarak diantara rumah tersebut. Rumah di desa umumnya berjarak berjauhan, sedangkan di kota jarak rumah berdekatan. Penduduk desa yang jarak rumahnya berjauhan tapi mereka saling mengenal satu sama lain. Mereka memiliki kedekatan emosi yang terjalin dari interaksi yang konsisten. Dari sini kita melihat bahwa mereka menyadari bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang memerlukan orang lain dalam hidupnya. Lalu bagaimana dengan lingkungan di kota, jarak rumah yang berdekatan hanya sedikit yang menghasilkan sebuah interaksi satu dengan yang lain. Mereka memiliki sebuah ego yang mengatasnamakan keakuannya. Sehingga mereka yakin bahwa lingkungan berpisah dengan dirinya. Hal ini juga terjadi dalam dunia barat, yang beranggapan bahwa kita terpisah dari lingkungan. Anggapan ini meyakini bahwa manusia bisa dengan seenaknya memanipulasi lingkungan. Namun, pada kenyataannya, lingkungan pun mampu mempengaruhi kehidupan dalam perilaku manusia.

Lingkungan sosial

Selama ini kita ketahui mengenai lingkungan hidup. Dalam lingkungan hidup terdiri dari beberapa komponen hidup dalam suatu koloni. Kemudian dari komponen-komponen yang hidup ini saling berinteraksi dalam menjadi sebuah ekosistem. Ada ekosistem darat dan ada juga ekosistem laut. Misalnya di suatu taman, kita bisa melihat hewan, tanaman dan manusia. Mereka saling berinteraksi dan saling memerlukan satu dengan yang lain. Ada hewan yang memerlukan tumbuhan untuk makan, begitupula ada manusia memerlukan tumbuhan dan hewan untuk makan. Namun tidak hanya dalam masalah makan. Manusia membutukan tumbuhan untuk bernapas menghirup oksigen yang dihasilkan tumbuhan dari fotosintesis. Manusia perlu hewan untuk berinteraksi.

Purba (2002) mengatakan bahwa lingkungan sosial sebagai tempat berlangsungnya bermacam-macam interaksi sosial antara anggota atau kelompok masyarakat beserta pranata dengan symbol dan nilai serta norma yang sudah mapam, serta terkait dengan lingkungan alam (ekosistemnya) dan lingkungan binaan/buatan (tata ruang)”

Sebagaimana dengan lingkungan hidup yang memiliki berbagai ekosistem di dalamnya. Manusia juga berinteraksi dalam suatu kelompok manusia yang lain. Di lingkungan sosialnya manusia senantiasa terus menerus untuk berinteraksi. Dari interaksi yang berkesinambungan ini menghasilkan sebuah kelompok organisasi. Organisasi menjadi sebuah wadah yang memiliki tujuan dan aktifitas bersama untuk mencapai tujuan tertentu. Dari sini kita bisa mengetahui, bahwa interaksi-interaksi sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia sering dinamakan dengan lingkungan sosial. Dalam pengertian lain, oleh purba (2002) mengatakan bahwa lingkungan sosial sebagai tempat berlangsungnya bermacam-macam interaksi sosial antara anggota atau kelompok masyarakat beserta pranata dengan symbol dan nilai serta norma yang sudah mapam, serta terkait dengan lingkungan alam (ekosistemnya) dan lingkungan binaan/buatan (tata ruang).

Lingkungan bermasyarakat atau yang kini kita sebut sebagai lingkungan sosial terangkum dalam sebuah adat dan aturan yang berlaku. Masyarakat satu dan yang lain memiliki perbedaan yang di pengaruhi oleh factor ekonomi, letak geografis dan keadaan wilayah. Masyarakat yang berada dekat dengan sumber alam senantiasa hidup bergantung dengan alam. Mereka rata-rata bekerja/mata pencaharian sebagai petani, nelayan. Mereka bekerja sebagai petani dan nelayan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, dan terkadang cara hidup ini yang ia pilih (way of life). Ketergantungan terhadap hasil alam membuat mereka sangat menghargai alam. Mereka senantiasa melindungi alam sekitarnya dari gangguan yang sifatnya merusak. Karena mereka yakin jika lingkungan alamnya terjaga dengan baik maka kehidupan untuk masa depannya bisa terjamin. Sedangkan untuk mereka yang hidup jauh dari sumber alam, sebagian besar mereka bekerja di bidang industry, perumahan, jasa dan lainnya. Untuk di bidang industry terjadi proses pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi/pakai. Dan yang bergerak di bidang jasa berupa untuk memasarkan produk kepada konsumen di pasaran. Adanya perbedaan letak geografi dan keaadaan alam ternyata mempengaruhi perilaku manusia dalam menjalani kehidupan. Kita bisa lihat bahwa sebagian besar masyarakat yang hidup di dekat sumber alam (laut, hutan, lahan pertanian dan perkebunan) bergantung pada alam. Dan untuk mereka yang hidup jauh dari sumber alam, bekerja di bidang industry, jasa dan lainnya. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa lingkungan mampu membentuk dan mendatangkan perilaku bagi manusia.

