KEINDAHAN ALAM TIDAK TERGANTIKAN OLEH KEMEGAHAN GEDUNG-GEDUNG PENCAKAR LANGIT dan KERLAP-KERLIP LAMPU KOTA

Oleh Henry’green’

Di tulis 4 Agustus 2008 malam hingga pagi hari, dengan sadar ditulis, saat melihat dan menyaksikan kemajuan kota solo dengan pembangunan gedung, apatement, dan kemegahan lainnya. Khawatir akan lunturnya budaya asli solo dan keindahan alam yang masih berharga semoga bisa terjaga.

“Antroposentris No, Ecosentris yes”

Kadang pernah terpikir bahwa dengan majunya teknologi dan ilmu pengetahuan membuat kehidupan dibumi ini menjadi lebih baik. Dengan teknologi seperti internet, orang mampu berkomunikasi secara global tanpa batasan. Begitu pula kemajuan ilmu pengetahuan, orang bisa membuat gedung-gedung megah, bangunan yang menjulang tinggi dan kelap-kelip lampu yang menghiasi malam. Semuanya itu adalah keindahan yang cukup menarik untuk dirasakan. Tapi apakah keidahan gedung, bangunan dan keramaian kelap-kelip lampu di malam hari dapat menandingi keindahan alam?. Alam yang diciptakan Allah berupa gunung, hutan, laut berikut isinya, dan masih banyak lagi. Ambil contoh hutan, di dalamnya memiliki berjuta-juta bahkan tidak terhingga atas keindahan dan adanya kehidupan makhluk hidup yang luar biasa. Keindahan hutan memang lebih indah untuk dinikmati dan disyukuri. Lalu bagaimana dengan gedung, bangunan pencakar langit sekalipun apakah mampu menggantikan keindahan alam semesta???.

“Alam memiliki keindahan yang tidak dapat terukur. Hingga saat ini pun belum ada manusia yang mampu menilai dan mengukur keindahan alam di dunia”

Bagaimanapun canggihnya manusia dalam berkarya, ternyata belum ada yang bisa menggantikan ciptaan alam semesta. Manusia boleh bangga dengan hasil ciptaan manusia. Tapi ciptaan manusia berupa gedung, bangunan pencakar langit hanya sebatas keindahan biasa saja. Semoga manusia yang berkarya tidak angkuh terhadap hasil karyanya. Manusia yang hidup di bumi ini pasti akan puas dan senang ketika mengujungi keindahan alam, seperti gunung, hutan, air terjun, laut dan isinya, pergi ke pulau-pulau yang menyuguhkan kemolekannya. Pada saat manusia suntuk kemungkinan yang dituju yaitu keindahan alam bukan keindahan gedung, bangunan pencakar langit dsb. Ini bukti bahwa manusia tidak terlepas dari keidahan alam yang nota bene adalah lingkungannya, tempat hidup makhluk hidup. Alam memiliki keindahan yang tidak dapat terukur. Hingga saat ini pun belum ada manusia yang mampu menilai dan mengukur keindahan alam di dunia. Jika dipikir lebih jauh, Untuk apa para wisatawan luar negeri berkunjung ke Indonesia? Misalnya ke pulau dewata (Bali). Mereka hanya ingin melihat dan merasakan keindahan alam bali dengan pantai yang indah, pasir putih yang masih elok, dan ombak yang ideal untuk surfing dan yang paling menarik yaitu menyaksikan sun rise dan sunset. Lalu kenapa mereka tidak membanggakan kota Jakarta (yang dengan bangga menyatakan sebagai kota megapolitan, aslinya ‘the big village’) dengan ribuan gedung pencakar langit, hiburan malam dsb. Jawabnya adalah karena manusia memiliki rasa atas keindahan alam, manusia adalah bagian dari alam bukan bagian dari gedung yang ‘mencakar’ langit namun tak sampai dan gedung yang menembus lapisan tanah (basement). Itulah hebatnya keidahan alam. Ingat!! jangan merusak alam ini. Ada kata di supermarket yang berbunyi ‘pecah berarti membeli’. Begitu pula jika Merusak keindahan alam berarti harus membeli harga mahal. Tapi sayang keindahan alam tidak boleh diperjualbelikan. Karena manusia tidak mampu untuk menciptakan keindahan alam itu seperti semula. Manusia hanya bisa manambahkan dan menjaganya agar tidak berubah dari aslinya.

