Menjelang matahari terbit, orang-orang sudah terlihat berkumpul di halaman kelurahan, mulai dari Ibu-ibu, bapak-bapak, kakek-nenek, anak muda tampak menunggu dengan ketidakpastian atas proses pendataan e-ktp. Sementara petugas di kelurahan itu belum juga tampak batang hidungnya.
Di Kelurahan Batavia, 5 Desember 2011
Oleh : Henry

Antrian warga di Kelurahan "Tugu Batu" menunggu nomor urut proses pendataan e-ktp (5 des 2011)
Program e-KTP telah digulirkan oleh pemerintah pusat melalui kementrian dalam negeri dan dinas kependudukan dan pencatatan sipil. Hal ini merupakan suatu program yang baik, karena setelah sekian lama tidak ada perubahan dalam hal system kependudukan yang carut-marut. Namun kini Indonesia sedang berusaha mewujudkan mimpinya, meskipun kita telah tertinggal oleh beberapa negara di antaranya China, India, Malaysia, Jerman. Sebelum melangkah lebih jauh ada baiknya kita ketahui dahulu apa sebenarnya fungsi e-KTP ini? apa bedanya dengan KTP konvensional? Dikutip dari situs www.e-ktp.com, fungsi e-ktp antara lain: sebagai identitas diri, berlaku nasional, sehingga tidak perlu lagi membuat KTP lokal untuk penggunaan ijin, pembukaan rekening bank dll, mencegah KTP ganda dan pemalsuan KTP, terciptanya keakuratan data penduduk untuk mendukung program pembangunan.
Seiring berjalannya waktu e-KTP pun telah digelar di beberapa kota dan wilayah termasuk Jakarta. Di Jakarta proses pendataan e-KTP masih berjalan dan belumlah selesai. Walaupun pemerintah menargetkan bahwa proses pendataan selesai pada akhir tahun 2011. Sepertinya target ini akan meleset jauh. Kita lihat saja, proses pendataan kependudukan di beberapa kelurahan di Jakarta. Banyak warga yang antri tanpa kepastian menunggu giliran untuk di ambil datanya seperti : foto, sidik jari tangan,tanda tangan, dan scan mata. Di tempat itu, dengan peralatan computer yang hanya 2 buah dan sumber daya orang kelurahan yang ala kadarnya menjadi penghambat proses ini. Padahal warga yang jumlahnya ratusan telah menunggu di luar , di bawah tenda dan kursi yang telah termakan usia. Read More »
-7.562162
110.819238
December 5, 2011 – 3:36 pm
Categories: EDITORIAL, SOSIAL, URBAN
|
Tagged antrian warga, catatan sipil, chip digital, dinas kependudukan, e-ktp, jakarta, kelurahan, kementrian dalam negeri, ktp elektronik, ktp nasional, pendataan warga, sidik jari, sistem online, tanda tangan
|

“Udara pagi di Jakarta waktu itu, kami nikmati bersama dengan menggowes sepeda, tanpa polusi, sehat secara alami”.
Batavia, 24 November 2011
_Henry_
Pagi itu di Jakarta (13/11) sekitar jam 6 pagi bertepatan dengan pemberlakuan hari bebas kendaraan bermotor (car free day). Sepeda ini pun telah siap untuk berjalan menelusuri jalan-jalan Jakarta yang masih cukup sepi dari kendaraan bermotor. Tak ada suara bising yang terdengar dari cerobong asap kendaraan dan polusi yang terus mengotori kota ini. Meskipun di hari bebas kendaraan ini tidak sepenuhnya bebas dari kendaraan bermotor, karena masih saja ada kendaraan yang secara konsisten mengotori udara Jakarta yang masih bersih. Padahal jika car free day ini diberlakukan tiap hari minggu (bukan hanya 2x dalam sebulan) maka udara Jakarta benar-benar bisa lebih baik. Dan tentunya ini berdampak positif bagi kesehatan warga yang ada di dalamnya. Namun sayang, hal itu belum terjadi. Kini yang masih berjalan hanyalah car free day 2 kali dalam sebulan.