Perilaku yang bagaimana?

Perilaku masyarakat (seperti yang tertulis sebelumnya) terbentuk dari lingkungan dimana ia hidup. Perilaku ini berlangsung cukup lama dan mungkin pula hingga saat ini. Bahkan bisa saja perilaku yang sama turun menurun dari generasi ke generasi masyarakat. Seperti yang dikatakan oleh ahli psikologi lingkungan Calhoun dan Joan Ross (1995) berpendapat bahwa ada empat macam cara lingkungan dalam mempengaruhi perilaku, pertama : lingkungan menghalangi perilaku, akibatnya juga membatasi apa yang kita lakukan, contonya sebuah dinding kamar yang mempengaruhi gerak-gerik manusia dalam suatu ruangan. Kedua : lingkungan mengundang atau mendatangkan perilaku, menentukan bagaimana kita harus bertindak, contohnya yang terjadi di taman, biasanya kita tertawa dan bergembira. Ketiga : lingkungan membentuk diri, contonya, dalam proses belajar yang dilakukan di ruang terbuka, akan membuat pembelajar berpikir lebih kreatif dan kritis. Keempat : lingkungan mempengaruhi citra diri. Contonya : mengenai lingkungan rumah yang asri dan hijau, dipastikan bahwa penghuni rumah tersebut adalah orang yang cinta lingkungan dan kebersihan.

Mungkin sebelumnya kita hanya mengetahui bahwa psikologi hanya mempelajari ilmu jiwa manusia. Termasuk kecemasan, stress, pola perkembangan anak dan motivasi hidup. Tapi kini kita bisa mengetahui bahwa ranah psikologi menyentuh level lingkungan. Karena pada dasarnya manusia bagian dari lingkungan dan tidak dapat terpisahkan. Pengaruh pembentukan perilaku manusia oleh lingkungan ada yang berakibat munculnya stress. Stress merupakan kondisi jiwa manusia yang mengalami tekanan dari luar yang sulit terkontrol oleh kondisi pikiran. Stress bisa terjadi pada setiap orang. Banyak hal yang mempengaruhi timbulnya stress berkaitan dengan lingkungan, seperti kemacetan lalu lintas, suara bising kendaraan, kepadatan penduduk. Kondisi lingkungan tersebut adalah pemicu terjadinya stress pada semua orang. Stress terkadang di awali dengan rasa cemas. Kecemasan yang meningkat dan semakin tak terkendali mengakibatkan tekanan pada jantung dan pikiran. Jantung terasa berdebar sangat cepat. Di samping itu juga badan berasa lemas. Menurut Slavson (1987) dalam www.wangmuba.com mengatakan bahwa salah satu penyebab munculnya kecemasan adalah dari hubungan-hubungan dan ditentukan langsung oleh kondisi-kondisi, adat-istiadat, dan nilai-nilai dalam masyarakat. Kecemasan dalam kadar terberat dirasakan sebagai akibat dari perubahan sosial yang amat cepat, dimana tanpa persiapan yang cukup, seseorang tiba-tiba saja sudah dilanda perubahan dan terbenam dalam situasi-situasi baru yang terus menerus berubah. Dimana perubahan ini merupakan peristiwa yang mengenai seluruh lingkungan kehidupan, maka seseorang akan sulit membebaskan dirinya dari pengalaman yang mencemaskan ini.