“Untuk apa para wisatawan luar negeri berkunjung ke Indonesia? Misalnya ke pulau dewata (Bali). Mereka hanya ingin melihat dan merasakan keindahan alam bali dengan pantai yang indah, pasir putih yang masih elok, dan ombak yang ideal untuk surfing dan yang paling menarik yaitu menyaksikan sun rise dan sunset”

Kerusakan Demi Kerusakan Alam

Sayang beribu-ribu sayang. Keindahan alam yang masih alami harus terpaksa berubah fungsi, rusak dan bahkan sudah tidak ada lagi. Tidak lain dan tidak bukan adalah Karena ulah dari manusia. Manusia secara sadar merusak keindahan alam yang masih alamiah. Mereka dengan sengaja merusak hutan dengan menebangi (Illegal Logging), membunuh satwa-satwa liar yang tergolong langka, menangkap ikan dengan menggunakan pukat harimau dan bom, mencemari air laut dengan limbah, sampah dll. Sebenarnya masih banyak jenis perbuatan yang merusak lingkungan alam. Jika perbuatan merusak ini semakin menjadi-jadi dan tidak dapat di tanggulangi maka nilai tertinggi dari keindahan akan segera punah. Manusia akan bingung harus mencari dan menemukan keindahan alam yang alami.

Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah namun seakan tidak pernah peduli untuk menjaga dan melestarikan keaslian alam. Berdasarkan informasi, hanya terdengar expliotasi dan exploitasi secara besar-besaran terhadap kekayaan alam. Sehingga muncullah kerusakan demi kerusakan yang teramat parah. Seperti yang terjadi di pulau papua, akibat penambangan emas dan timah, di wilayah yang sebelumnya masih indah, kini tinggal kubangan besar menyerupai bekas jatuhnya meteor. Begitu pula, hutan hujan tropis di Kalimantan yang telah banyak berubah menjadi hutan sawit dan aktifitas illegal logging. Dengan berubahnya hutan tropis mengakibatkan hilangnya habitat satwa liar yang seharusnya di lindungi. Orang utan banyak yang di tangkapi, dijual dan dibunuh. Lalu bagaimana dengan nasib satwa-satwa lainya??mungkinkan mereka punah??lalu siapa yang bisa mengembalikan seperti sedia kala??

Bercermin Pada Film Nim Of Island

Film Nim of island bercerita tentang kehidupan seorang ilmuan terkenal yang tinggal bersama anakanya bernama Nim. Bapak (ilmuan) dan Nim tinggal di pulau terpencil yang belum ada seorang pun mengetahuinya. Mereka tinggal berdua di pulau yang masih indah dengan laut yang masih biru, hewan-hewan (anjing laut, ikan lumba2, paus, burung, kura2, biawak kecil yang lucu), gunung dan bukit-bukit. Nim dan ayahnya tinggal di rumah yang dibuat menyatu dengan pohon besar, bertingkat. Rumahnya menggunakan tenaga listrik dari tenaga surya. Di rumahnya ada computer dan koneksi internet. Sehingga mereka masih dapat mengakses informasi secara uptodate. Nim berteman baik dan akrab dengan burung, anjing laut dan biawak kecil. Mereka selalu bersama Nim. Siang dan malam mereka bercanda tanpa duka. Meskipun mereka tinggal di pulau terpencil. Tapi mereka tidak kesepian.