Monas yang menjadi symbol kota Jakarta ini pun pada hari itu sangat ramai. Berbagai acara dan kreatifitas warga Jakarta terkonsentrasi di sini. Ada yang berlari mengitari tugu monas, bersepeda, senam, berfoto, berdiskusi, menggelar aksi dan banyak lagi aktifitas positif disana. Mereka terlihat bersemangat, tampak ceria dan menikmati lingkungannya. Pada hari-hari biasanya, tentunya kita jarang sekali melihat warga Jakarta yang menikmati lingkungan dan ceria. Yang sering kali kita lihat emosi yang mudah meledak-ledak, frustasi, dan sedikit senyum. Hal itu terjadi karena kondisi kota yang tak terlepas dari permasalahan kemacetan, polusi, banjir, kriminalisasi dan sebagainya. Maka dari itu, taman publik, taman kota, dan ruang publik (car free day) secara tidak langsung telah menjadi sebuah solusi untuk membuat warga kembali pada proses yang alami dan menikmati kotanya dengan senyumannya. Read More »
-7.562162
110.819238
November 23, 2011 – 5:33 pm
Categories: REKOMENDASI, SOSIAL, URBAN
|
Tagged bebas kendaraan bermotor, bundaran hotel indonesia, car free day, diskusi, jakarta utara, jalur sepeda, kelapa gading, kemayoran, komunitas sepeda, macet, monas, Polusi, sehat, senayan, sepeda, sunter
|
“keprihatinan ini muncul karena di negara yang sudah merdeka 66th tetapi tetap terjajah oleh ketidakteraturan tata ruang kota. Mereka itu adalah anak-anak yang kehilangan ruang untuk bermain di kotanya, di tempat tinggalnya, sebagaimana mestinya”.
Atas nama anak Indonesia,
Hari 17 Bulan Agustus Tahun 2011

Keceriaan anak dalam ruang terbatas
Anak-anak kecil itu tersenyum, tertawa dan bercanda dengan temannya. Mereka bercanda di atas sebuah permainan anak yang disebut “odong-odong”. Entah kenapa itu disebut Odong-odong?. Yang pastinya sebutan odong-odong itu sudah melekat di benak semua orang, termasuk anak-anak. Permainan komersial ini menjadi tempat permainan anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Permainan yang ditawarkannya pun beraneka macam; ada mandi bola, mobil ayun, kincir angin mini, kuda-kudaan. Permainan ini pun dilengkapi dengan musik anak-anak. Tentu hal yang sulit ditemui lagu anak-anak di jaman sekarang, tapi di odong-odong inilah kita masih bisa mendengarkan lagu-lagu anak yang pas untuk anak-anak. Sehingga anak-anak pun bisa bernyanyi dengan lirik lagu anak yang syarat pendidikan. Yang pasti bukanlah lagu dewasa.
Pernah suatu ketika ada orang tua memprotes kepada pemilik permainan ini (odong-odong) karena lagu yang diputar bukanlah lagu anak-anak. Orang tua anak itupun langsung meminta mengganti lagu itu dengan lagu anak-anak. Dan pemilik permainan ini pun langsung menggantikan musiknya dengan lagu anak yang sesungguhnya. Pemilik permainan ini pun melanjutkan mengayuh pedalnya agar permainan ini bisa terus bergerak. Maklum, segala jenis permainan ini digerakkan dengan pedal seperti menggowes sepeda. Sementara untuk musiknya menggunakan sumber energy dari air accu. Read More »
-7.562162
110.819238
August 17, 2011 – 8:55 am
Categories: LINGKUNGAN, SOSIAL, URBAN
|
Tagged anak, belajar, bermain, hari anak, jakarta, kemerdekaan indonesia, odong-odong, ramah anak, rtrw, sosialisasi, taman bermain anak, tata ruang kota
|
Oleh : Henry
menjelang pagi, karawaci (17/6)
“Dingin dan kesejukannya masih terbawa hingga kini, membuat kami selalu rindu untuk berkunjung kesana,di sebuah tempat keanekaragaman hayati yang masih terjaga. Dan Hutan itulah sebagai Penyangga Kehidupan ini”
Perjalanan sore itu (11/6) di kota hujan masih terekam dalam ingatan. Kota bogor ini memang sulit untuk dilupakan, sama seperti dengan kota-kota lainya yang penuh dengan keunikannya. Meskipun transportasinya di beberapa titik jalan sudah tertular oleh kota tetangga (metropolitan) yang penuh dengan kemacetan. Namun kepenatan ini lantas hilang dalam hitungan sekian detik ketika pandangan ini tertuju pada puncak gunung-gunung yang selalu berselimut kabut (Halimun). Udara dinginya pun sudah terasa mengenai indera peraba ini. Maka tidak perlu lagi menggunakan pendingin udara saat disana, lupakanlah pendingin udara buatan (AC). Jalan yang menanjak pun terus ditelusuri untuk mencapai taman nasional gunung halimun-salak. Sementara di kanan kiri jalan terdapat pemukiman penduduk yang cukup padat. Bentuk rumah pun beradaptasi dengan topografi alam. Dengan sedikit adanya kemiringan saja. Beberapa penjual makanan pun terlihat di sepanjang jalan. Tentunya mereka lakukan sebagai penopang perekonomian masyarakat sekitar taman nasional gunung halimun.