Kasus gedung terhadap perilaku penghuni

Ada kasus mengenai bangunan gedung ataupun apartemen terhadap perilaku masyarakat. Pembangunan proyek perumahan itu dinamai Pruitt-Igoe di St. Louis. Pemerintah tersebut mulai mendirikan bangunan itu tahun 1955. Harapan dari seluruh kalangan atas dibangunnya perumahan itu adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan kualitas kehidupan yang semakin baik. Bangunan itu bertingkat sebelas yang berada dalam sebuah kompleks besar, total gedung yang dibangun dalam kompleks tersebut berjumlah 33 gedung. Bangunan itu terbuat dari bahan yang luar biasa bagus, keramik yang tahan pecah, dinding yang sangat kuat dan rapat. Dan jalan-jalan yang memanjang terlihat elok. Sampai akhirnya gedung ini diberikan penghargaaan dari berbagai pihak karena desainnya yang sangat bagus.

Lingkungan apartemen telah membentuk perilaku manusia menjadi tidak biasa. Penghuni apartemen menjadi orang yang seakan hidup menyendiri, dan mereka sama sekali tidak mengenal tetangga depan kamarnya. Mereka menjadi hidup dalam keterasingan”

Tidak lama kemudian. ketika gedung ini selesai dibangun, telah ada ribuan ornag yang jadi penghuni. Namun beberapa tahun berlalu, terjadi kekerasan dan kasus perkosaan di gedung ini. Mereka yang berada dalam lorong-lorong gedung menjadi korban dari tindakan kekerasan. Begitu juga bagi mereka yang pulang ke kamar pada malam hari, merekapun tak luput dari tindakan kekerasan yang dilakukan sesame penghuni gedung tersebut. Ternyata, apa yang menjadi harapan berbagai pihak tentang bangunan ini akan meningkatkan kualitas kehidupan penghuni tidaklah tercapai. Makin hari, bulan dan tahun, jumlah penghuni gedung yang megah itu berkurang hingga 70 an persen. Kejadian ini membuat pemerintah untuk memutuskan merobohkan semua gedung yang berada dalam kompleks yang besar tersebut.

Kasus yang menimpa banyak korban dan bebagai tindakan kekerasan lainnya , menurut pandangan psikologi lingkungan hal tersebut terjadi karena tidak adanya ruang untuk berinteraksi antara penghuni gedung apartemen. Lingkungan apartemen telah membentuk perilaku manusia menjadi tidak biasa. Penghuni apartemen menjadi orang yang seakan hidup menyendiri, dan mereka sama sekali tidak mengenal tetangga depan kamarnya. Mereka menjadi hidup dalam keterasingan. Walaupun jarak antar kamar cukup dekat namun semua tertutup oleh dinding yang sangat tertutup dan seakan menghalangi interaksi. Maka meskipun gedung tersebut memiliki desain yang bagus dan mewah tapi dengan cepat berubah menjadi tempat yang menyakitkan. Tempat tinggal yang hanya berisi keakuan. Seakan ada aturan main yang berbunyi ‘selesaikan segala sesuatu sendiri’. Karena mereka merasa bertetangga namun tidak pernah mengenal. Oleh karena itu, dalam mendesain suatu bangunan untuk manusia perlu memperhatikan aspek psikologis seperti adanya ruang sosiopetal. Yang berarti ada sebuah ruang untuk berinteraksi (mencari teman) diantara penghuni. sehingga penghuni gedung tersebut bisa saling mengenal dan terbiasa berinteraksi. Dan minimalisir adanya ruang sosiofugal yang berarti keberadaan ruang tersebut tidak bisa digunakan untuk tempat berinteraksi dengan penghuni gedung.

Daftar Pustaka:

Purba, jonny. 2005. Pengelolaan Lingkungan Sosial. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Calhoun, james dan joan ross. 1995.Psikologi tentang penyesuaian dan hubungan kemanusian. Penerjemah: Satmoko, R.S. Edisi ketiga. IKIP Semarang Press. Semarang

karikatur di kutip dari http://www.kolomhumor.com

About these ads

2 thoughts on “Diskursus lingkungan dan pembentukan perilaku manusia

  1. Kita tahu bahwa begitu besar pengaruh yang dapat disumbangkan oleh lingkungan terhadap pembentukan karakter manusia, sehingga sering kita dengar bahwa karakter itu akan cepat terbentuk oleh kondisi lingkungan dimana orang itu berada. saya ingin bertanya, seberapa besar lingkungan itu dapat mempengaruhi karakter seseorang…? terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s