Suatu ketika ada orang asing yang menemui pulau tempat Nim dan ayahnya berada. Orang asing tersebut naik kapal yang berlogo sang ‘bajak sawah’ eh bajak laut (mata satu tertutup). Ternyata niat orang asing tersebut tidak baik, orang asing itu ingin segera mengambil alih pulau dan menguasainya. Suatu hari sang pembajak laut datang kembali ke pulau itu. Di pinggir pantai mereka mengelar pesta dan merusak pantai yang indah. Nim dan rekan-rekannya (anjing laut, burung, biawak kecil lucu) tidak hanya diam. Mereka mengatur strategi untuk mengusir para pengganggu pulau (bajak laut) dari pulau. Strategi yang dirancang Nim dan kawan2nya akhirnya berhasil mengusir para bajak laut dan kliennya yang berpesta pora di pantai. Nim tidak ingin pulau yang masih indah tersebut diganggu dan di rusak oleh orang lain. Di samping itu Nim tidak ingin kehilangan kawan2nya (anjing laut, burung, biawak kecil, kura2, lumba2). Berhasilnya Nim dan kawan2nya mengusir bajak laut jahat berarti juga berhasil menyelamatkan pulaunya. Nim dan ayahnya serta kawan2nya yang ada di pulau kembali menjalani hidup dengan tenang dan tanpa gangguan dari pihak luar. Mereka semua hidup berdampingan dan saling melindungi pulau kesayangan. Mereka tidak ingin pulaunya di rusak oleh pihak lain. Lalu bagaimana dengan pulau di Indonesia, bagaimana dengan pantainya, lautnya, hewan2nya, dan tumbuhan lainnya?. Apakah masih ada yang tersisa???????????. Yah semoga saja. Semoga kekayaan alam yang tak ternilai harganya itu masih bisa berharga selamanya.amieeeen.

“Nim berteman baik dan akrab dengan burung, anjing laut dan biawak kecil. Mereka selalu bersama Nim. Siang dan malam mereka bercanda tanpa duka. Meskipun mereka tinggal di pulau terpencil. Tapi mereka tidak kesepian”

13 thoughts on “KEINDAHAN ALAM TIDAK TERGANTIKAN OLEH KEMEGAHAN GEDUNG-GEDUNG PENCAKAR LANGIT dan KERLAP-KERLIP LAMPU KOTA

  1. alam emang gak bisa dibandingin dengan buatan manusia

    tapi kok aku setuju ya gedung pencakar langit ada di solo
    daripada bangun perumahan atau kota mandiri kayak solobaru

    boros lahan, gak ada resapan aer, bikin kota tambah luas n butuh lebih banyak kendaraan
    back to the city bisa jadi solusi buat mengendalikan pertumbuhan kota

    jangan sampe solo kayak jakarta yang kena fenomena kue donat kalo malem
    penduduknya pada ke pinggir n tengahnya kosong
    siangnya mereka berebut ketengah
    gak efisien

    • thnx rizwn ats komntrnya..saat ini emg tidk tepat lg untuk mendirikan bagnunan horizontal di kota solo. kita tau sendri klo kota solo dah ga pnya lahan untuk mendukung pembangunan. dan salah satunya yg dilakukan adalah pembangunan apartemen (secara vertikal). Konsep ini tidak ada ubahnya dengan pembangunan horixontal. kelebihan bangunan vertikal salah satunya yaitu tidak membtuhkan lahan yang banyak. tapi disi lain, bangunan ini juga menimbulkan dampak bagi lingkungan. salah satunya yaitu pemborosan penggunaan aer, yang harus di sedot naik ke atas secara terus-menerus, jd boros aer jg kan. yang kedua bangunan ini jika tidak di konsep secara ramah lingkungan dari sisi desainnya, yg terjadi yaitu kebutuhan listrik yang menigkat, kita tau sndri kan klo akhir2 ini kita di resahkan dengan pemadaman bergilir (di kota solo). smga aja desain bangunan apartmn itu dibuat dengan konsep ramah lingkungan. cntohnya adanya pemanfaatan tnga surya, angin. klo ga ada konsp ini kita liat aja. pasti bukan pemadaman bergilir di solo, tapi pemadaman TOTAL!!