Hujan yang turun sore itu, membasahi jalan-jalan dan membuat udara menjadi semakin dingin. Tapi aktifitas masyarakat masih terlihat menggeliat seakan tak pernah padam. Lalu lalang kendaraan untuk menuju taman nasional gunung halimun pun tak pernah surut. Malah semakin ramai. Beberapa rombongan para biker juga terlihat sedang menelusuri jalan meskipun hujan tak kunjung mereda. Sore pun lantas berganti malam. Butuh waktu tempuh kurang lebih 30 menit dengan jarak +/- 13 km dari daerah Ciampea Bogor untuk sampai ke taman nasional gunung halimun. Dalam waktu tempuh itu,akhirnya sampai pada gerbang penyambutan yang tertulis selamat datang di taman nasional gunung halimun Bogor. Memasuki wilayah taman nasional ini kita di sajikan pemandangan alam yang istimewa. Di seberang sebelah kanan jalan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun masih berjajar rapi. Dan dari deretan pohon-pohon sedang diselimuti kabut tebal yang turun sore itu. Pohon itu juga menjadi teman setia berbagai fauna yang hidup disana. Dan tentunya pohon-pohon itulah yang berkontribusi sebagai penyangga kehidupan Read More »
-7.562162
110.819238
Batavia, 18 Mei 2011
Tempat yang tidak hanya menyajikan kehangatan semu tapi benar-benar membekas dalam memori yang panjang. Dan dari kesederhanaan, keakraban, keistimewaan ini yang terus melahirkan komunitas-komunitas yang berkualitas dan bernas.
Oleh: Henry
Mendengar kata angkringan/Hik membuat memori kita langsung tertuju pada kota Gudeg (Jogja) dan kota Budaya (Solo). Di kota itulah awal mula keberadaan Angkringan/Hik yang sangat dikagumi oleh seluruh kalangan mulai bawah, menengah hingga atas. Benar-benar egaliter menyatu tanpa ada pembedaan strata/golongan. Mereka berkumpul, beracengkrama, berdiskusi sambil menikmati berbagai macam olahan pangan hingga larut malam. Ini yang membuat angkringan tidak saja menjadi tempat pengisi perut tetapi juga pengisi ide-ide. Sehingga tak jarang, dari angkringan/Hik ini seringkali bermunculan ide-ide segar. Seperti halnya bermunculan komunitas blogger (www.angkringan.co.id) yang bernama angkringan dan radio komunitas Jogja (www.angkringan.web.id) yang juga mengambil nama angkringan. Mereka para komunitas ini telah kepincut dengan angkringan yang memiliki filosofi humanis. Dan pastinya komunitas itu terbentuk akibat seringnya mereka kongkow bersama di Angkringan. Telebih lagi, masih banyak lagi komunitas yang muncul dari sering kongkow di angkringan. Di Jogja warung ini di sebut angkringan yang berarti duduk santai sembari menikmati sego kucing beserta lauknya yang beraneka ragam (sate usus, tempe bacem, tahu bacem, bakwan, sate koyor, sate telur puyuh, sate ceker dll. Di Solo lebih di kenal dengan sebutan Hik yang berarti hidangan istimewa ala kampung ada juga yang menyebutnya hidangan istimewa ala kota (versi saya dan kawan2). Dari namanya memang berbeda, namun tidak ada perbedaan dari sisi panganannya dan suasananya. Benar-benar istimewa.
Angkringan/Hik bukan warung biasa, karena mampu memunculkan suasana dan keakrabannya yang tak tergantikan dengan jajanan apapun. Ciri khas angkringan terletak pada tenda yang dibuka menutup bagian belakang gerobaknya beserta tikar yang di gelar terbentang untuk duduk lesehan. Begitu juga dengan tungku air yang dimasak dengan arang, terkadang tercium aroma jahe gepuk yang keluar dari tungku tersebut. Itulah sebagian ciri-ciri angkringan yang sederhana. Paling enak makan dan minum sembari duduk lesehan dengan meja kecil (kadang tidak ada). Lebih enak lagi jika makan berada di alun-alun kota atau di tengah kota Solo-Jl. Slamet Riyadi, di Boulevard UNS bahkan di Malioboro-nya Jogjakarta. Mantab. Read More »
-7.562162
110.819238