  2. sebagai org awam ana setuju sama rumah vertikal, itu untuk mengatasi keterbatasan lahan terutama di wilayah perkotaan…kota mandiri gak cocok di solo, klo di sekitar jakarta malah cocok kayak di jonggol ato daerah rangkas bitung, karena itu mendorong orang untuk tidak menjadi commuter, cukup tinggal dan bekerja di wilayah tsb, gak perlu ke jakarta…konsep kota mandiri bisa ramah lingkungan kalo grand designnya jelas…yg penting bangun sesuatu harus disesuaikan dengan daerah peruntukannya, n memperhatikan lingkungan, misalnya konsep 1 rumah 1 pohon, ato 1 anak 1 pohon kayak programnya ibu Ani Yudhoyono..
    *buat penulis : emg ada hubungannya rumah vertikal lebih boros aer dr rumah horizontal?klo boros listrik mungkin iya untuk ngangkat tuh aer…tapi gak beda jauh gw rasa..lagipula kan bs dpake sistem penampungan aer macem toren..trs instalasi tenaga surya mahal bos, lo kata belanda kincir angin…hehehe..
    kita semua akan terus bermimpi akan dunia yang hijau…yang ada mata orang jd makin ijo…wekekek…

    • wah bru tau gw ad konsep 1 anak 1 pohon..weh boleh jg..hehehehe. sga aja yg suka bikin anak mw naman pohon..tapi klo mereka tinggal dlm aptemen atau perumahan trus mw di tanm di mn tuh pohon>??kan lahannya dah abis gara2 pembangunan yang membabi buta..tanpa keadilan ekologi..lo bs liat sndri kondisi kan kondisi apartmen di jkrta,,,ga ad yg menggnkan konsep desain apartemnnya yang cendrung asal. klo lo liat psti bnyk AC yang menempel di pinggiran gdungnya..udah kyk sampah aj..ksian tuh cicek temboknya di ambil alih tempat AC. Klo desain yg tpat ga perlu lg bnyak AC2 yg nempel di tmbok aprtmn. yg bner sdh ada sirulasi angin yang kluar msk kamr atau ruangan.
      soal rumah vertkal boros aer, gw dah konsultasi ma pakar lingkungan di UNS. dia bilng bgtu. dah stelah gw pikir2 jg bener. gedng ygn semakin tinggi telah memberi beban kepada lapisan tanah di bwahnya, di tambah lg mengambli aer air tanah yg terus menerus. Air tanah yg di ambil terus-menrus membuat kontur tanah menjadi berongga. klo rongga tanah tu ga di imbangi dengan adanya pohon disekitrnya, bis lo bnyngin sndri.lo kan dah pnter. kondisi tanah yang di jkrta telah mengalami penurunan akibat beban bangunan dan pengurasan aer tanah. lama kelamaan daratan di jkrta sama dengan tinggi permukaan laut. yg terjadi adalah pengurukan jalanan demi menghindari peninggian permukaan aer.

      wah kliatannya lo pesimis bgt man….mimpi lo berkepanjangan….

  3. hehehe…konsep 1 anak 1 pohon itu sebenernya udah ada dr dulu, dulu nyokap gw pernah blg gini ma gw “tuh pohon mangga umurnya sama kayak km lho”, gw dulu blg masa anaknya dsamain ma pohon,wekeke…ternyata maksud nyokap gw selain untuk jaga lingkungan juga supaya sayang tanaman sama kayak sayang kluarga, klo pohon ditebang juga sayang, ada nilai sejarahnya…wekekke

    yah, maap…berhubung gw bukan anak teknik dan juga bukan tukang AC, ya gw gak bgt tau…serius amat bos mpe konsultasi ke pakar lingkungan, kayak mikir apaan aje..hehehe..klo diperpanjang kagak ada abisnye cm jd debat kusir..wekekek

    yah mungkin bagi mereka2 penciptaan lapangan kerja dan prinsip ekonomi lainnya lebih mendesak saat ini dibanding keadilan ekologi,hehehe…jakarta mah udah mau kelelep bentar lg..biarin aje…

    jelas pesimislah…ya gak mungkin dunia jd hijau lg, org nanti bakal ada kiamat…yg ada kan makin ancur…hehehe…piss

    • marilah bljr tntang keindahan alam di dunia ini……dngan belajar kita bisa mengtahui alngkah indah dunia….shgga kita bs bner2 menjaganya…lm knal jg yach..thks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s